Mengenal Tabitha Christine Peraih Nilai UN Tertinggi se-Mimika, Selama Belajar Target Meraih Nilai UN 90

0
272
Foto: Kristina/TimeX FOTO BERSAMA- Tabita Christine Aya Kanaya Siagian foto bersama kedua orangtuanya, Rabu (29/5).

Lulus Ujian Nasional (UN) dengan nilai tertinggi setelah belajar selama enam tahun tingkat SD, tiga tahun saat di bangku SMP maupun SMA-SMK sudah  menjadi impian semua siswa-siswi termasuk kedua orangtua maupun pihak sekolah.

Foto: Kristina/TimeX
FOTO BERSAMA- Tabita Christine Aya Kanaya Siagian foto bersama kedua orangtuanya, Rabu (29/5).

Pengumuman hasil UN tingkat SMP secara nasional termasuk Kabupaten Mimika barusan dilaksanakan pada Rabu (29/5).

Di Mimika, satu dari 3.574 peserta UN atas nama Tabitha Christine Aya Kanaya Siagian, siswi asal SMP YPPK Santo Bernardus Timika meraih nilai UN tertinggi rata-rata 94,9 dari keseluruhan 379,7.

Tabitha yang ditemui Timika eXpress di kediamannya di Jalan Cenderawasih kompleks Petrosea  usai menerima hasil UN nampak ceria pada Rabu (29/5).

Gadis manis asal Batak kelahiran Timika, 22 November 2004 ini saat bertemu masih mengenakan seragam baju batik sekolah motif Papua dan rok biru.

Tamatan Taman Kanak-kanak Yosua dan SD Sion ini menuturkan hasil yang diperolehnya bukti sebuah usaha dan kerja kerasnya dijalani selama tiga tahun.

“Persiapan saya waktu mau UN, saya ikut les. Kemudian saya pelajari materi-materi yang ada dan perbanyak latihan soal-soal UN,” tutur Tabita.

Tabitha selama mengikuti proses belajar persiapan hadapi UN punya target mendapat nilai rata-rata 90,00.

“Target saya dapat 90 ternyata Tuhan kasih tambah menjadi 94,9,” tuturnya gembira.

Wanita berdarah Batak ini semasa masih SD hingga SMP selalui jawara di kelas.

“Metode pembelajaran sama dengan siswa-siswi lain. Di mana saya belajar dengan giat, kemudian lebih ke latihan soal, hanya saja yang membedakan saya dengan yang lain mungkin komitmen dan saya lebih motifasi diri saya, bahwa saya pasti bisa. Targetnya itu betul-betul dapat karena motifasi dalam dirinya juga ada,” kisah Tabita.

Tabita mengisahkan salah satu metode selama belajar di sekolah menyimak secara saksama apa yang diterangkan oleh guru, mencatat apa yang penting sehingga bisa permudah untuk belajar.

Ia lebih suka mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris, karena dua mata pelajaran itu menarik dan menantang baginya.

Gadis berkacamata ini menuturkan dengan perolehan nilai cukup tinggi ikut memudahkannya masuk SMA Kolose Santo Yusuf Malang tanpa tes.

“Puji Tuhan saya lulus tanpa tes, di mana waktu itu persyaratannya dikirim via online dan dijawab bahwa saya tinggal masuk sekolah,” tuturnya dengan wajah ceria.

Pada 4 Juli 2019 ia sudah berangkat ke Kota Malang bersama kedua orangtuanya. Selanjutnya masuk asrama pada 10 Juli dan mulai aktif sekolah 13 Juli 2019 mendatang.

Tabitha yang saat itu didampingi kedua orangtuanya bercita-cita menjadi seorang psikolog. Selain merasa bangga atas hasil belajarnya, menjadinya beban harus berusaha pertahankan prestasi.

“Tentunya saya harus pertahankan nilai saya, dan saya rasa beban juga semakin berat karena pertahankan harapan yang sudah diberikan oleh orang terdekat khususnya orangtua itu tidak mudah,” ungkapnya.

 Teknologi itu bisa bantu kita

Menyinggung mengenai perkembangan teknologi sekarang menjadi tantangan anak-anak millenial ia dengan enteng menjawab sejauh ini dirinya manfaatkan teknologi untuk membantunya belajar. Misalnya menghadapi ujian ia pelajari video-video di Youtube untuk menambah pengetahuan.

“Saya manfaatkan dengan baik dan menurut saya belajar dengan teknologi sekarang justru mempermudah kita. Dan yang harus kita tekankan dalam diri adalah teknologi itu tidak merusak, tapi bisa membantu kita, jika kita menggunakannya dengan hal yang positif,” katanya.

Ia memandang teknologi internet itu bukan hanya dijadikan untuk senang-senang tetap bisa jadi bahan motivasi menemukan hal-hal baik dan berguna.

Anak semata wayang dari pasangan Parman Siagian dan Riyana Saragin ini pernah mengharumkan nama Kabupaten Mimika dan Provinsi Papua dalam ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) hingga mendapat passing grade lima besar.

Kesempatan itu ia mendoakan agar Tuhan senantian selalu memberikan kesehatan buat ayahnya yang bekerja sebagai karyawan swasta dan ibunya berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris SMAN 1 Mimika.

“Saya harap Tuhan memberikan kesehatan selalu kepada kedua orangtua saya, panjang umur sehingga bisa melihat kesuksesan saya. Karena ini semua saya mau persembahkan untuk kedua orangtua saya yang luar biasa,” katanya.

