RSUD Gelar Pelatihan Basic Trauma dan Cardiac Life Support

0
89

Perawat dan bidan sebagai bagian dari anggota tim kesehatan wajib memiliki ketrampilan dasar tentang Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS) sebagai kompetensi dasar.

Sebab BTCLS ini telah menjadi syarat mutlak untuk setiap perawat dan bidan yang bekerja di pelayanan kesehatan, termasuk Tim Kesehatan Haji. Sudah tentu dari 50 tenaga kesehatan di RSUD Mimika harus serius mengikutinya untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang lebih optimal.

RUMAH Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Mimika menggelar pelatihan Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS) bagi 50 tenaga profesional kesehatan yang bertugas di pusat layanan kesehatan setempat. Dasar terselenggaranya acara tersebut sesuai naskah perjanjian kerjasama antara RSUD dengan Global Indonesia Development, sebagai lembaga pelayan penunjang kesehatan sekaligus pengembangan SDM di bidang kesehatan.
Peserta terlibat dalam games dan diskusi

RUMAH Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Mimika menggelar pelatihan Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS) bagi 50 tenaga profesional kesehatan yang bertugas di pusat layanan kesehatan setempat.

Dasar terselenggaranya acara tersebut sesuai naskah perjanjian kerjasama antara RSUD dengan Global Indonesia Development, sebagai lembaga pelayan penunjang kesehatan sekaligus pengembangan SDM di bidang kesehatan.

Ketua Panitia Pelatihan BTCLS, Levina Tandiono menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan selama lima hari, dimulai Senin (18/7) dan berlangsung hingga Kamis (21/7) dilangsungkan di Ruang Pertemuan RSUD Mimika.

Kegiatan ini dihadiri langsung Direktur Global Indonesia Developmet, Priyanto.

50 peserta kegiatan diantaranya tenaga kesehatan, seperti perawat, dokter dan bidan, kesemuanya dari RSUD Mimika,” jelas Levina.

Ia menjelaskan, tujuan dari pelatihan BTCLS ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan para tenaga medis, terutama dalam menangani pasien – pasien yang membutuhkan perawatan kegawatdaruratan, untuk kemudian diaplikasikan sesuai tugas dilapangan.

Hal ini juga sesuai dengan tuntutan masyarakat agar tenaga medis atau perawat bisa lebih profesional.

“Sehingga, diharapkan risiko kematian akibat salah penanganan kondisi gawat darurat pertama bisa ditekan,” ujarnya.

Levina menambahkan, para peserta mendapatkan materi teori serta praktik dari tim ahli yang berkompeten di bidangnya.

Tim pengajar/tutor, diantaranya Dasir dan Indra Lubis asal Rumah Sakit Islam Jakarta Pondok Kopi,  Suselo dari RSUD Jayapura, Joko Yusmanto dari RSUD Dr.Karyadi Semarang.

Pelatihan BTCLS juga bertujuan meningkatkan kompetensi perawat dlaam menjawab tuntutan terakreditasinya RSUD Mimika menjadi rumah sakit tipe B.

Direktur Global Indonesia Developmet, Priyanto pada pembukaan kegiatan kemarin menjelaskan, BTCLS atau pemberian bantuan hidup dasar dalarn asuhan keperawatan gawat darurat dapat terjadi pada setiap sistem tubuh yang biasa terjadi akibat trauma atau gangguan sirkulasi pada sistem jantung paru (kardio-pulmonar).

Pemberian bantuan hidup dasar pada waktu dan cara yang tepat akan mengurangi angka kematian dan kecacatan. Bantuan hidup dasar diberikan untuk menyelamatkan jiwa dan meminimalisir kerusakan organ.

(BTCLS, katanya kini telah menjadi persyaratan mutlak untuk setiap perawat dan bidan yang bekerja di pelayanan kesehatan, termasuk Tim Kesehatan Haji. Perawat dan bidan sebagai bagian dari anggota Tim Kesehatan wajib memiliki ketrampilan dasar tentang BTCLS sebagai kornpetensi dasar. Henti nafas dan atau henti jantung bisa terjadi sepanjang rentang gawat darurat baik pre­hospital, in-hospital dan post-hospital.

Menurutnya, penanganan trauma sendiri prioritas masalah kecelakaan lalulintas, luka bakar dan keracunan.

“Pada pelatihan ini, kita juga berikan pre test tertulis dan materi   ruangan, menyusul pembagian kelompok guna melatih kemampuan menggunakan shock terapi,” jelasnya.

Hasil dari pelatihan ini, puluhan peserta akan mengantongi sertifikat langsung dari Kemenkes,”ungkap Priyanto.

“Bagi peserta yang tidak lulus dalam pelatihan ini akan mengikuti pelatihan ulang (remedial). Karena inti pelatihan ini adalah kedisipilinan dan pencapaian kompetensi dengan nilai harus mencapai 80,” tambahnya.

Sementara itu, instruktur asal Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, Dasir berharap pelatihan ini harus diikuti dan dipahami baik serta menyenangkan.

“Jadi yang utama harus ada rasa senang mengikuti pelatihan, setelahnya komitmen,”ungkap Dasir.

Harapnya pula, dari pelatihan ini yang tidak tahu menjadi tahu, yang bisa menjadi lebih bisa dan utamanya peralatan sarana-prasarana medik di RSUD Mimika yang canggih bisa dioperasikan secara baik.

“Kalau penanganan awalnya sudah bagus, sudah benar, maka hasil akhirnya akan bagus pula. Sedangkan kalau awalnya sudah salah, akibatnya bisa fatal,” tambahnya sembari berkata, dari pelatihan ini pastinya melahirkan perawat profesional yang dicintai masyarakat.

Pelatihan diselingi dengan games oleh instruktur guna memberi spirit kepada peserta sehingga tidak jenuh. (richardus kilo ona)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.