Dokter Gadungan Juga Mengaku Mantan Perwira TNI-AL Dipenjara

0
168
Foto : Rina/TimeX GIRING-Ipda Lexi Mediyanto, Kanit 3 Tipikor Reskrim Polres Mimika (kana) saat menggiring HS untuk mengikuti press release di Kantor Pelayanan Polres Mimika, Jumat kemarin.
Foto : Rina/TimeX
GIRING-Ipda Lexi Mediyanto, Kanit 3 Tipikor Reskrim Polres Mimika (kanan) saat menggiring HS untuk mengikuti press release di Kantor Pelayanan Polres Mimika, Jumat kemarin.

TIMIKA, TimeX

Sepandai-pandainya tupai melompat pasti jatuh juga. Peribahasa ini pas dialamatkan kepada Hadi Susanto.

Sepak terjangnya sebagai dokter gadungan, juga pengakuannya sebagai mantan perwira TNI-AL dan merupakan dokter pada Rumah Sakit TNI-AL Dr Minto Hardjo, kini berakhir dipenjara.

Pria berusia 62 ini dibekuk jajaran Polres Mimika atas laporan tiga pasien yang tidak puas dengan jasa pelayanan Hadi pada September lalu.

Alhasil, dari pengembangan penyelidikan dan penyidikan   kepolisian setempat, terungkap Hadi Susanto bukanlah seorang dokter. Dia hanya lulusan D-3 Analisis Kesehatan

Namun, dari pengakuan Hadi kepada pasien maupun masyarakat kebanyakan di Mimika, dia  adalah lulusan Strata Satu (S1) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Tidak sampai disitu, Hari juga mengaku lulusan S3, bahkan pernah bekerja di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Hadi mengumbar kebohongan selama dipercaya mengelola Klinik B-Care sejak tahun 2012 hingga 2018.

Selama di klinik tersebut, Hadi melaksanakan praktik layaknya seorang dokter mulai pengambilan sampel darah, memasang inpuls, serta menyuntik pasien.

Meski Klinik  B-Care yang terletak di Jalan Budi Utoma, Timika telah ditutup 2018 lalu, Hadi tetap menjalankan praktik dokter secara terselubung, sebelum akhirnya ditangkap polisi di rumah kosnya di Jalan Matoa, pada 2 Oktober 2019 lalu.

saat ditangkap, dari tangan Hadi polisi menyita berbagai alat kesehatan, dan sejumlah kartu identitasnya yang tertulis status pekerjaannya adalah dokter.

Kompol I Nyoman Punia selaku Waka Polres Mimika, saat gelar press release di Kantor Pelayanan Polres Mimika, Jumat (18/10) mengungkap, untuk membuktikan pengakuan Hadi, pihaknya kemudian meminta keterangan resmi dari pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Mimika dan IDI Provinsi Papua.

“Ternyata jawaban dari IDI, Hadi bukan bahkan tidak terdaftar sebagai anggota IDI. Anehnya, setiap ditanya keabsahan profesinya, dia selalu bilang ijazahnya terbakar. Dan kita dalami terus akhirnya benar bahwa dia (Hadi) bukan dokter,” terang I Nyoman.

“Dia sudah ambil tindakan dengan berani menyuntik pasien dengan hanya pakai vitamin,” ujarnya.
Atas tindakan paslu Hadi dijerat Pasal 77 jo Pasal 73 (1) Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, dan atau Pasal 378 KUHP dengan hukuman penjara paling lama lima tahun dan atau denda Rp150 juta.

Ipda Lexi Mediyanto, Kanit 3 Tipikor Reskrim Polres Mimika menjelaskan, tiga pelapor yang mengadukan Hadi lantaran pernah mendapat tindakan dan perawatan medis di Klinik B-Care  langsung oleh pelaku.

“Setelah terima laporan kita kembangkan, dan kita amankan yang bersangkutan,” tambah Lexi.

Adapun selama pelaku melaksanakan praktik dokter di Klinik B-Care, statusnya sebagai tenaga analis, namun melebihi wewenang dan bertindak layaknya seorang dokter.

Sebelum terkuak kasus ini, pelaku dipercaya sepenuhnya bekerjasama, bahkan pemilik klinik tersebut menyerahkan pengelolannya kepada Hadi.

Dengan terkuaknya kasus ini, pemilik Klinik mengambil alih dan melakukan perubahan termasuk manajerialnya sekaligus.

“Dari Klinik B-Care, berubah nama jadi Klinik Mitra Medika. Baik dokter maupun perawat yang bertugas di klinik dengan nama baru tersebut, semuanya mengantongi ijin resmi atau lisensi dari instansi terkait. Dan sejak itu pelaku tidak lagi ikut campur dalam urusan klinik,” tegasnya.

Sambung Lexi, dari hasil kros cek dengan pihak IDI dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika, tidak ada nama pelaku mengurus atau mengajukan ijin praktek.

Adapun motif pelaku terkait tindakan medis, dia berpengalaman dan mampu melaksanakan praktek meski ilegal.

Terungkap pula, selama mengelola Klinik B-Care,  pelaku juga melayani pasien di rumah-rumah.

Salah satu warga yang pernah berobat dan ditangani pelaku, yaitu Abdul Rohim.

Abdul saat berobat merasa tertipu dan mengetahui ada kejanggalan saat pelaku melakukan tindakan medis.

