94 Anak SD Ikut Lomba Cerita Rakyat

0
64
Foto: Indri/TimeX CERIAH – Anak-anak peserta lomba cerita terlihat ceriah foto bersama Sihol Parningotan, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Mimika didampingi Benediktus Renyaan, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah usai acara pembukaan di Hotel Horison, Jumat (6/3).

Program dari Perpustakaan Nasional dalam menumbuhkan minat baca anak-anak, yaitu dengan  mendatangi desa-desa, termasuk sekolah-sekolah. Cerita yang paling terkenal di Mimika adalah ‘Damara Sang Penakluk Naga’. Ini bercerita suatu wilayah di Mimika, ada perkampungan yang ambil sagu ada naga datang menghabiskan warga satu kampung, hanya tersisa seorang ibu yang sementara pengandung, dan ibu itu melahirkan anaknya dinamai Damar.

Foto: Indri/TimeX
CERIAH – Anak-anak peserta lomba cerita terlihat ceriah foto bersama Sihol Parningotan, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Mimika didampingi Benediktus Renyaan, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah usai acara pembukaan di Hotel Horison, Jumat (6/3).

TIMIKA,TimeX

Sembilan puluh empat anak tingkat SD, utusan dari beberapa SD di Kabupaten Mimika lomba cerita rakyat dalam mengasah kemampuan. Lomba ini  digagas Dinas Perpustakaan dan Arsib Daerah Kabupaten Mimika ini dibuka oleh Sihol Parningotan, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan berlangsung di Hotel Horison Ultima Timika, Jumat (6/3).

Sihol Parningotan dalam sambutan menekankan kemampuan dan kesenangan membaca merupakan modal dan faktor penting dalam penyelenggaraan pendidikan, baik formal maupun non formal, dalam rangka meningkatkan pembangunan masyarakat untuk hidup lebih cerdas, berwawasan luas dan tangkas dalam menghadapi peluang dan tantangan era globaliasi saat ini.

Menurutnya, pembudayaan kegemaran membaca perlu ditanam pada anak-anak sedini mungkin. Menghidupkan budaya baca tidak cukup hanya oleh guru dan komunitas di sekolah saja, namun peran serta orangtua, masyarakat, pemerintah dan lembaga swasta yang peduli juga merupakan  faktor penting yang sangat diharapkan.

Pesan melalui tradisi lisan  (cerita) ujarnya, merupakan salah satu aset daerah yang sebagian sudah diabaikan, namun melalui lomba-lomba seperti ini, bila diangkat kembali akan dapat membangkitkan cerita anak terhadap budaya daerah yang dikemas dan dipentaskan secara baik, indah dan akan menumbuhkan rasa kekaguman terhadap khasanah kekayaan budaya lokal daerah. Hal ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dalam rangka membudayakan kegemaran membaca secara terus menerus, agar nantinya memiliki generasi penerus bangsa yang cerdas, kuat dan bermanfaat.

Selain itu, Benediktus Renyaan, Kepala Dinas Perpustakaan dan Aset Daerah  dalam sambutan menyampaikan melalui cerita, anak-anak dapat mengolah intonasi, seperti memberikan tekanan dan mana yag halus dalam menyampaikan cerita rakyat. Banyak hal dapat dilakukan oleh anak-anak untuk mengapresiasikan cerita, serta menjiwai cerita pada saat tampil di depan panggung.

“Saya tahu bahwa ada sekolah yang membawa anak- anak lebih dari satu, bahkan lima anak untuk mewakili sekolahnya. Ini hal luar biasa untuk tahun ini, karena tahun-tahun sebelumnya hanya melibatkan satu anak satu sekolah,” katanya.

Ivent cerita rakyat ini, merupakan ivent tahunan  yang dilaksanakan di tingkat kabupaten, provinsi bahkan tingkat nasional.

Pemkab Mimika memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bisa bersaing dari anak-anak di daerah lain. “Kita bisa bercerita apa yang menjadi budaya di Papua, dengan model penyampaian yang berfariasi,” katanya.

Bupati telah menyiapkan dana setiap tahun untuk membiayai dua siswa dan dua guru pendamping yang mendapat juara satu dan dua di tingkat kabupaten untuk mengikuti lomba ke provinsi, dan jika menang tingkat provinsi maka sang juara akan berangkat ke Jakarta mengikuti lomba cerita rakyat tingkat nasional.

“Kalau kelas VI sudah tidak bisa lagi ikut lomba, karena akan menghadapi ujian, dan hanya untuk kelas III dan kelas IV. Saya harap kepala sekolah miliki atensi penuh untuk menyiapkan anak-anak,” ujarnya.

Suharsono, Kepala Bidang Pengelolah Pustaka di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam sesi wawancaranya ia menyampaikan, dalam lomba cerita rakyat ini ada tiga hal perlu  dipegang, yakni untuk meningkatkan minat baca anak-anak terutama cerita di daerahnya masing-masing, menumbuhkan kecintaan dengan budaya lokal agar anak-anak mengetahui cerita mana saja yang dituangkan dalam cerita dan dapat menumbuhkan dan berkembangnya nilai–nilai nasional. Dalam lomba peserta harus bisa menguasai bacaan cerita rakyatnya dan bisa mengapresiasi.

Ia menambahkan program dari Perpustakaan Nasional dalam menumbuhkan minat baca anak-anak, yaitu dengan  mendatangi desa-desa, termasuk sekolah-sekolah. Cerita yang paling terkenal di Mimika adalah ‘Damara Sang Penakluk Naga’. Ini bercerita suatu wilayah di Mimika, ada perkampungan yang ambil sagu ada naga datang menghabiskan warga satu kampung, hanya tersisa seorang ibu yang sementara pengandung, dan ibu itu melahirkan anaknya dinamai Damar.

Disamping itu di Perpustakaan Nasional saat ini memiliki program menulis buku. Artinya semua cerita rakyat tidak hanya di Mimika saja, namun seluruh kabupaten/kota dapat membuat dokumentasi karya dalam buku cerita rakyat.

“Dan kami ada di Perpustakaan mengumpulkan cerita-cerita rakyat yang ditulis oleh masyarakat,” pungkasnya. (a30)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.