Masyarakat Sasak Ende Tak Goyah Jaga Tradisi

0
56
Foto: Istimewa/TimeX FOTO BERSAMA-Sebagian anggota rombongan Media Gathering PLN UIW Papua dan Papua Barat foto bersama di Kampung Sasak Ende, beberapa waktu lalu.
Foto: Istimewa/TimeX
FOTO BERSAMA-Sebagian anggota rombongan Media Gathering PLN UIW Papua dan Papua Barat foto bersama di Kampung Sasak Ende, beberapa waktu lalu.

Bagian III

Masyarakat Suku Sasak Ende di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah tidak goyak menjaga tradisi di zaman yang sudah sangat modern ini.

Mulai dari bangunan rumah dan cara hidup sehari-hari benar-benar masih sesuai dengan tradisi suku tersebut.

Hari terakhir di Lombok, kami rombongan media gathering PLN Unit Induk Wiyalah (UIW) Papua dan Papua Barat menyempatkan diri mengunjungi desa yang terus melestarikan tari peresean tersebut.

Seperti apa tradisi dan kehidupan masyarakat Suku Sasak Ende?

Laporan: Yosefina Dai Dore/Wartawan Timika eXpress

————————————————————————————————————————————

SIANG itu sekira Pukul 11.00 WITA, kami anggota rombongan dari Timika dan Jayapura menggunakan Cidomo menuju ke Pelabuhan Gili Trawangan kemudian kembali ke Pelabuhan Bangsal Lombok. Teman-teman dari Sorong dan Biak sudah berangkat sejak pagi karena akan menggunakan pesawat dengan jadwal penerbangan siang untuk kembali ke kotanya masing-masing, sementara kami jadwal penerbangannya malam.

Setiba di Pelabuhan Bangsal Lombok,  sudah ada bus yang menunggu dan kami langsung menuju ke Sasaku, salah satu pusat perbelanjaan oleh-oleh.

Puas berbelanja kami menuju ke Desa Wisata Sasak Ende.

Kami diterima dengan sangat ramah oleh  pemandu wisata dan mengantar kami  berkeliling kampung itu.

Warga Suku Sasak Ende menempati rumah adat yang masih tradisional, di mana seluruh material bangunan rumah terbuat dari alam.

Begitu tradisionalnya, maka jangan harap anda akan menemukan peralatan elektronik di rumah mereka.

Untuk atapnya saja, menggunakan anyaman alang-alang dan bambu yang dirajut sehingga bisa bertahan sampai tujuh tahun.

Sementara lantai rumah di Desa Wisata Sasak Ende menggunakan tanah liat.

Uniknya, lantai tanah liat telah dilumuri semen merek empat kaki alias dari kotoran sapi atau kerbau.

Menurut pemandu wisata penggunaan kotoran ternak ini berfungsi merekatkan tanah liat agar tidak mudah retak.

Selain itu kotoran tersebut dipercaya sebagai simbol kerja keras petani. “Karena sebagai besar masyarakat Sasak Ende hidup sebagai petani dan peternak,” terangnya.

Ia menceritakan, masyarakat setempat mempunyai tradisi yang tidak biasa. Pasangan suami istri diharuskan tidur terpisah, perempuan tidur di dalam, sementara laki-laki di luar rumah.

Namun, untuk pasangan yang baru menikah diperbolehkan tidur bersama di dalam rumah, sampai mereka mempunyai anak maka harus tidur terpisah.

“Sang suami bisa masuk ke rumah ketika ada keperluan khusus, dan itu harus izin terlebih dahulu kepada istri,” terangnya.

Namun untuk memulai kehidupan rumah tangga di sana bukanlah sesuatu yang mudah.

Masyarakat di desa Ende sudah menetapkan aturan, bahwa setiap wanita yang ingin menikah wajib mempunyai keahlian untuk menenun.

Jika belum bisa menenun maka dilarang untuk menikah.

Masyarakat di sana pun masih mempertahankan tradisi perkawinan tradisional warisan leluhurnya.

Calon suami akan membawa lari calon istrinya, menyembunyikannya beberapa hari baru menikahinya. Menariknya, proses kabur sebelum menikah ini terdiri dari dua macam, lari bersama atau diculik. Bedanya? “Kalau kawin lari itu suka sama suka, kalau kawin culik, pihak laki-laki saja yang suka,” terang pemandu  wisata itu.

Jika kawin lari, sang gadis biasanya akan kabur dari rumah, ‘janjian’ dengan pria yang dicintainya di suatu tempat, lalu diam di sana beberapa hari.

Namun jika kawin culik, sang gadis akan dibawa paksa, disembunyikan di suatu tempat oleh pihak pria. Bisa diculik saat sedang tidur, bisa juga diculik saat sedang sendiri atau di jalan. “Kadang sedang jalan pulang bersama ibunya, bisa dia tiba-tiba ditarik dan diculik, bahkan sampai nangis-nangis,” kisahnya. Setelah itu pihak pria harus memberitahu keluarganya. Pihak keluarga pria kemudian akan memberitahu pihak keluarga perempuan bahwa anaknya telah diculik atau dibawa lari. Proses pemberitahuan ini beda-beda.

