Kisah Mistis Dibalik Destinasi Wisata di Pulau Kei, Patung Naga di Ohoi Faan dan Kolam Renang Evu (Bagian -1)

0
170
Foto: Yosefina Dai Dore/TimeX KOLAM RENANG-Seorang anak salto ke dalam Kolan Renang Evu beberapa waktu lalu.

Pulau dengan sejuta pesona, kata yang tepat untuk menggambarkan Kei, salah satu pulau kecil dari gugusan pulau lain di wilayah Tenggara Kepulauan Maluku.
Pulau dengan lebih 70 destinasi wisata ini memiliki kisah mistis yang menarik untuk diketahui. Berikut kisahnya

Laporan: Yosefina Dai Dore/ Timika eXpress

Foto: Yosefina Dai Dore/TimeX
KOLAM RENANG-Seorang anak salto ke dalam Kolan Renang Evu beberapa waktu lalu.

KECANTIKAN Kei yang eksotis, pulau yang bersih, indah dengan penduduknya yang ramah dan bersahaja ini saya dapati ketika mengunjungi Pulai Kei Kecil selama 8 hari sejak 27 Oktober hingga 4 November, bersama rombongan dari Timika sebanyak 300an orang untuk mengikuti acara syukuruan pelantikan John Rettob sebagai Wakil Bupati Mimika.

Hari kedua di Pulau Kei, Senin (28/10), tidak ada kegiatan dari panitia acara sehingga kami diberi kebebasan untuk pelesiran ke tempat-tempat wisata di Kei Kecil.

Bersama Anna Balla kami pergi ke Kampung Evu. Di sana ada kolam renang yang sumber airnya langsung dari mata air yang mengalir ke seluruh kampung di Pulau Kei Kecil.
Tapi sebelumnya kami mengunjungi rumah adat (amalir loor) di Kampung Ohoi Faan. Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami, sehingga setelah sarapan pagi kami diantar seorang mama, warga setempat, yang saya lupa tanya namanya ke rumah adat tersebut. Kami hanya berjalan kaki, setiba di depan rumah adat mama itu mengucapkan permisi dalam bahasa Kei dan kamipun dipersilahkan masuk.

