Guru dan Siswa SD YPK Ebenhaezer Tolak Kepsek Baru >>Penanggungjawab Aksi akan Diperiksa

0
140

Foto : Shanty/TimeX

DEMO-Anak-anak SD YPK Ebenhaezer didampingi guru saat dalam perjalanan menuju Kantor Klasis GKI hendak menggelar demo damai, Rabu (31/10).

 

TIMIKA,TimeX

Guru-guru Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Ebenhaezer secara sepihak melibatkan siswa SD sekolah setempat menggelar unjuk rasa di Kantor Klasis GKI Mimika di Jalan Ahmad Yani, Rabu (31/10).

Unjuk rasa dilakukan  sebagai bentuk penolakan terhadap keputusan pihak yayasan atas pergantian kepala sekolah  (Kepsek) baru, yang dinilai tidak sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).

Puluhan siswa dan guru dipimpin langsung Yoseph M Iha,S.Th selaku Kepsek SD YPK Ebenhaezer memulai aksi dengan berjalan kaki dari kompleks SD Ebenhaezer di Gorong-Gorong menuju Kantor  Klasis GKI.

Aksi spontan tanpa pengawalan aparat keamanan lantaran tidak adanya pemberitahuan terlebih dahulu kepada kepolisian setempat, sontak membuat kaget pihak yayasan dan pengurus Klasis GKI Mimika.

Sayangnya, aksi demo yang melibatkan siswa SD langusng disikapi pihak kepolisian, dengan langsung memulangkannya.

Sebelumnya, guru-guru dan puluhan siswa membentangkan spanduk bertuliskan, “Kami pendidik dan tenaga kependidikan SD dan SMP YPK Ebenhaezer menyatakan menolak Bapak Frits Padwa kembali memimpin SD YPK Ebenhaezer, menolak calon pengganti Kepala Sekolah SMP YPK Ebenhaezer, mencopot jabatan Kepala Sekolah TK YPK Ebenhaezer dan meminta pihak yayasan memberhentikan PSW YPK Kabupaten Mimika.

Selaku penanggungjawab aksi, Yoseph M Iha, kepada wartawan mengatakan, aksi demo ini merupakan langkah terakhir dari beberapa kali mediasi terkait pergantian Kepsek.

“Penolakan pergantian kepala sekolah ini pun dapat dukungan orang tua murid dan pihak komite sekolah, karena rencana pergantian dilakukan sepihak tanpa koordinasi dengan pihak sekolah.

Kami tetap tolak karena kepala sekolah yang baru yang hendak diganti ini pernah lakukan kasus asusila terhadap guru dan pernah mengambil barang-barang sekolah. Memang dia pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah SD YPK Ebenhaezer sebelumnya, tapi karena kasus sehingga diganti,” terang Yoseph.

Yoseph pun menilai keputusan pergantian Kepsek oleh pihak yayasan dalam hal ini PSW adalah keputusan sepihak dan tidak sesuai dengan AD/ART YPK di Papua.

“Kenapa orang lama yang dikembalikan, bukan orang baru atau orang lain. Ini ada apa?, kenapa PSW sampai dua kali ajukan surat pergantian. Kali pertama ajukan dibatalkan, kemudian ajukan lagi  sampai keluar SK,” terangnya.

Lanjut Yoseph yang baru dua tahun menjabat Kepsek SD YPK Ebenhaezer, bahwa dalam AD/ART dijelaskan masa jabatan Kepsek SD empat tahun, tapi kenapa mau diganti. Bahkan  ada kepala SMP yang sudah 9 tahun belum diganti, termasuk kepala TK juga sudah lama menjabat belum ada pergantian.

Ini saya pertanyakan. Saya tidak masalah kalau diganti, asalkan dengan dasar alasan dan keterangan jelas. Saya juga tidak mau nama baik saya jadi pembicaraan masyarakat, kenapa tiba-tiba diganti.

Meski dinyatakan aksi ilegal, namun kesepakatan aksi demo ini oleh pihaknya sudah disampaikan ke guru-guru dan orang tua, kata Yoseph.

 

Disayangkan Pihak Klasis

Sementara, Pendeta Yance Numberi selaku Wakil Ketua Klasis GKI Mimika yang membawahi pendidikan menyayangkan aksi spontan yang sangat mengagetkan dan mencoreng nama gereja, khususnya GKI di Papua.

“Kami sangat tidak setuju ada aksi apalagi sampai libatkan anak-anak didik. Harusnya ada konfirmasi baik. Harusnya ide, gagasan maupun aspirasi bisa disikapi tanpa harus mengorbankan anak-anak, sebab masalah pergantian kepala sekolah itu urusan pemerintah dan lembaga YPK,” tegasnya.

Ia menegaskan pula, tidak ada demo bagi guru-guru YPK.

“Makanya kami sangat kaget guru-guru kami demo libatkan anak-anak didik. Jangan sampai ada pepetah ‘guru kencing berdiri, anak-anak kencing berlari’. Jangan sampai besok-besok anak-anak protes dan demo guru-guru,” tegasnya lagi.

Yance menambahkan, dari aksi demo bila pihak kepolisian melihat ada yang tidak sesuai, maka silahkan proses hukum, karena pihak gereja sangat tidak respek, dan ke depan tidak boleh ada lagi aksi-aksi seperti ini.

Selanjutnya, Lewi Sawor, Ketua Klasis GKI Mimika menegaskan mutasi guru hingga Kepsek adalah pihak yayasan yang menangani civitas pendidikan setempat.

“Proses mutasi yang kami lakukan ini sudah dikoordinasikan dengan pusat. Kami beri jaminan bahwa anak-anak besok kembali sekolah seperti biasa dan masalah ini akan kami atasi,” tandasnya.

 

Penanggungjawab Aksi akan Diperiksa

Sedangkan Kabagops Polres Mimika, AKP Andyka Aer mengatakan, aksi demo damai tanpa ijin ini fatal apalagi melibatkan anak-anak usia sekolah saat jam KBM.

Karena itu, pihaknya akan memanggil dan memeriksa guru-guru sebagai penanggung jawab aksi.

Pasalnya, dalam rangka menyampaikan pendapat dimuka umum, aturannya sudah ada dan harus dipatuhi, yaitu tiga hari sebelum rencana aksi harus diberitahukan paling lambat 3 X 24 jam kepada pihak kepolisian, dan tidak boleh libatkan anak-anak kecil.

“Untk kasus ini kami akan lakukan pertemuan internal, setelah itu baru panggil kepala sekolah, pihak yayasan, klasis termasuk beberapa guru yang terlibat untuk dimintai keterangan,” tukasnya. (san)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.