Bukan anak manja

Ayah Tabitha, Parman Siagian menuturkan putrinya hobby membaca buku ini termasuk anak baik. Meskipun anak tunggal namun tidak ada kesan manja.

Membuatnya bangga anaknya bisa mengatur waktunya sendiri, misalnya sepulang sekolah mengganti pakaian langsung cuci tangan, makan kemudian langsung belajar.

Bahkan saking tertibnya mengatur waktu sampai dirinya bersama sang istri kadang merasa takut Tabitha tidak punya waktu untuk bermain di luar rumah.

“Jadi kadang sakin giatnya dia belajar, kita orangtua yang khawatir untuk jangan terlalu fokus belajar, sehingga sering kami ganggu-ganggu dia,” tuturnya.

Ia bersyukur Tabitha bisa meraih prestasi yang sangat membanggakan.

“Tentu kami sangat bangga, semoga Tuhan makin limpahkan dia dengan kepintaran, kebijaksanaan supaya bisa mengharumkan nama Kabupaten Mimika ini, Provinsi Papua dan Indonesia, bahwa anak kami bisa membuktikan bahwa Papua bisa,” harapnya.

Sebagai orangtua sering kontrol dalam penggunaan HP. Tabitha hanya bisa ijin menggunakan HP secara full di hari Sabtu dan Minggu.

“Kalau hari biasanya Tabitha boleh menggunakan HP tetapi harus ijin, dan tidak boleh digunakan untuk bermain game, kalau untuk belajar tidak apa-apa,” tuturnya.

Selain merasa bangga ia bersyukur putrinya sosok anak dengar-dengaran dan mandiri.

“Puji Tuhan dia juga aktif di gereja. Sering ikut lomba membaca indah Alkitab dan baru-baru ini pada waktu Paskah dia mendapat juara satu lomba di GKI Pniel Jalan Baru,” kenangnya.

Ia aktif di Organisasi Intra Sekolah (OSIS). Bahkan pernah menjadi Wakil Ketua Osis. Saat perpisahan angkatan 31 Tabitha dipercayakan mengemban tugas sebagai ketua panitia.

“Kami juga sering kalau dia juara kami beri apresiasi berupa hadiah yang sesuai dengan hobbynya. Misalnya kami belikan dia gitar, dan kami ajarkan dia untuk jangan lihat dari nilai suatu hadiah namun bagaimana ketulusan kami dalam memberikan dia hadiah,” ujarnya.

Tabitha di mata Kepala Sekolah

Saur Simbolon Kepala SMP YPPK Santo Bernardus  mengakui bangga atas prestasi yang diraih anak didiknya. Tabitha banyak membawa nama SMP YPPK Santo Bernardus hingga ke kancah nasional.

Ia berpesan Tabitha tetap giat belajar jangan lengah dan selalu andalkan Tuhan.

“Kami dari sekolah merasa bangga, namun untuk siswa kami meraih nilai tertinggi dan bagi saya seluruh siswa saya sudah menjadi pemenang karena mereka sudah melewati jenjang SMP,” kata Saur kepada Timika eXpress di ruang kerjanya, Rabu (29/5).

Ia mengatakan untuk siswanya dari 265 orang semua mengikuti UN lulus 100 persen.

“Sesuai dengan arahan saya tadi waktu bersama dengan orangtua siswa, bahwa sekalipun anak-anak berhasil dari tingkat SLTP bukan berarti sudah selesai perjuangannya, kini mereka akan memulai perjuangan yang baru,” katanya.

Saur melanjutkan bahwa perjuangan yang baru adalah perjuangan yang lebih berat supaya orang orangtua lebih memberikan perhatian dan dorongan bagi anak.

“Selamat buat anak-anak SMP YPPK Santo Bernardus tahun ini lulus. Tetapi hasil yang ada jangan membuat kita lengah dan santai tetapi harus terus berjuang menggapai hasil yang lebih baik,” ungkapnya.

Atas prestasi Tabitha Siagian, Saur menilai itu semua berkat perjuangan dalam tekun belajar, mengikuti les dan memperbanyak belajar latihan soal.

Sementara Manto Ginting Kepala Seksi Kurikulum dan Ketua Panitia Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika turut merasa bangga Tabitha Siagian siswi SMP YPPK Santo Bernardus Timika sebagai peraih nilai UN tertinggi se- Kabupaten Mimika.

“Benar hari ini (Rabu-red) rata-rata SMP yang ada di Mimika mulai umumkan hasil kelulusan. Dan untuk peraih nilai tertinggi adalah siswi dari SMP YPPK Santo Bernardus dengan jumlah nilai UN keseluruhan 379,7 kemudian nilai rata-ratanya 94,9,” jelas Manto kepada Timika eXpress melalui pesan WatsAppnya, Rabu (29/5).

Nilai yang diraih oleh Tabitha merupakan tertinggi dalam semua jenis UN baik Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) maupun Ujian Nasional Berbasis Kertas dan Pensil (UNKP).

Ia menyebutkan peserta UN SMP di Kabupaten Mimika secara keseluruhan yang lulus 3.574.

Ia ucapan selamat kepada seluruh siswa-siswi SMP yang sudah lulus.

“Saya berharap semua harus bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, untuk mengejar cita-citanya bisa tercapai dan kelak anak-anak ini bisa membahagiakan orangtua dan juga membanggakan Kabupaten Mimika,” tutupnya. (kristin rejang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.