Hog Cholera, Penyakit Menular pada Babi dan Manusia

0
56
Foto: Dok./TimeX drh. Bakti Erma Surfami

Namun di luar dari Hog Cholera sebutnya, ada jenis penyakit lain yakni cacing, gatal-gatal, kulit, kaki bengkak, kekurangan zat besi. Ini penyakit tidak menular namun bisa merugikan peternak.

Foto: Dok./TimeX
drh. Bakti Erma Surfami

TIMIKA,TimeX
Namanya ternak pasti ada risiko pada penyakit. Baik unggas maupun babi. Hog Cholera (HC) babi itu ada sifatnya penyakit menular berbahaya biasa menyerang babi lain maupun manusia. Namun hingga saat ini untuk di Timika belum ada. Tetapi kerugian para peternak bukan saja pada penyakit, melainkan ada juga penyebab lain membuat peternak tidak untung.
Demikian disampaikan drh. Bakti Erma Surfami, Kepala Bidang Kesehatan Hewan pada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak-Keswan) Kabupaten Mimika saat ditemui Timika eXpress di ruang kerjanya, Rabu (12/2).
Ia mengatakan penyakit menular HC sebelumnya sempat terjadi pada tahun 2004, namun sampai saat ini sudah dikendalikan, baik dengan vaksinasi maupun membenah sistem pemeliharaannya sebagai penyebab virus.
Makanya sekarang ada aturan dikeluarkan gubernur melarang pemasukan daging maupun bibit babi dari luar Papua. Khusus untuk wilayah Papua saja. Kebijakan ini sebagai langkah antisipasi menekan risiko penyakit ini muncul lagi.
Namun di luar dari Hog Cholera sebutnya, ada jenis penyakit lain yakni cacing, gatal-gatal, kulit, kaki bengkak, kekurangan zat besi. Ini penyakit tidak menular namun bisa merugikan peternak.
Timbulnya penyakit, katanya disebabkan salah manajemen pemeliharaan. Makanya peternak musti tahu sistem pemeliharaan yang baik. Mulai dari pemberian pakan apakah mengandung zat gizi atau tidak. Sebab itu berhubungan dengan penyakit.
Ia mengakui sejauh ini sesuai pengamatannya dalam pengawasan di lapangan masih ada pemeliharaan sifatnya intensif, semi modern dan tradisional. Itu semua kembali pada pertimbangan peternak karena berhubungan dengan modal dan pemasaran. Biasanya orang yang sudah punya jaringan baik, memilih pola pemeliharaan modern intensif. Artinya sudah menerapkan standar kebersihan kandang yang baik. Penggunaan pakan dari pabrikan bukan hasil sisa makanan. Sementara orang masih pelihara secara tradisional mungkin belum tahu caranya mencari terobosan, jika pelihara banyak mau dijual kemana? Kemudian faktor terbatasnya modal. Selain itu penjualannya masih harap pada kebutuhan penduduk lokal.
Untuk di Timika saat ini katanya, ternak babi sudah menjadi potensi usaha menjanjikan. Sebab tingkat kebutuhan konsumsinya juga tinggi. Saat ini perbandingan masyarakat pelihara babi mendekati semi intensif secara modern 65 persen dan 35 persen masih tradisional. Tingkat keberhasilan mereka masih baik meskipun tanpa ada pekerjaan formal tetap. (tio)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.