Dinkes Pastikan Kirim Tim ke Keakwa

0
67
Timika,TimeX Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika akan mengirin tim khusus bersama petugas Puskemas Pembantu (Pustu) setempat yang disinyalir tinggalkan tempat tugas, guna menginvestigasi sekaligus memastikan dan menangani temuan kasus kasus gizi buruk dan gizi kurang, anak balitas di Kampung Keakwa, Distrik Mimika Tengah.
Marcelino Mameyao

Investigasi dan Tangani Kasus Gizi Buruk

Timika,TimeX

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika akan mengirin tim khusus bersama petugas Puskemas Pembantu (Pustu) setempat yang disinyalir tinggalkan tempat tugas, guna menginvestigasi sekaligus memastikan dan menangani temuan kasus kasus gizi buruk dan gizi kurang, anak balitas di Kampung Keakwa, Distrik Mimika Tengah.

Respon cepat Dinkes dengan mengutus tim yang dipimpin langsung Kepala Pustu guna mengkroscek data lapangan kedua kasus tersebut, sebab dikhawatirkan kasus yang dipublish media massa, adalah kasus serupa yang pernah terjadi September silam.

Demikian dijelaskan Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK) Dinkes Mimika, Marcelino Mameyao saat ditemui Timika eXpress di ruang kerjanya, Rabu (16/12).

Menurut Marcelino, data kasus gizi buruk dan gizi kurang dari data Dinkes yang telah disinkronisasi dengan data temuan petugas Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia (YPCII) sebagai implementator  program Biro Kesehatan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme Kamoro (LPMAK) di Bidang Kesehatan Ibu dan Anak dan Sanitasi Lingkungan, datanya tidak jauh berbeda.

“Jadi kita kirim tim kesana untuk pastikan data faktual di Keakwa soal temuan 3 kasus gizi buruk dan 31 kasus gizi kurang dari data YPCII yang menimpa balita usia 0-59 bulan. Kalau benar adanya akan kita tindaklanjuti ke kepala dinas,” jelasnya.

Masih menurut Marcelino, pada Agustus-September lalu, YPCI pernah melaporkan ke Dinkes terkait kasus gizi buruk dan gizi kurang dengan jumlah yang sama seperti yang diberitakan media massa.

Alhasil dari data penderita kasus tersebut, tersisa 2 kasus gizi buruk dan 29 gizi kurang, ini setelah petugas YPCII melakukan penanganan secara intensif.

Demikian, kata Marcelino, akurasi data kasus tersebut menurutnya rancu, sebab sumber informasinya berasal dari seorang bidan.

“Padahal seharusnya yang menentukan status seorang balita menderita gizi buruk atau tidak adalah tenaga kesehatan dengan basik ilmu pendidikan gizi,” jelasnya.

Namun, diakuinya, bahwa mangkirnya petugas Pustu Keakwa bisa memicu munculnya kasus gizi buruk dan gizi kurang.

“Bagaimana warga mau berobat sementara petugas pelayan kesehatan setempat tidak ada di tempat tugas. Penegasan kepada petugas medis untuk tidak tinggalkan tempat tugas di pedalaman selalu saja diingatkan. Dengan kejadian ini kita akan lebih tegas,” tandasnya. (a15)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.