Lapak Noken Pasar Sentral Mulai Ditempati

0
144
Foto: Antonius Djuma/TimeX MENJUAL – Martina Tawana, bersama mama-mama penjual noken lain sementara menjual noken, Jumat (10/1).

“Kami tidak lagi kepanasan dan kalau hujan kami sudah tidak basah dan pindah-pindah. Tapi belum semua pindah masih ada yang lain jual di los pasar ikan sana”

Foto: Antonius Djuma/TimeX
MENJUAL – Martina Tawana, bersama mama-mama penjual noken lain sementara menjual noken, Jumat (10/1).

TIMIKA,TimeX
Lapak noken Pasar Sentral yang dibangun oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mimika mulai ditempat mama-mama Papua pengrajin dan penjual noken pada Jumat (10/1). Lapak ini berada di depan bangunan pasar ikan atau di samping gedung baru lantai dua yang barusan dibangun menelan biaya Rp9,25 juta dari APBD 2019.
Martina Tawapa, penjual noken menuturkan dirinya bersama mama-mama pedagang noken lainnya barusan menempati lapak itu dari pagi setelah berkoordinasi dengan kepala pasar. Martina mengaku sudah lama menekuni merajut dan menjual noken sejak pasar itu dibuka.
Bahkan ia bersyukur sekali bisa berjualan dibawah bangunan yang layak sehingga tidak lagi tempati tenda darurat dibuatnya.
“Kami tidak lagi kepanasan dan kalau hujan kami sudah tidak basah dan pindah-pindah. Tapi belum semua pindah masih ada yang lain jual di los pasar ikan sana,” tutur Martina kepada Timika eXpress sambil merajut noken warna putih.
Wanita asal Paniai ini menuturkan dalam sehari kadang laku kadang tidak. Noken-noken hasil rajutan ada dari bahan benang tekstil dan bahan kulit kayu. Noken ukuran besar dari kulit kayu dijualnya seharga Rp500 ribu sementara ukuran kecil Rp100 ribu. Hasil jualan ini tuturnya bisa membiayai kebutuhan keluarga.
Ia menambahkan selain menjual noken pada pagi hingga siang, pada sore hari menjual sayur-sayuran serta pangan lokal. Namun, ia merasakan kadang banyak sayuran rusak karena jarang dibeli sebab aktivitas pasar sepi belum semuanya terpusat di Pasar Sentral lantas masih ada pedagang berjualan di Pasar Gorong-Gorong dan eks Pasar Swadaya.
“Kadang sepi pembeli kurang. Kami minta pemerintah tutup Pasar Gorong-Gorong dan eks Pasar Swadaya. Kalau semua di sini pasti rame,” katanya.
Sementara penjual lain Marsela mengaku sangat senang dapat menempati lapak ini karena bersih dan berada di depan sehingga pembeli dengan mudah melihat hasil rajut mereka, tidak seperti sebelumnya menempati lapak gabung di los ikan.
Makin membuatnya gembira baru hari pertama menempati lapak tersebut sudah begitu ramai dikunjungi pembeli.
Ia mengatakan mereka tempati lapak itu sesuai arahan dari Charles Pakage, Kepala Pasar Sentral agar mama-mama segera menempati lapak noken.
Namun demikian, Marsela mengungkapkan lapak yang kini ditempati tidak mencukupi jika semua penjual di Jalan Budi Utomo bergabung.
“Kami saja tidak cukup, karena masih ada noken yang belum kami gantung. Kalau mereka datang lagi tidak ada tempat,” katanya.
Untuk itu ia menyampaikan pemerintah perlu bangun tambah dua los baru lagi jika hendak menampung pedagang noken dari Jalan Budi Utomo supaya tidak menimbulkan persoalan baru.
Pantauan Timika eXpress kurang lebih 15 orang mama-mama penjual noken menempati bangunan lapak berlantai keramik putih itu. Noken hasil rajutan, mereka gantungkan pada tiang-tiang besi yang sudah disiapkan oleh Disperindag. Pada lapak itu Disperindag lengkapi dengan 60 tiang besi gantungan noken.
Ditertibkan
Sementara Willem Naa, Kepala Dinas Satuan Polisi Pamong Praja Mimika memastikan penjual noken di pinggir Jalan Budi Utomo segara ditertibkan oleh Satpol PP untuk diarahkan semuanya berjualan di Pasar Sentral.
“Pokoknya kita akan patroli menyusuri jalan, kalau kita temukan akan kita arahkan ke Pasar Sentra, mau tidak mau harus segera pindah. Kalau tidak kita yang akan angkut semua,” tegas Willem saat ditemui di Pusat Pemerintahan, Jumat (10/1).
Penertiban ini memang harus dilakukan setelah pihak Disperindag berkoordinasi dengannya agar semua pedagang noken harus dialihkan ke Pasar Sentral. Sekarang Disperindag sudah siapkan lapak noken.
“Kadisperindag sudah koordinasi ke saya, dan sudah kita rapatkan, jadi nanti kalau tidak Senin atau Selasa, kita akan pindahkan semua pedagang, kalau tidak mau akan kita paksa,” katanya.
Selain penjual noken, penertiban serupa sasaran kepada penjual ikan berada di pinggiran Jalan Budi Utomo depan Senyum 5000. Rata-rata putra/putri daerah ini menjual di situ justru air ikan menimbulkan aroma amis.
“Jadi nanti penertiban ini dilakukan secara bersamaan saja. Inikan tempatnya sudah kita siapkan semua tetapi masih saja ingin berjualan di jalan. Pokoknya hal ini tidak boleh kita biarkan akan mengurangi estetika kota, apalagi kita Mimika akan menjadi tuan rumah PON 2020 dan Pesparawi,” pungkasnya. (a30/tio/a32)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.