Umat Katolik Rayakan Minggu Palma dengan Sederhana, Yesus Hamba Yahwe Siap Menderita

0
94
Foto: Ist./TimeX SEPI –Suasana Gereja Katedral Tiga Raja nampak sepi.

“Ia meraja atas hidup kita dan sebagaimana dalam bacaan-bacaan yang kita renungkan sebentar, Yesus datang sebagai raja, hadir sebagai manusia, Yesus sebagai hamba Yahwe yang siap menderita untuk menebus dosa umat-Nya”

Foto: Ist./TimeX
SEPI –Suasana Gereja Katedral Tiga Raja nampak sepi.

TIMIKA,TimeX
Umat Katolik seluruh dunia termasuk wilayah Keuskupan Timika merayakan ekaristi kudus Minggu Palma, 5 April 2020 berlangung sederhana tidak seperti biasanya. Hal ini seperti dilaksanakan di Paroki Katedral Tiga Raja. Misa Minggu Palma ini dipimpin oleh RD Oktovianus Paena, pastor rekan Paroki Gereja Katedral Tiga Raja didampingi RD Floribertus Josep. Misa dimulai pukul 09.00 WIT ini disiarkan melalui Radio Suara Tiga Raja, FM 104 Mhz, serta live streaming Facebook Paroki Katedral Tiga Raja. Misa tanpa umat ini mengikuti imbauan pemerintah tidak boleh mengumpulkan massa dalam jumlah banyak, physical distanding (jaga jarak) dalam memutus matarantai penyeberan pandemi corona, merupakan kali kedua dari sebelumnya, misa Minggu Prapaskah ke V.
RD Okto Paena dalam kata pengantar awal misa mengemukakan Gereja sebagai umat Allah mengenang kembali peristiwa Yesus disambut oleh kelayak ramai sebagai raja damai. Mereka menyeruhkan hosana-hosana putera Daud. Diberkati oleh yang datang sebagai raja, kerajaan Tuhan memang bukan dari dunia ini. Tetapi kerajaan Tuhan hadir dan nyata dalam hati bapak, ibu dan saudara-saudari.
“Ia meraja atas hidup kita dan sebagaimana dalam bacaan-bacaan yang kita renungkan sebentar, Yesus datang sebagai raja, hadir sebagai manusia, Yesus sebagai hamba Yahwe yang siap menderita untuk menebus dosa umat-Nya,” jelasnya.
Kesetiaan Yesus jelasnya, ditunjukan pada kisah sengsara-Nya dan berpuncak pada kayu salib. Hendaknya perayaan Minggu Palma di mana Yesus dieluk-elukan dan Yesus hadir sebagai hamba yang setia menjadi pengalaman iman umat dalam kehidupan masing-masing.
Sementara dalam kotbah, RD Okto menegaskan ada semacam satu istilah bahwa setia kepada orang yang lebih kuat dan berkuasa, itu lebih mudah dilakukan daripada setia kepada teman atau sama saudara yang mungkin namanya jelek, tidak dikenal oleh banyak orang, orang biasa-biasa saja atau dia tidak disukai dan dimusuhi oleh banyak orang.
“Lebih mudah kita berbagi, bergaul dan menyapa orang sebagai teman, karena ia adalah pimpinan kita, punya status sosialnya tinggi. Atau mungkin ia orang kaya, daripada kita bergaul dengan seseorang yang mendapat lebel sosial dalam masyarakat sebagai pemabuk, pencuri dan pezinah,” katanya.
Kesetiaan manusia menurutnya, kadang bisa diukur dari hal-hal seperti itu. Sehingga kadang tanpa disadari telah menciptakan suatu gep atau pemisah dalam membangun suatu hubungan relasi sosial.
Kesetiaan sesungguhnya katanya, ialah tergambar dalam Kitab Nabi Yesaya yang telah didengar pada bacaan pertama. ‘Sebab itu aku telah meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, karena aku tidak mendapat malu’. Kesetiaan seorang murid Yesus adalah tetap bertahan pada cita-citanya meskipun kadang, ia dipengaruhi untuk menghindar. Keadaan memaksakan dia untuk mengubah haluan namun sebagai murid Kristus, ia tetap bertahan pada prinsip hidup dan pendiriannya.