Tidak hanya itu, dalam penanganan medis, pelaku pun pernah menjalin kerjasama terkait pengadaan alat kesehatan (Alkes).

Hanya saja kerjasama tidak berjalan lanaran korban yang adalah pasien pelaku dalam kondisi sakit.

Korban dari tiga pelapor terus mencari tahu latar belakang pelaku.

Korban menaruh curiga lantaran pelaku lebih dahulu menyimpulkan penyakit tanpa diagnosa pemeriksaan secara medis.

Demi meraup untung, pelaku pun bersilat lidah, yakni mempengaruhi setiap pasien untuk berobat di klinik B-Care karena peralatan medis yang digunakan serba canggih.

Sementara itu, sejumlah barang bukti (BB) yang diamankan dari pelaku yang resmi tersangka, sebuah tas merek zegari bertuliskan B-Care, sebuah stetoskop warna hitam merek litmann, satu alat pengukur tensi otomatis merek omron, enam buah jarum suntik dan tabung, empat buah jarum suntik, satu botol plastik berisi kapas alcohol, lima sachet kapas alcohol, satu buah alat pengukur oksigen dalam darah merek pulse oximeter, dan 16  buah tabung medis tempat darah.

Diamankan pula satu botol benodon, satu kartu klinik B-Care, satu lembar struktur klinik B-Care, satu rangkap surat kerja sama investasi klinik B-Care.

Satu lembar fotocopy KTP atas nama Hadi Susanto pekerjaan dokter, SIM A dan SIM C atas nama Hadi Susanto pekerjaan dokter. Dan satu kartu nama DR Hadi Susanto pada RS. TNI AL Dr. Minto Hardjo.

Diamankan pula satu rangkap hasil pemeriksaan laboratorium pasien atas nama Abdul Wahid tertanggal 23 Desember 2016 yang dikeluarkan Klinik B-Care.

Satu rangkap fotocopy salinan akta perjanjian Nomor 11-antara Tn. Abdul Wahid Achberia dan Tn. Dokter Hadi Susanto tertanggal 28 Desember 216 yang dibuat dihadapan Notaris Aji Susanto, SH., MK.n.

Disamping itu, Rosyid selaku pemilik Klinik Mitra Medika menambahkan sejak 2018 lalu, Klinik B-Care sudah tutup dan berganti nama Klinik Mitra Medika.

“Bukan hanya nama tetapi kepemilikan, nama klinik serta managemen pelayanan semuanya baru,”jelasnya.

Untuk diketahui, pemilik Klinik B-Care adalah Nurul Aini dan saya (Rosyid-red) adalah pemilk baru yang saat ini mengelola Klinik Mitra Medika, dan tidak ada sangkut pautnya dengan Hadi Susanto.

 

Dinkes Tidak Pernah Berikan Izin

 

Sementara itu, penegasan juga dilontarkan Reynold Ubra, Sekretaris Dinkes Mimika, bahwa pihaknya tidak pernah memberikan izin praktik kepada Hadi Susanto, dokter gadungan.

“Yang jelas kalau tidak memiliki ijazah dokter, dan Surat Tanda Registrasi (STR) pengakuan dari IDI, jelas bukan dokter, apalagi kalau tidak pernah ajukan permohonan izin praktik,” tegas Reynold saat menghubungi Timika eXpress via ponselnya tadi malam.

Menurut Reynold,  Hadi Susanto memang mengaku sebagai dokter, tapi tidak menunjukan bukti identitas seorang dokter.

“Kami juga sudah cek ke pengurus IDI Mimika, dan ternyata dia (Hadi) bukan dokter dan tidak sebagai anggota IDI,” jelasnya.

Lanjut Reynold, saat Klinik B-Care masih beroperasi, pihak Dinkes pernah lakukan inspeksi mendadak pada klinik yang dikelola dokter gadungan tersebut.

Namun, saat pemeriksaan, Hadi mengaku kepada tim Sidak Dinkes kalau dia tidak memberikan pelayanan medis sebagai seorang dokter.

“Dia mengaku yang punya klinik, tapi dokter lain yang melayani di situ. Waktu itu di depan klinik juga tidak ada papan nama dokter praktik, biasanya itu ada. Tapi kalau dia berani lakukan pelayanan kepada pasien sebagai seorang dokter, itu tindakan kejahatan dan harus diproses hukum,” ungkap Reynold memuji  kinerja kepolisian setempat.

Bahkan saat Sidak terungkap penanggungjawab klinik tersebut adalah istri Hadi yang juga bukan tenaga medis.

Ia pun mengkritisi bahwa keberadaan Klinik B’Care waktu lalu boleh dikata ilegal karena pendiriannya tidak prosedural.

“Kilinik itu memenuhi syarat dan punya ijin resmi, tapi yang kelolanya tidak resmi,” tegasnya lagi.

Menurut Reynold, pihak Dinkes tidak pernah keluarkan izin untuk Klinik B-Care, melainkan hanya memberi rekomendasi izin usaha dan izin sanitasi lingkungan.

“Yang keluarkan izin itu Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu karena satu pintu,” ungkapnya.

Dari tindakan dokter gadungan terhadap para pasien yang telah ditangani selama ini, Reynold mengkhawatrkan kondisi pasien, karena dampaknya bisa dirasakan 10 sampai 15 tahun ke depan. “Apalagi dia sampai suntik efeknya bisa fatal karena injeksi berhubungan langsung dengan organ tubuh,” tukasnya. (aro/epy)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.