Yosefin Sebut Produksi Telur Lokal Surplus

0
151
Foto: Antonius Djuma/TimeX MENUNGGU – Yosefin Sampelino, Kepala Disnak-Keswan Mimika didampingi pembawa noken dan tauri menunggu kedatangan Eltinus Omaleng, Bupati Mimika di halaman Kantor Disnak-Keswan pada Selasa (4/2).

“Sekarang kebutuhan ayam pedaging 30-50 ton perhari. Atau setara 10 persen kuota pemasukan dari luar sekitar 400 ton perbulan”

Foto: Antonius Djuma/TimeX
MENUNGGU – Yosefin Sampelino, Kepala Disnak-Keswan Mimika didampingi pembawa noken dan tauri menunggu kedatangan Eltinus Omaleng, Bupati Mimika di halaman Kantor Disnak-Keswan pada Selasa (4/2).

TIMIKA,TimeX
Yosefin Sampelino, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak-Keswan) Kabupaten Mimika menyebutkan produksi telur ayam lokal sudah mengalami surplus tiga ton perhari.
Hal ini Yosefin sampaikan dalam laporannya pada saat peresmian Kantor Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak-Keswan) di Jalan Poros SP 2 pada Selasa (4/2).
Di hadapan Eltinus Omaleng, Bupati Mimika, kepala OPD, undangan dan mitra peternak, Yosefin menjelaskan untuk usaha ayam petelur saat ini sehari produksi 11 ton. Kebutuhan di Timika perhari 8 ton dengan demikian produksi telur surplus tiga ton perhari. Olehnya, para peternak mulai mengirim ke beberapa kabupaten di Papua.
Pelaku usaha ayam petelur ujarnya, sebagian besar masyarakat putera daerah dibawah binaan Yayasan Jayanti Mandiri PTFI, YPMAK dan peternak mandiri. Jumlah seluruhnya lebih dari 100 kelompok peternak.
Selain peternak ayam petelur, katanya, Disnak juga memiliki mitra peternak yang menghasilkan ternak lokal babi, ayam pedaging dan ayam kampung, jika dibandingkan beberapa tahun sebelumnya harus didatangkan dari luar karena belum adanya produksi di Timika.
“Sekarang ini sudah ada komunitas peternakan menjadi usaha rakyat antara lain, usaha ternak babi, usaha ayam petelur dan ayam pedaging serta ayam kampung,” katanya.
Ia menyampaikan melalui usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat kelompok ternak ayam pedaging, Pemkab Mimika melalui Disnak telah menyediakan 11 freezer dengan kapasitas tiga ton guna membantu kebutuhan peternak pasca panen, sehingga mulai pertengahan Februari 2020 ini peternak ayam pedaging mulai dikembangkan lagi oleh peternak. Maka pada Maret 2020 para peternak akan mulai menghasilkan ayam pedaging.
“Sekarang kebutuhan ayam pedaging 30-50 ton perhari. Atau setara 10 persen kuota pemasukan dari luar sekitar 400 ton perbulan,” katanya.
Besarnya pasokan ayam pedaging dari luar, maka pengembangan ayam broiler di Timika menjadi usaha potensial yang perlu dikembangkan sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi masyarakat demi mewujudkan masyarakat sejahterah sesuai visi bupati.
Kemudian untuk usaha peternakan babi di Timika katanya, beberapa tahun terakhir mampu memenuhi kebutuhan daging di Kabupaten Mimika, bahkan secara rutin kirim ke beberapa kabupaten tetangga seperti Asmat, Nduga, Puncak dan Wamena.
Mendukung hal ini katanya, fasilitas peternakan babi yang sudah tersedia oleh pemerintah melalui Disnak dan Kesehatan Hewan adalah unit pembibitan babi di SP 6. Selain menyiapkan bibit babi berkualitas juga memiliki sistem inseminasi buatan (kawin suntik) yang selalu menghasilkan sperma untuk disuntik kepada induk-induk betina.
Bahkan dikatannya, selama 2019 sudah lakukan uji coba kawin suntik pada puluhan induk babi milik masyarakat dengan tingkat keberhasilan 90 persen. Dengan adanya program kawin suntik ini, katanya, masyarakat yang telah dilayani lebih memilih kawin suntik karena biaya lebih murah, praktis dan hasilkan anaknya lebih banyak, 12-18 ekor.
Kemudian ia melaporkan, untuk peternakan ayam kampung super, dua tahun terakhir ini mulai dikembangkan menjadi usaha rakyat semenjak hadirnya Binmas Noken dari Polres Mimika sebagai pemasuk DOC.
Ia merasakan hal ini sangat membantu para peternak, lebih mudah dan murah sehingga usaha ini mulai bertumbuh di Kabupaten Mimika. Namun demikian, ia menyinggung salah satu usaha ekonomi yang hingga kini belum dikembangkan masyarakat adalah peternakan sapi.
“Kita tahu bersama pengembangan sapi ini potensinya sangat luar biasa. Ada 13 SP terdiri dari 9000 ha sebagian besar lahan tidur belum ditumbuhi rumput, bisa dimakan oleh sapi. Sehingga kami berharap kedepan peternakan sapi bisa menjadi usaha rakyat guna manfaatkan potensi pakan ternakan (rumput) yang ada guna kesejahteraan rakyat,” katanya.
Sementara Eltinus Omaleng, Bupati Mimika saat menerima telur ayam yang diserahkan Drh Budi, Ketua Himpunan Peternak Unggas Mimika (HIPUKAMI) mengharapkan terus memproduksi telur tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat Mimika saja tapi juga kirim ke beberapa kabupaten tetangga. (tio)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.