Petani Naena Muktipura SP 6 Tolak Pasokan Sayur dari Luar Timika

0
102
Foto: Kristina/TimeX SERAHKAN – Thadeus Kwalik saat menyerahkan bantuan bibit kepada para petani SP 6, Senin (1/4).

TIMIKA,TimeX

Anggota Komisi C DPRD Mimika Thadeus Kwalik dalam tatap muka dengan tiga kelompok Tani Kampung Naena Muktipura SP 6, yakni Kelompok Tani Irja, Tirto Arum dan Tani Jaya, Senin (1/4) malam dalam mengisi masa reses pertama Tahun 2019.  Dalam pertemuan tersebut para ketua kelompok tani memaparkan apa yang menjadi harapan dan keinginan mereka. Salah satunya adalah membahas agar pemerintah bisa melarang jangan ada pasokan sayuran dari luar Kota Timika.

Foto: Kristina/TimeX
SERAHKAN – Thadeus Kwalik saat menyerahkan bantuan bibit kepada para petani SP 6, Senin (1/4).

“Petani lokal juga banyak dan kami di SP 6 ini mayoritas adalah petani, kalau sudah ada yang lokal kenapa harus datangkan dari luar Timika. Tolong jangan ada impor sayur dari luar, kami mau pasarkan dimana jika sudah banyak dari luar Timika?” kata Sumarno, Ketua Kelompok Tani Irja di sela-sela reses.

Menurut mereka lumbungnya pertanian ada di SP 6, produksi sayur-mayur juga banyak.

“Kami tidak minta banyak, kendala kami adalah kami mau jual sayur kami ke mana kalau di pasar sudah banyak yang di impor dari luar Timika. Kami minta tolong untuk pemerintah usahakan semua bisa disamaratakan, kami minta bisa menjual hasil sayuran kami ini ke Pangansari atau PTFI, kami juga mau membantu perekonomian Timika lebih baik lagi,” ujarnya.

Keluhan lainnya mengenai pupuk bersubsidi. Galut, seorang petani dari Kelompok Tirto Arum mengeluhkan bahwa pihaknya selalu kekurangan pupuk.

“Penyaluran pupuk juga agak rewel untuk 2019, juga kami belum terima pupuk, kadang juga tidak cukup untuk pertanian di sini. Kami minta disamaratakan dengan SP yang lain. Kami seolah-olah dianak tirikan, kami minta tolong pengadaan pupuknya disalurkan dengan baik, jika terlambat otomatis menghambat proses pertanian di sini,” ungkapnya.

Ia menjelaskan pupuk yang biasa diterima adalah pupuk bersubsidi di mana pihaknya membayar hanya setengah dari harga aslinya, dan jika pupuknya sudah disalurkan, tiap kelompok tani akan membayar ke pengumpul di SP 6, kemudian uangnya dimasukkan ke Hj. Bachroni SP 4, selaku pemasok pupuk yang dipercayakan oleh pemerintah.

Gabriel Tsonme juga menambahkan bahwa dirinya selaku petani lokal menginginkan agar pemerintah bisa memperhatikan petani lokal dengan membuat pasar murah, mungkin sekitar 2 atau 3 kali dalam satu bulan. Hal ini katanya bisa membantu proses penjualan hasil tanaman lokal seperti ubi.

“Kami minta buatkan pasar murah rutin sehingga proses pemasaran bisa merata, kami juga bisa menjual hasil kebun kami,” ujarnya.

Untuk itu, Thadeus Kwalik mengatakan bahwa untuk tanaman lokal seperti ubi-ubian harusnya bisa dibeli oleh pemerintah, khususnya Dinas Peternakan yang juga membangun peternakan kandang babi di SP-6.

“Untuk babi di kandang SP 6 ini harus membeli hasil pertanian masyarakat lokal di sini untuk kasih makan peternakan babi, jangan beli lagi dari luar,” serunya.

Semua keluhan dari masyarakat Thadeus tamping pada saat pembahasan anggaran dirinya akan menyampaikan semua keluhan masyarakat tersebut dalam pembahasan tingkat dewan.

“Saya akan perjuangkan dan semoga semuanya bisa terjawab. Karena apa yang sudah diusulkan oleh para petani di sini merupakan sebuah masalah yang harus diselesaikan supaya perekonomian kita semakin baik,” ungkapnya.

Diakhir acara reses, Thadeus Kwalik memberikan tiga karung pupuk NPK dan beberapa bungkus bibit sawi kepada para petani. (a33)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.