Di daerah Sembalun, Lombok Timur, pihak keluarga melapor ke kepala dusun. Berikutnya kepala dusun yang akan menyampaikan pada pihak keluarga perempuan. Sementara di Kampung Adat Sasak Ende, jika yang menikah sesama warga kampung itu, maka keluarga pria akan memberitahu langsung. Tetapi jika itu kawin lari, dan sang gadis lari dengan pria dari luar kampung maka keluarga pria dan perwakilannya harus menunggu di pintu masuk desa, hingga mendapat izin dari kepala adat. “Kalau dibawa lari oleh orang dari Jakarta misalnya, biasanya yang menghadap di sini itu perwakilan yang ada di sini saja, seperti teman calon suami juga bisa menghadap,” tuturnya.

Bagi orang Sasak, jika sudah kabur atau terculik, suka tak suka, cinta tak cinta, akan dikawinkan. Kedua pihak keluarga harus menjalani proses berikutnya yakni nyelabar, rebak pepucuk, dan mesajentik.

Ketiganya merupakan proses permintaan izin menikah dari keluarga pihak pria ke pihak perempuan yang dapat berlangsung paling lambat tiga hari.

Mengapa harus kabur? Pemandu wisata itu mengisahkan sebuah mitos kepada kami, dulu di Lombok ada seorang raja dengan putri yang sangat cantik.

Saking cantiknya, semua pria suka padanya dan berlomba-lomba melamarnya. Maka sang Raja mendirikan sebuah kamar dengan sistem penjagaan yang sangat ketat.

Lalu raja memberi tantangan, “Barangsiapa berhasil menculik putriku, akan kunikahkan dia dengan putriku,” kisahnya.

Dari situ, pria-pria Lombok memiliki kebanggaan jika berhasil menculik orang yang dicintainya.

Maka, jika sudah berhasil terculik, pihak keluarga perempuan harus rela anaknya dinikahkan dengan sang penculik. “Makanya di sini (Kampung Adat Sasak Ende) satu cewek pacarnya bisa sampai delapan, karena tidak ada istilah pacaran atau PDKT, siapa cepat menculik atau mengajak kabur,” ujar dia.

Di Kampung tersebut kamipun berkesempatan menyaksikan tarian peresean. Dalam tarian itu dua anak laki-laki saling pukul, membuktikan diri siapa yang paling jantan di antara mereka.

Kedua petarung ini dipersenjatai dengan tongkat pemukul yang terbuat dari bilah rotan.

Untuk melindungi tubuh, para petarung yang disebut pepadu menggunakan tameng yang terbuat dari kulit kerbau yang cukup tebal. Perisai ini disebut dengan Ende.

Selain kedua pepadu, ada juga wasit yang disebut sebagai pakembar. Jumlahnya juga dua orang, yaitu Pakembar Sedi (wasit pinggir) dan Pakembar Teqaq (wasit tengah). Fungsi wasit ini adalah untuk mengawasi jalannya pertandingan, termasuk memisahkan kedua pepadu apabila pertarungan berjalan terlalu serius.

Pakembar juga bertugas memeriksa kesanggupan para pepadu untuk melanjutkan pertarungan, serta memilih petarung dari kerumunan penonton.

Biasanya tari peresean akan dihentikan apabila salah satu dari kedua petarung berdarah atau menyatakan kalah.

Namun berhubung kali ini hanya untuk menyambut tamu dan mengenalkan seni tari tradisional asli Suku Sasak, pertarungan dihentikan saat wasit menyatakan waktu pertarungan telah usai.

Usai dibawakan ank-anak, dua pria dewasan pun memainkan tarian peresean. Bahkan para wisatawan diberi kesmepatan untuk memainkan tarian itu, termasuk anggota rombongan kami.

Selama tari peresean berlangsung, akan diiringi dengan musik gamelan khas dari Lombok. Bunyinya begitu menghipnotis, penonton seakan dibuat larut dalam suasana pertarungan. Jantung pun dibuat berdegup kencang saat melihat kedua pepadu adu pukul dengan tongkat rotan.

Praakk.. Prakk.. Kedua Pepadu saling pukul dan tangkis dengan tameng yang dibawanya. Seru bercampur ngeri!

Uniknya, setelah tarung peresean usai para pepadu yang sebelumnya tampak adu pukul, langsung berpelukan dengan lawannya.

Ini menandakan pertarungan telah selesai dan tidak ada dendam yang dibawa di luar arena pertandingan. Satu hal yang patut dicontoh oleh generasi muda, jangan jadi generasi yang pendendam.

Puas menyaksikan tarian peresean kami mendatangi seorang remaja yang sedang menenun syal. Ia tampak lihai dalam menjalin benang satu demi satu (sak sak), sehingga menjadi syal warna warni yang sangat indah.

Selain itu beberapa dari anggota rombongan kami masuk ke dalam rumah warga, tapi saya lebih memilik berbaur dan bercerita dengan masyarakat lokal sambil menikmati buah-buahan dan jajanan yang dijual warga Suku Sasak.

Kamipun sempat mendatangi sebuh koperasi yang menjual hasil karya warga setempat seperti baju, kain, syal dan lainnya dengan bahan tenunan.

Setelah puas berkeliling kampung kami kembali ke bus menuju ke salah satu rumah makan untuk makan malam. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandara Internasional Lombok untuk kembali ke kota masing-masing. (Habis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.