Peringatan HAB Kemenag ke 74, Jajaran Kemenag jadi Agen Kerukunan Umat Beragama

0
76
Foto: Ist./TimeX FOTO BERSAMA - Nicolas E Kuahaty, Asisten 3 Pemerintahan Kabupaten Mimika foto bersama Utler Adrianus, Kepala Kemenag Kabupaten Mimika beserta tokoh agama, Jumat (3/1).

“Kerukunan antar umat beragama merupakan modal kita bersama untuk membangun negara dan menjaga integritas nasional”

Foto: Ist./TimeX
FOTO BERSAMA – Nicolas E Kuahaty, Asisten 3 Pemerintahan Kabupaten Mimika foto bersama Utler Adrianus, Kepala Kemenag Kabupaten Mimika beserta tokoh agama, Jumat (3/1).

TIMIKA,TimeX

Secara nasional jajaran Kementerian Agama di Indonesia mulai dari Pusat hingga daerah memperingati Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama (Kemenag) ke 74 Tahun pada Jumat (3/1). Peringatan Hari Amal Bakti tahun ini mengusung tema ‘Umat Rukun, Indonesia Maju’. Untuk di Kabupaten Mimika dilaksanakan secara sederhana berlangsung di Kantor Kemenag Timika diawali dengan menyanyikan lagu  Indonesia Raya dan Padamu Negeri serta pemotongan tumpeng oleh Utler Adrianus, Kepala Kemenag Timika disaksikan Nicolas E Kuahaty, Asisten 3 Pemerintahan Kabupaten Mimika dan perwakilan lima tokoh agama dan unsur TNI-Polri.

Nicolas dalam membacakan amanat Fachrul Razi, Menteri Agama RI mengajak segenap jajaran Kementerian Agama baik di Pusat maupun di daerah agar menjadi agen perubahan dalam memperkuat kerukunan antar umat bergama di tanah air.

“Kerukunan antar umat beragama merupakan modal kita bersama untuk membangun negara dan menjaga integritas nasional,” katanya.

Kementerian Agama hadir ujarnya, untuk melindungi kepentingan agama dan semua pemeluk agama. Untuk itu, seluruh jajaran Kemenang harus bisa mengawal dan mengembangkan peran strategis Kemenag secara kontektual di tengah masyarakat yang majemuk. Dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya ditegaskan, ‘Bangulah jiwanya, bangulah badannya, untuk Indonesia Raya.’ Pembangunan jiwa disebut lebih dulu daripada pembangunan raga atau fisik.

Ia menegaskan tugas utama Kemenang adalah membangun jiwa manusia sebagai landasan terbentukan mental bernegara yang baik. Meski pembangunan infrastruktur  fisik juga dilakukan oleh Kemenag, namun itu dalam rangka menunjang pembangunan fisik. Kemenang menyelenggarakan dua fungsi, yaitu fungsi agama dan pendidikan.

Ia juga mengakui selama tujuh dekade perjalanan sejaran Kemenag banyak mengalami perubahan dan kemajuan yang dicapai dalam spektrum tugas yang begitu luas, seperti dalam fungsi bimbingan masyarakat beragama, pelayanan nikah, pembinaan pengelolaan zakat dan wakaf serta dana sosial keagamaan lainnya, penyelenggaraan ibadah haji, pendidikan agama dan keagamaan di semua jenjang, penelitian dan pengembangan serta kediklatan, pembinaan kerukunan antar umat beragama, penyelenggaraan jaminan produk halal serta penguatan tata kelola manajemen dan organisasi sesuai dengan agenda reformasi dan birokrasi.

Pada momen ini Menteri Agama juga mengajak seluruh jajaran Kemenang di Indonesia untuk perhatikan enam hal penting yakni.

  1. Pahami sejarah Kemenag serta regulasi, tugas dan fungsi kementerian ini dalam konteks relasi agama dan negara.
  2. Jaga idealisme, kejujuran, integritas dan budaya kerja Kemenag di tengah arus kehidupan yang serta materialistis, selaraskan antar kata dengan perbuatan, sesuaikan tindakan dengan sumpah jabatan.
  3. Tanamkan selalu bahwa bekerja adalah ibadah dan melayani masyarakat adalah sebuah kemuliaan.
  4. Perkuat ekosistem pembangunan bidang agama antar sektor dan antar pemangku kepentingan, baik sesama institusi pemerintah, tokoh agama, organisasi keagamaan dan segenap elemen masyarakat.
  5. Rangkul semua golongan dan potensi umat dalam semangat kebersamaan, kerukunan, persatuan dan moderasi beragama sejalan dengan falsafah Pancasila yang mempersatukan anak bangsa walau berbeda ras, etnik, keyakinan agama dan golongan.
  6. Implementasikan visi dan misi pemerintah ke dalam program kerja Kemenag di semua unit kerja pusat, daerah dan Perguruan Tinggi Keagamaan.

Sementara di tempat yang sama, Utler Adrianus, Kepala Kemenag Timika mengungkapkan dengan usia 74 tahun jajaran Kemenag mulai dari Pusat hingga daerah beserta stakeholder lain perlu menjaga  kerukunan secara bersama-sama. Menjaga dan merawat kerukunan menjadi bagian penting dalam membina perbedaan.

“Jadi kita bermitra bersama semua stakeholder dalam menjaga toleransi karena kita ini hidup penuh kemajemukan. Kemajemukan ini memang perlu dirawat bersama sehingga kita bisa menjadikan sebagai sesuatu kekuatan. Harus banyak tangan ikut terlibat merawat toleransi,” jelas Utler.

Menurutnya hidup ini ibaratnya taman bunga. Setelah ditanam dirawat, perlu disiram agar tetap tumbuh subur dengan aneka warna. Keberagaman itulah Indonesia.

Ia berpesan kepada masyarakat mari tingkatkan kehidupan saling menghargai satu sama lain tanpa memandang perbedaan sebagai pemisah melainkan melalui perbedaan itu lebih pererat tali silaturahmi antar umat beragama. Dan kerukunan itu perlu ditempatkan pada hal utama. Wajar saja jika ada perbedaan di tengah hidup bersama  namun bukan untuk saling memecah belah persatuan dan kesatuan. (tio)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.