RD Amandus: Seorang Nabi Harus Miliki Kasih

0
110
Foto: Antonius Djuma/TimeX RD Amandus Rahadat Pr

“Jadi kalau ada sesuatu yang tidak benar, nabi harus omong. Kalau tidak ada keadilan nabi segera berteriak mencari kebenaran”

TIMIKA,TimeX

Foto: Antonius Djuma/TimeX
RD Amandus Rahadat Pr

Pastor Paroki Katedral Tiga Raja RD Amandus Rahadat Pr menegaskan seorang nabi harus miliki kasih.

Pesan ini disampaikannya saat membawakan homili (khotbah) pada misa kedua minggu biasa ke IV, Minggu (3/3).

Ia menjelaskan dari bacaan pertama misa minggu biasa ke IV itu mengisahkan tentang Nabi Yeremias yang diutus dan dikuduskan. Pada bacaan Injil menggambarkan tentang nabi yang tidak gentar  terhadap setiap ancaman dan seorang nabi yang tidak dihargai karena latarbelakangnya orang biasa. Itulah Yesus Kristus.

Sementara dalam bacaaan kedua dijelaskan kualitas seorang nabi. Seorang nabi harus miliki iman dan harapan juga kasih.

Menurutnya seorang nabi harus miliki kasih agar dia mampu bertahan dalam setiap permasalahan yang dihadapi.

Hubungan dengan ini di hadapan umat Katedral RD Amandus melontarkan pertanyaan reflesi siapa nabi itu?

Untuk memudahkan umat bisa tahu ia menyebutkan ciri-ciri seorang nabi. Adalah orang yang mendapat sapaan Allah dan siap untuk melanjutkan panggilan-Nya. Nabi itu orang yang melihat masalah dan cepat memberikan tanggapan dan jawaban. Nabi itu seorang yang melihat ketidakadilan dan dia berani tampil menyuarakan kebenaran.

“Jadi kalau ada sesuatu yang tidak benar, nabi harus omong. Kalau tidak ada keadilan nabi segera berteriak mencari kebenaran,” tegasnya.

“Kalau di sebuah tempat, di sebuah masyarakat miskin, sebuah masyarakat gereja, sebuah masyarakat pemerintah terdapat hal-hal tidak beres/tidak benar, misalnya begitu banyak kebodohan dan pembodohan di masyarakat, begitu banyak ada pencurian, dan kemabukan, begitu banyak korupsi dan pembiaran aparat, kalau ada yang manipulasi katakanlah data pemilu, kalau ada kampanye bohong. Dan orang hanya melihat, mendengar meskipun tahu tapi tidak buat apa-apa hanya duduk membisu, kalau bicara di belakang-belakang. Itu artinya nabi tidak ada di tengah masyarakat bangsa dan negara ini,” paparnya.

Hari ini katanya Yesus masuk di tempat asalnya sendiri Nazareth. Sebagai nabi katanya Yesus melihat sesuatu yang tidak beres di kota asalnya Ia langsung frontal.

Dan seperti biasa orang yang mengambil sikap frontal pasti dilawan. Risiko seorang nabi adalah taruhannya nyawa.

Lawan katanya akan mencari jalan atas kesalahan untuk menjatuhkannya. Lawan akan cari kelemahannya. Mulai dari latarbelakang keluarganya, asal usul daerahnya dan masa lalu serta trak rekornya.

“Dari sini kita semua sadar bahwa banyaknya tantangan membuat banyak orang tidak berani menjadi nabi. Berhadapan dengan ketidakberes tidak mau buka mulut, tapi hanya diam seribu bahasa itu karena takut. Tidak berani buka suara karena takut kehilangan pekerjaan dan takut asap dapur hilang,” tegasnya.

Kaitan dengan ini, ia mengajak umat Katedral di setiap Kelompok Umat Basis (KUB) selalu siap disapa oleh pengurus gereja dalam minggu-minggu ini menjadi Yeremia di paroki dalam pelayanan. (tio)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.