Pribadi Yesus lanjutnya, adalah wujud dari keutamaan kesetiaan itu sendiri. Yesus tetap setia kepada bapak-Nya meskipun Ia kadang harus mendapat cercaan, hinaan bahkan mendapat hinaan dari para ahli-ahli taurat dan pembesar Yahudi.
Apakah Engaku seorang Raja? Apakah Engkau seorang nabi yang kami tunggu? Ataukan seorang utusan Allah yang kami nanti-nantikan?
Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan seperti ini sengaja dimunculkan oleh lawan-lawan politik Yesus untuk menyudutkan jati diri-Nya sebagai putera Allah. Akan tetapi coba diperhatikan apa yang Yesus lakukan kepada mereka, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka itu.
Yesus katakan kepada mereka, kalau kerajaan-Ku dari dunia ini pasti para pengikut-Ku atau prajurit-Ku sudah bangkit untuk melawanmu atau melindungi Aku. Namun kerajaan-Ku bukan dari dunia ini. Kerajaan-Ku ialah mereka yang percaya kepada-Ku dan melakukan setiap apa yang dikehendaki oleh bapak-Ku. Ini adalah salah satu cara penyerahan hidup secara total kepada kehendak Allah.
Sikap Yesus sebagai hamba Allah memang agak sulit ditemuka dalam hidup manusia saat ini sehari-hari. Sebagai umat beriman umumnya, tidak mudah untuk menerima sebuah penderitaan sebagai kehendak Allah tanpa ada dorongan dari dalam diri untuk mengelak atau memberontaknya. Hanyalah Yesus yang mampu melakukannya. Ketika Ia dicacimaki, Ia tidak membalas dengan mencacimaki. Ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam juga. Tetapi malah Ia menyerahkan dirinya-Nya kepada dia yang menghakimi dengan adil.
“Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib. Supaya kita yang telah mati kerena dosa, kita dapat hidup untuk kebenaran itu sendiri,” katanya.
Sikap Yesus terhadap penderitaan-Nya memberi daya dorong untuk tetap setia dan taat kepada kehendak Allah, meski mengalami banyak kesusahan dan penderitaan.
Di tengah penderitaan dan kesusahan itu, harus menyakini bahwa kesusahan dan penderitaan karena setia kepada kehendak Allah, itu tidak akan pernah membuat umat-Nya dipermalukan, karena Allah tampil sebagai Allah yang penuh kasih, Allah yang mampu menolong dan membenarkan umat-Nya.
“Sebagai orang beriman perlu menerima, merangkul dan menyatukan penderitaan karena iman kita, dan berbuat baik kita bersama penderitaan Kristus. Bukankah Yesus telah bersabda kepada kita, jika seseorang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salib-Nya dan mengikuti Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, dan karena Injil, ia telah menyelamatkannya,” jelasnya.
“Sikap kesetiaan kita kepada Allah ialah seperti yang dialami saat ini. Setia untuk menjaga keluarga kita, anak-anak kita agar tidak keluar rumah karena virus corona. Kesetiaan kita ini akan membantu para tenaga medis (dokter dan perawat) dalam memutus matarantai penyebaran pandemi COVID-19, agar tidak perlu terlalu kerja keras hanya untuk menemani dan melayani maupun merawat setiap pasien yang terpapar corona,” pesannya.
“Anda dan saya adalah garda terdepan dalam menjaga kesehatan dan keselamatan keluarga. Bukan soal kesehatan kita saja, tetapi ini semua kita lakukan demi kelangsungan hidup kita yang lagi-lagi terancam oleh virus mematikan ini yang hingga kini belum ada obatnya,” pungkasnya. (antoniusdjuma)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.