DKP Lanjutkan Program Desa Mandiri Pangan

0
95
Foto: Antonius Djuma/TimeX I Nyoman Dwitana

“Di sana kita bagi bibit, membuat kebun di samping pekarangan. Pembagiannya memang cukup banyak. Tahun ini sistem sulam lagi di lokasi-lokasi yang sama untuk pastikan mungkin ada bibit yang mati”

Foto: Antonius Djuma/TimeX
I Nyoman Dwitana

TIMIKA,TimeX
Tahun 2020 ini, Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Mimika masih melanjutkan program Otonomi Khusus (Otsus) tahun 2019 lalu yakni ‘Program Desa Mandiri Pangan’.
Hal ini disampaikan oleh I Nyoman Dwitana, Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Mimika saat ditemui Timika eXpress di ruang kerjanya, Senin (10/2).
Menurutnya, masih melanjutkan program ini agar bagaimana pangan yang ada di masyarakat kampung bisa mandiri, minimal dalam pemenuhan karbohidrat bagi kebutuhan keluarga. Dari 133 kampung di 18 distrik sebutnya, hanya dipilih empat kampung saja sesuai dengan kemampuan dana di antaranya Kampung Waetuku di Distrik Jita, dua kelompok di Distrik Mimika Timur Jauh dan satu kelompok di Distrik Kwamki Narama. Sasaran program desa mandiri pangan ini ujarnya, lebih pada desa terjauh, terpencil dan terisolasi (3T). Tahun 2019 lalu, program utamanya budidya sukun. Sukun merupakan makanan pendamping nasi, selain jenis umbi-umbian (petatas dan keladi) dan sagu.
Alasan lain kenapa harus memilih sukun karena proses tanam tidak membutuhkan pemeliharaan.
“Di sana kita bagi bibit, membuat kebun di samping pekarangan. Pembagiannya memang cukup banyak. Tahun ini sistem sulam lagi di lokasi-lokasi yang sama untuk pastikan mungkin ada bibit yang mati,” katanya.
Pemilihan tanaman sukun ini diharapkan ke depan mampu menanggulangi masalah kekurangan gizi, agar masalah distribusi pangan di wilayah 3T bisa terpenuhi sebab, letaknya jauh dari pasar.
Dengan dikembangkan sukun, berharap kampung kategori 3T bisa mandiri pangan dari sisi gizi dan energi. Sebab sukun mengandung karbohidrat cukup baik.
“Lahan yang ada itu dibuka sendiri. Pemberdayaannya diberikan sensor, parang. Kemudian melihat kelayakan lokasi. Khusus di Jita ada tiga kelompok,” katanya.
Ia mengatakan bibit sukun sangat cocok tanam di daerah pantai. Menurut informasi dari petugas penanggulangan bencana bahwa pohon sukun bisa menjadi tempat berlindung ketika terjadi musibah atau bencana tsunami karena pohonnya tinggi besar dan memiliki banyak cambang serta kuat tahan bencana.
Tahun 2020, tambahnya Dinas Tanaman Pangan pengembangan pertanian lebih pada lingkup keluarga dengan memanfaatkan pekarangan. Ada namanya program pusat family farming (keluarga petani). Bagaimana keluarga penuhi kebutuhan pangannya dari pekarangan rumah.
DKP membentuk kurang lebih 15 kelompok. Didukung sumber dana cukup besar dari APBN namun berapa nilainya ia belum tahu persis, hanya sudah dilakukan Memorandum of Understanding (MoU) antara kepala DKP Mimika dengan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Pusat. Ini menunjukan kesiapan daerah. Sekarang lagi menunggu petunjuk teknis (Juknis) setelah ada baru mulai dijalankan.
Di samping itu juga katanya, melanjutkan menyajikan data base ketahanan pangan kepada pimpinan, bahwa OPD teknis yang membina berhubungan dengan pangan, misalnya peternakan, petani bisa diketahui ketersediaan kebutuhan pangan dan karbohidrat serta protein.
Dikatakan, untuk Timika dari sisi ketersediaan pangan ini sudah tercukupi. Sesuai dengan neraca bahan makanan itu 100,5 persen. Misalnya, beras meskipun itu didatangkan dari luar tapi persediaan aman selama ini. Belum mengalami kekurangan jika dilihat dari kebutuhan pertahun dan berapa yang diproduksi. Begitupun tercecer untuk ternak. Bahkan sesuai data statistik tahun 2019 melebihi.
“Data ini kita peroleh dari OPD terkait. Misal pangan yang keluar ke kabupaten dan berapa untuk Timika sendiri. Dari Disperindag, Disnak-Keswan, Pertanian dan bagaimana cara pendistribusian. Itu di-update setiap tahun pola produksi dan distribusinya maupun pola konsumsinya,” jelanya.
Untuk pola konsumsi katanya, lebih pada bagaimana membina ibu-ibu dalam percepatan mengolah keanekaragaman konsumsi pangan lokal menjadi makanan bernilai gizi. Misalnya, lewat lomba menciptakan menu makan dengan standar gizi. Pesertanya diundang dengan dewan juri dari orang profesional. Biasanya mendatangkan dewan juri dari asosiasi persatuan chief, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Dinas Kesehatan, jika ada menu baru dari masyarakat dan PKK diberi nilai mana yang menarik sesuai cara masak.
Ia menambahkan lomba tahun ini melibatkan tujuh distrik yang bisa terjangkau di antaranya Mimika Baru, Kuala Kencana, Wania, Iwaka, Mimika Timur dan Kwamki Narama.
“Bagi yang menang tingkat distrik akan diikut sertakan dalam lomba tingkat kabupaten. Itu pola konsumsi. Kita mengawasi makanan segar sayur mayur. Mengukur kadar kandungan racun berapa,” katanya.
Sejauh ini memang belum ditemukan kadar zat racun pada sayuran segar mungkin petani keluarga lebih banyak gunakan pupuk organik. “Setiap tahun terus meningkatkan jumlah tenaga pengawas bekerjasama dengan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Kita lebih pada pengawasan pangan segarnya yang dihasilkan di pekarangan,” katanya.
Tugas Dinas Ketahanan Pangan (DKP) menurutnya, lebih pada konsep pembinaan tanaman pekarangan. Programnya ‘rumah pangan lestari’.
“Kalau petani pekarangan cenderung pupuk organik, sebab bukan dalam usaha skala besar dan pengendalian tanamannya secara manual. Berdasarkan progran Badan Ketahanan Pangan Pusat mewajibkan setiap keluarga minimal tanam 75 pohon dalam media bahan bekas awet. Dari 75 pohon ini keluarga bisa konsumsi pangan sehat dan hemat biaya belanja, juga mengurangi inflasi daerah,” jelasnya.
Misalnya, Timika ini daerah dengan kebutuhan cabe tinggi. Jika setiap keluarga menanam 10 pohon cabe sudah sangat membangun kebutuhan ekonomi keluarga. (tio)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.