Pasar Damai Tinggal Kenangan, ‘Sebagai Manusia Pembokaran Ini Sangat Menyayat Hati’

0
84
Foto: Indri/TimeX GUSUR – Sebuah excavator menggusur bangunan tempat tinggal warga Pasar Damai dalam aksi penertiban di Jalan Leo Mamiri, Kamis (12/12).

Pasar Damai cukup familiar di telinga masyarakat Mimika. Di tempat itu ada akvitas jual beli baik pada siang maupun malam hari. Lokasinya memang begitu strategis persis berada di Jalan Leo Mamiri. Di tempati itu kurang lebih ada 155 KK.


Foto: Indri/TimeX
GUSUR – Sebuah excavator menggusur bangunan tempat tinggal warga Pasar Damai dalam aksi penertiban di Jalan Leo Mamiri, Kamis (12/12).

KAMIS, 12.12.19 menjadi kenangan tak terlupakan dalam hidup bagi 155 Kepala Keluarga Pasar Damai, di Jalan Leo Mamiri, RT 09, Kelurahan Pasar Damai, Distrik Wania. Lokasi ini tinggal kenangan bagi masyarakat Mimika. Paling pahit bahkan membekas dirasakan 155 KK yang sudah puluhan tahun menetap, mengais rejeki hidupkan keluarga di tempat itu, terpaksa harus tinggalkan lokasi yang selama ini boleh dibilang memberikan susu dan madu, setelah bangunan diratakan oleh sebuah excavator dari pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) dalam penertiban bangunan. Selama proses pembongkaran meskipun tidak ada perlawanan mendapat pengawalan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Seperti disaksikan Timika eXpress, bucket excavator kuning perlahan menyentuh bangunan. Menarik dan mendorong hingga rubuh satu persatu bangunan. Hanya hitungan menit saja semuanya pada ratah dengan tanah. Jalannya penggusuran penuh damai ini masih terlihat beberapa pemilik bangunan ikut serta mengamankan sisa-sisa material seperti seng dan kayu dianggap masih layak pakai untuk dibawa ke tempat pemukiman baru di SP 4. Lokasi ini disediakan oleh Pemkab Mimika.
Dari 155 KK ini ada 30 pedagang yang kini sudah diarahkan menjual di los Pasar Sentral. Hadir dalam penertiban bangunan ini Bernadinus Songbes, Kadisperindag dan Willem Naa, Kasat Pol PP.
Songbes mengemukakan aksi pembongkaran ini akan berlangsung selama tiga hari dari, Kamis-Sabtu (12-14/12) mendatang.
“Inikan SK nya sudah ada. Kemarin itu hanya berupa instruksi, saya sudah tekankan kepada mereka, hari ini harus pindah, tidak bisa tunda lagi, karena alat berat segera bongkar,” tuturnya.
Songbes mengaku sejak Rabu (11/12) Disperindag telah membagikan nomor lotre bagi warga untuk menempati tanah atau lokasi baru di SP 4, Distrik Wania disesuikan dengan nomor lotre yang ditarik oleh warga.
“Kami sepakat hari ini, (Kamis-red) kan lahan mereka sudah ada. Kami kasih setiap KK 5X10 meter,” katanya.
Lahan bagi relokasi warga ini pemerintah sudah siapkan 7 hektar sewaktu masa Chery Lumenta menjabat sebagai Kepala Disperindag. Namun karena ada satu dan lain hal baru terealiasi tahun ini.
“Kami baru timbun satu hektar, akses di sana sudah bagus sekali, bahkan kita bangun 12 toilet umum,” katanya.
Sebagai manusia biasa Songbes merasakan pembokaran dilakukan ini sangat menyayat hatinya. Namun karena tugas dan perintah langsung pimpinan dalam penataan kota lebih baik harus siap menjalankannya.
“Kami juga paham apalagi ini mau masuk hari raya natal. Ada sebagian warga Pasar Damai inikan beragama Nasrani. Sedih tapi mau bagaimana ini sudah perintah,” katanya.
Setelah semua warga direlokasi di SP 4 penggunaan lahan Pasar Damai selanjutnya disesuikan dengan pengambil keputusan kepala daerah.
“Mau dijadikan apa tergantung pemerintah. Kita sudah laporkan juga ke bupati terkait pembongkaran hari ini,” tuturnya.
Mantan Sekretaris KPU Mimika ini merasakan tim terpadu bekerja banyak mengalami tantangan. Dimana awalnya terjadi beda pendapat dengan para penghuni Pasar Damai. Namun setelah bicara dari hati ke hati akhirnya semua bisa terima dan berjalan lancar.
“Mereka sudah puluhan tahun menggunakan tanah pemerintah dan sudah mengambil banyak keuntungan di sini, sehingga kali ini kami sudah tidak bisa memberikan toleransi lagi. Kami sudah mencoba melalui mekanisme lain namun dalam aturan kami tidak boleh membantu untuk membelikan bahan bangunan, sehingga kami siapkan lahan saja,” paparnya.
Di tempat yang sama, Willem Naa, Kasatpol PP menjelaskan, sebelum terjadinya pembongkaran diawali sosialisasi sudah berulang-ulang namun tidak diindahkan. Akhirnya alat berat sudah turun gusur, mereka baru mau sibuk angkat barang padahal sudah diberitahu jauh-jauh hari.
SK penertiban ini ujarnya, akan berakhir hingga 30 Desember. Terhitung hari ini (Kamis-red), pihaknya akan terus melakukan penertiban.
Ia meminta agar masyarakat bisa memahami situasi itu dan dapat mendukung langkah yang dikerjakan pemerintah.
Ia menyebutkan kurang lebih 30 anggota Satpol PP dikerahkan dalam penertiban ini. “Sebagian di lokasi lain, memang kami bagi-bagi jadi tidak semuanya di sini,” pungkansya. (Indri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.