Rumah adat itu berbahan dasar kayu dengan atap dari daun rumbiah dan kayu.
Menurut penjelasan mama itu semua bahan dan konstruksinya menggunakan bahan tradisional seperti tali ( betir) untuk mengikat atap (ravat) menggunakan tali alami atau dari hutan. “Semua kegiatan yang berhubungan dengan adat termasuk bermusyarawarah untuk masalah-masalah adat dilakukan di rumah adat ini,” jelasnya.
Setelah itu kami melihat patung burung rajawali dan patung ular naga berwarna kuning keemasan yang letaknya tidak jauh dari rumah adat, tepat di depan jalan raya.
Patung ular naga tampak pecah di bagian depannya. “Ada orang yang lempar,” kata mama itu.
“Menurut orang yang punya kemampuan supranatural, patung naga itu memiliki roh lembut, yang baik. Kalau kita datang dengan maksud baik roh naga ini akan menjaga kita dari orang-orang jahat. Wujud asli naga ini kecil warnanya hijau muda” katanya.
Setelah mendengarkan penjelasan, saya pun berpose di depan rumah adat dan patung naga serta menyiarkan langsung melalui akun facebook.
Sesudah itu kami menggunakan ojek menuju ke Pasar Langgur. Di sana kami naik angkutan umum ke Kampung Evu dengan menempuh perjalanan sekitar 35 menit.
Setiba di sana kami langsung menuju kolam renang Evu.
Nampak sebagian orang mandi di situ, ada juga yang menikmati keripik pisang, pisang goreng embal serta tumisan siput yang sangat nikmat di deretan gazebo-gazebo dipinggir kolam itu.
Kolamnya cukup dalam sekitar 2 meter, saya tidak berani mandi, meskipun di situ disiapkan beberapa ban bagi para pengunjung yang tidak bisa berenang.
Kolam Evu merupakan salah satu destinasi wisata yang cukup terkenal di Pulau Kei.
Setiap traveler yang berkunjung ke Pulau Kei pasti menyelipkan destinasi ini ke dalam itinerary mereka, begitu juga saya.
Menurut pengakuan Angelus Elmas, warga setempat berendam di kolam kebanggaan masyarakat Kei Kecil, bisa menyembuhkan berbagai penyakit. “Asal yakin saja, bisa sembuh,” kata Angelus.
Selain berfoto dan menikmati berbagai macam makanan yang dijual di sekitar kolam renang, saya ingin mencari tahu lebih jauh tentang kolam renang itu dari warga lokal.
Saya percaya kalau setiap tempat pasti memiliki sejarah atau cerita yang menarik untuk disimak.
Saya pun mencari warga lokal yang bisa menceritakan sejarah mata air dan kolam renang tersebut.
Dari seberang kolam, saya melihat seorang pria berbadan besar bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek berwarna hitam. Badannya nampak basah, sepertinya dia habis berendam.
Dia sedang duduk di salah satu gazebo ditemani oleh alunan musik Maluku segelas kopi hitam dan sepiring pisang goreng embal. Tempat tinggalnya tidak jauh dari kolam itu.
Saya pun menghampiri lelaki tersebut.
Namanya Kenny Sirken, saya menyapanya dengan Kakak Kenny.
Dari pria inilah saya mendapat kisah cerita Kolam Evu.
Sejarah Kolam Evu
Zaman dahulu, ada seorang moyang dari marga Elmas yang sedang berburu di hutan Warden yang lokasinya berada di antara Desa Evu dan Desa Ngabub dengan kedua anjingnya yang bernama Ngoak dan Wii.
Ngoak bertugas untuk mencari mangsa sedangkan Wii bertugas untuk menangkapnya.
Ketika mangsa sudah terlihat, maka Ngoak akan berbunyi dan Wii lah yang akan mengejar untuk menangkapnya.
Jika sudah tertangkap, maka Wii akan memberikan tanda sebagai kode kalau mangsa sudah tertangkap.
Kelelehan karena berburu sejak pagi, kedua anjing itu pun kehausan. Moyang dari marga Elmas ini lantas mencari air untuk anjingnya.
Di tengah perjalanan, moyang ini melihat sebuah Walang (pondok) dan iapun mampir ke pondok itu.
Setibanya di sana, ia berjumpa dengan seorang nenek yang seluruh badannya terkena penyakit kulit. Kepada nenek itu ia meminta dengan sopan, “Nek, apakah kamu mempunyai air? Anjing-anjingku kehausan karena berburu dari pagi.”
Orang dulu menyimpan air dalam bambu. Mendengar permohonan itu, sang Nenek memintanya untuk berjalan menuju bambu dan melihat apakah masih ada air di dalamnya atau tidak. Moyang Elmas itu pun berjalan ke arah bambu yang ditunjuk oleh sang Nenek.
Namun sayang, persediaan air di bambu tersebut ternyata sudah habis.
“Maaf nek, tapi airnya sudah habis.” Ucap moyang Elmas dengan nada yang sedikit kelelahan. “Kalau begitu, bawa kedua anjingmu ke sini dan aku akan memberikannya air.” Jawab nenek yang membuat moyang Elmas tersenyum gembira.
Setelah kedua anjing itu berada di hadapannya, nenek itu mengangkat kedua tangannya. Dari ketiaknya keluarlah air yang sangat jernih. Air itulah yang menjadi air minum bagi kedua anjing tersebut.
Usai memberi air kepada kedua anjing tersebut, nenek itu berpesan kepada moyang Elmas kalau Jumat pagi, ia akan masuk ke dalam kampung. “Bilang kepada orang kampung untuk tidak takut saat melihat hujan angin dan pepohonan di dalam hutan perlahan-lahan rubuh. Itu merupakan tanda kalau saya masuk kampung” ujar nenek.
Sesuai dengan yang dikatakannya, Jumat pagi nenek itu masuk ke dalam kampung dengan membawa air yang sangat banyak. Air-air tersebut merubuhkan dan menghanyutkan pepohonan yang dilaluinya.
Bahkan ada salah satu rumah milik marga Songbes yang ikut terhanyut akibat terjangan air dari kedatangan nenek itu.
Sejak itulah air ini mengaliri Desa Evu dan menjadi air kehidupan bagi warga kampung tersebut.
Siapa Nenek “Sakti” itu?
Pasti kalian penasaran kan siapa sih nenek sakti yang membawa air itu, saya pun begitu. Menurut orang Maluku Tenggara, nenek ini hidupnya berpindah-pindah dari satu kampung ke kampung lainnya yang ada di Pulau Kei. Setiap kali dia pindah, air ini selalu dibawa bersamanya.
Kehadiran nenek ini di suatu desa ternyata tidak selalu membawa sukacita. Banyak juga orang yang kesal karena air yang dibawanya ini berisik, selain karena sekucur tubuhnya yang dipenuhi oleh semacam penyakit kulit.
Suatu ketika ada orang yang berusaha menikam nenek ini dengan linggis, maka ia pindahlah ke daerah Warden dengan membawa serta si air yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya Kolam Evu.
Kehadiran nenek ini di Kampung Evu dianggap sebagai suatu berkat karena airnya ini memberikan kehidupan, sehingga nenek ini diberi nama NEN MAS-IL. Dalam Bahasa Indonesia, NEN berarti nenek, Mas artinya emas, sedangkan Il artinya kembali. Jadi nenek ini adalah Emas yang hilang telah kembali.
Memang di sinilah harusnya ia tinggal, menetap hingga akhir hayatnya dan menjadi “emas” bagi penduduk sekitar. Sebelum diberi nama NEN MAS-IL, ada yang bilang kalau nama asli nenek ini adalah NEN LIDAR.
Kak Kenny pun mengakhiri ceritanya. Ceritanya memang terkesan mistis juga aneh, tapi itulah kepercayaan masyarakat setempat akan kearifan lokal yang mereka percayai. (bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.