Eksotisme Gili Trawangan dan Sejuta Pesonanya

0
51
FOTO:Ist/TimeX SANTAI-Peserta rombongan media gathering UIW Papua dan Papua Barat, bersantai di Pantai Gili Trawangan beberapa waktu lalu.

Bagian 2

FOTO:Ist/TimeX
SANTAI-Peserta rombongan media gathering UIW Papua dan Papua Barat, bersantai di Pantai Gili Trawangan beberapa waktu lalu.

Gili Trawangan merupakan sebua pulau kecil di Lombok yang menawarkan sejuta pesona keindahan. Tidak heran selalu ramai dikunjungi wisatawan asing maupun domestik. Rombongan media gatehering PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Papua dan papua Barat berkesempatan mengunjungi Pulau nan eksotis itu.

Seperti apa keseruan rombongan dari Papua dan Papua Barat di Gili Trawangan?

Laporan: Yosefina Dai Dore, Wartawan Timika eXpress

———————————————————————————-

PAGI itu pintu kamar kami diketuk. “Selamat pagi Mbak, jam 7 kita semua sudah di Bus ya? Cepat ke restoran untuk sarapan,” terdengar suara dari luar kamar.

“Aduh sudah jam berapa ya Desi?” saya bertanya kepada teman sekamar saya, wartawan dari Sorong.

“Saya masih ngantuk, masih cape kak,” kata Desi.

Perjalanan seharian kemarin benar-benar membuat kami lelah, masih ingin tidur lebih lama lagi.

Tapi waktu terus berjalan kami harus mandi, mengemasi semua barang bawaan karena hari itu kami akan pindah ke Hotel Aston di Gili Trawangan.

Waktu sudah menunjukan Pukul 07.00 WITA, sudah tiga kali pintu kamar kami diketuk, dengan teregsa-gesa kami menenteng tas ke luar kamar.

Teman-teman sudah menunggu di bus, jadinya kami tidak sempat sarapan pagi itu.

Untung dalam tas ada beberapa mangkuk yogurt yang saya beli kemarin di salah satu Mini market dekat Pantai Kuta Mandalika, sehingga saya bisa sarapan dalam bus.

Saya tawarkan yogurt untuk Desi tapi dia tidak suka dengan makanan bertekstur kental itu.

Setelah semua teman sudah ada dalam bus kami mulai menuju Pelabuhan Bangsal, yang merupakan pelabuhan fast boat  untuk menyeberang dari dan menuju 3 gili yakni Gili trawangan, Gili Meno dan Gili air. Perjalanannya dari hotel ke pelabuhan sekitar 54 menit.

Sebelum menyeberang kami membeli beberapa aksesoris seperti topi dan kaca mata. Ada sebagian teman membeli celana pendek untuk snorkeling (selam permukaan) di Gili Meno.

Menggunakan speadboat kami menyeberang ke Gili Trawangan, tapi sebelumnya kami singgah di Gili Air untuk menikmati pemadangan di sana dan berfoto. Perjalanan ke Gili Air  hanya 10 menit, pemandangan di sana juga sangat indah, yang bisa kita nikmati mulai dari pasir pantai yang putih, jajaran gazebo yang berwarna warni dan hamparan laut yang biru. Banyak wisawatan asing dan domestik mengunjungi pulau itu.

Setelah dari Gili Air kami menuju Gili Meno karena sebagian teman mau snorkeling

Saya sama sekali tidak bisa berenang jadi hanya melihat keseruan teman-teman dari atas speadboat. Meskipun disiapkan pelampung dan alat bantu pernapasan dalam air namun saya tidak berani untuk turun ke dalam laut.

Teman-teman tampak sudah puas bersnorkeling dan kembali ke  speadboat. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Gili Trawangan, setiba di sana kami langsung ke salah satu restoran.

Sesudah menikmati makan siang kami melanjutkan perjalanan ke Hotel Aston menggunakan Cidomo (alat transportasi tenaga kuda khas Pulau Lombok). Di Gili Trawangan tidak ditemukan kendaraan bermotor hanya ada Cidomo dan sepeda.

Tiba di Hotel kami langsung mandi dan beristitahat. Sore harinya kami berjalan-jalan dan berfoto. “Ayo Kak kita pakai sepeda” ajak Desi. “Aduh maaf Desi saya tidak bisa naik sepeda,”. Akhrinya kami hanya berjalan kaki sehingga tidak banyak tempat yang kami datangi.

Hampir sepanjang perjalanan terdapat tempat penginapan dengan mini bar yang desain interiornya sangat unik. Banyak wisawatan yang nongkrong, menikmati minuman, dan menonton live music. Di pinggir-pinggir pantai juga ditawarkan jasa pijat oleh warga lokal untuk wisatawan yang kelelahan.

Setelah lelah berkeliling kami ke pantai berkumpul dengan teman-teman yang lain.

Sunset dilihat dari pantai itu sangat indah, banyak yang berfoto dengan pasangan, keluarga dan teman-teman. “Kak kalau ada suami pasti romantis sekali di sini,” celutuk Desi. Saya hanya tersenyum.

Hari sudah mulai malam, suasana di pantai masih sangat ramai. Ada yang menikmati makan malam, tidur-tiduran di pantai, ada juga menonton film di bioskop tepi pantai beratapkan bintang.

Banyak pengunjung tidur-tiduran di atas bantal warna-warni sambil menonton film yang ditayangkan saat itu.

Malam itu pihak PLN UIW Papua dan Papua Barat sudah menyiapkan makan malam yang spesial di tepi pantai. Di situ ada beberapa koki yang siap membuat hidangan lezat untuk kami. “Mau yang mana mbak, ada macam-macam di sini sate lilit, soto ayam, steak,  terserah mau yang mana nanti dibuatkan,” salah seorang Koki menawarkan beberapa menu saat saya mendekati mejanya. Masih ada beberapa menu namun saya asing dengan namanya. “Saya minta soto, sate lilit  dan sedikit nasi ya Pak”, kata saya kepada Koki itu.

Setelah memesan makanan saya pergi melihat beberapa koki lain yang sedang meracik dan memasak makanan. Setelah pesanan saya matang saya kembali ke tempat duduk dan menikmatinya.

Usai makan malam, pihak PLN membuat api unggun untuk menutup acara media gathering.

Dua orang dari peserta diminta memberikan kesan terhadap kegiatan tersebut, salah satunya saya mewakili teman-teman perempuan. “Terima kasi mas Fandi, Mas Tian dan teman-teman lain dari PLN UIW Papua dan Papua Barat, terima kasih untuk liburan yang sangat indah dan berkesan  ini. Kami mendapatkan pelayanan yang luar biasa selama di Lombok. Untuk semua teman-teman wartawan terima kasih banyak untuk kebersamaan kita, semoga tali persaudraan yang sudah kita jalin bisa tetap terjaga,” kata saya.

Setelah api unggun rasanya masih betah memandang ombak di malam yang  indah itu, tapi kami harus kembali ke hotel untuk beristirahat karena keesokan paginya  sudah kembali ke Lombok untuk melanjutkan agenda lainnya. (bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.