Masker di Timika Mulai Langka, Reynol Ubra: Batuk dan Bersin Harus Beretika

0
86
Foto: Swafoto/TimeX MASKER - Linda Bubunlangi (kanan) bersama Yosefina Dai Dore, dua redaktur Timika eXpress mengenakan masker cegah virus corona saat bekerja, Rabu (3/3).

“Batuk dan bersin juga harus beretika, artinya tidak batuk di depan orang lain tanpa menggunakan pelindung seperti tisu, saputangan atau masker”

Foto: Swafoto/TimeX
MASKER – Linda Bubunlangi (kanan) bersama Yosefina Dai Dore, dua redaktur Timika eXpress mengenakan masker cegah virus corona saat bekerja, Rabu (3/3).

TIMIKA,TimeX
Masker di Timika saat ini mulai mengalami kelangkaan. Pantauan Timika eXpress Selasa (3/3), di sejumlah apotik dan toko yang biasanya menjual masker kini mulai kosong.
Hal itu lantaran dua warga negara Indonesia (WNI) positif terinfeksi virus corona atau covid-19, menyebabkan banyak warga yang mulai khawatir dan mulai mencari masker untuk meminimalisir kemungkinan dijangkiti virus.
Sejumlah warga juga mulai mengeluhkan kosongnya masker dalam waktu singkat ini.
Sri Yanti, salah seorang warga di Jalan Hasanuddin, kepada Timika eXpress mengungkapkan, warga yang didiagnosa memang berada di Jawa sana, namun dengan tingginya arus keluar masuk penduduk dari dan ke Timika, tentunya menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat.
“Kita kan tidak bisa deteksi, dan Presiden sendiri sudah sarankan untuk wajib memakai masker,” tuturnya.
Terkait dengan hal itu, Reynol Ubra, Plt Kepala Dinas Kesehatan, yang dikonfirmasi Timika eXpress, tadi malam mengatakan, masyarakat di Mimika tidak perlu cemas akan penularan covid-19.
“Penularan virus ini kan antara manusia dengan manusia yang kontak dekat,” tuturnya.
Karena itu, untuk mencegah penularannya yang harus dilakukan masyarakat adalah dengan menjaga kebersihan dan imun (kekebalan, red) tubuh, salah satunya dengan memastikan selalu membersihkan tangan.
“Batuk dan bersin juga harus beretika, artinya tidak batuk di depan orang lain tanpa menggunakan pelindung seperti tisu, saputangan atau masker,” tambahnya.
Lanjutnya, perlu diketahui, batuk atau pilek bukan berarti terinfeksi covid-19, karena itu ia berharap masyarakat tidak khawatir berlebihan.
Dikatakan bukan hanya masker yang mencegah penyebaran virus tetapi perlu menjaga kebersihan tangan, sebab tangan menjadi sumber berbagai bakteri, sehingga dengan rajin mencuci tangan dan menggunakan cairan pembersih tangan (hand sanitizer) juga bisa membantu.
Terkait dengan kelangkaan masker di Timika saat ini menurut Reynold, menunjukkan bahwa masyarakat di Timika semakin cerdas dalam hal kesadaran akan kesehatan.
Dengan cuaca yang cukup ekstrim akhir-akhir ini, ia juga menyarankan masyarakat untuk tidak terlalu terpapar dengan matahari dan debu yang mengandung banyak bakteri, perbanyak mengkonsumsi air jangan sampai dehidrasi, sehingga daya tahan tubuh terjaga.
“Saya senang karena respons masyarakat untuk menjaga kesehatan sangat baik,” imbuhnya.

Tegur Bila Orang yang Batuk Pilek Tak Pakai Masker
Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto meminta masyarakat tidak segan menegur orang yang menderita batuk dan pilek tapi tidak mengenakan masker.
“Kita minta yang sakit pakai masker, dan mari kita tegur dengan cara yang baik apabila teman kita batuk dan pilek tidak pakai masker,” kata Yuri di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa.
Sebelumnya Presiden Joko Widodo memastikan persediaan masker di pasar dalam negeri kurang lebih mencapai 50 juta sehingga masyarakat diminta untuk tidak perlu panik.
Di pasar, keberadaan masker sempat dikeluhkan sebagian masyarakat karena dinilai langka, yang diduga salah satunya karena ada aksi borong masker oleh sejumlah kalangan yang merasa panik, termasuk masyarakat yang tidak sakit, namun ikut memborong masker.
“Virus ini akan masuk ke mulut kita, sekalipun kita pakai masker dan itu yang tidak bisa dihindari. Misalnya, ada orang lagi batuk ditutup pakai tangan, tutup lagi sedikit, kemudian kita pakai masker kemudian ditutupi, lalu makan gorengan, setebal apapun masker yang kita pakai kalau kita dapat gorengan pasti dibuka,” kata Yuri.
Dia juga meminta agar masyarakat dapat memahami karakter virus Covid-19.
“Virus itu tidak akan bisa hidup sendiri. Dia membutuhkan inang, dia hanya bisa hidup di sel yang hidup, sama dengan pohon ada benalu di pohon. Benalu ini bisa hidup kalau pohonnya hidup. Kalau pohonnya mati, pasti benalunya mati/ Demikian juga dengan virus, dia hidup dalam sel yang dihidup,” ungkap Yuri.
Sel yang hidup itu ada di saluran penapasan yang sakit, pada saat kemudian orang tersebut berbicara, batuk, maupun bersin selnya terlepas, lalu terlempar dan itu disebut droplet (percikan).
“Oleh karena itu logika kita, sehebat apapun itu, droplet atau percikan ludahnya terlempar sekitar satu meter. Oleh karena itu persyaratannya adalah kontak dekat. Kedua, sel manusia apabila lepas dari tubuh manusia, di dalam iklim dengan paparan ultraviolet, suhu, rata-rata hanya akan bertahan 10-15 menit. Setelah itu akan mati baik indoor atau outdoor,” kata Yuri.
Ia memisalkan seperti percikan darah manusia bila tertetes di mana pun juga sel darah akan mati, begitu sel di dalamnya pasti akan mati.
“Pertanyaannya apakah logis kalau pertanyaannya tanpa kontak dekat, jarak jauh bisa sakit? Tidak mungkin. Oleh karena itu, cara yang paling gampang mengendalikan adalah siapapun yang sedang sakit, entah itu batuk, pilek, entah itu karena Covid-19, sebaiknya menggunakan masker supaya percikan droplet dia tidak kemana-mana. Supaya yang lainnya dipenjara, kan ini virusnya dipenjara,” ucap Yuri.
Maksudnya, bukan droplet orang sehat yang terpenjara di masker, tapi droplet orang sakitlah yang terpenjara.

“Di dalam kehidupan sosial kita yang jahat aja yang dipenjara, bukan yang tidak jahat tidak dipenjara. Cara berpikirnya jangan dibalik, penjahatnya dibiarkan berkeliaran, kita yang masuk penjara semua. Ini pengertian tentang virus itu begitu,” ungkap Yuri.
Hingga Selasa (3/3) pagi terkonfirmasi di dunia ada 90.427 orang yang terinfeksi Covid-19 dengan 3.116 kematian, 47.928 orang yang dinyatakan sembuh. Kasus di China mencapai 80.143 kasus, di Korea Selatan 4.335 kasus, di Italia 2.036 kasus, di Iran 1.501.
Tingkat kematian di Iran menjadi yang paling tinggi di luar China yaitu 66 kematian dibanding kasus yang positif. Sudah ada 65 negara termasuk Indonesia yang mengonfirmasi kasus positif Covid-19 di negaranya.(ozy/ant)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.