Pastor Amandus: Berhenti Meneruskan Surat Berantai di Medsos

0
156

TIMIKA, TimeX

Amandus Rahadat, Pr, Pastor Paroki Gereja Katedral Tiga Raja,  melarang umat untuk meneruskan surat berantai yang sering dikirimkan melalui Mesengger Facebook maupun media sosial lainnya. Pasalnya, akhir-akhir ini di media sosial (medsos) marak adanya pesan berantai, yang membuat Pastor Amandus menulisnya dalam postinganya di Facebook.
Pastor Amandus Rahadat

Amandus Rahadat, Pr, Pastor Paroki Gereja Katedral Tiga Raja,  melarang umat untuk meneruskan surat berantai yang sering dikirimkan melalui Mesengger Facebook maupun media sosial lainnya.

Pasalnya, akhir-akhir ini di media sosial (medsos) marak adanya pesan berantai, yang membuat Pastor Amandus menulisnya dalam postinganya di Facebook.

Pastor Amandus mengatakan sebagaimana postingannya, saat ini sedang marah, lantaran dirinya melihat, setelah imbauan untuk tetap di rumah dilakukan oleh warga, “virus lain” meneyerang umat yakni melalui media sosial.

Virus tersebut lanjut dia adalah “virus corona surat berantai” yang isinya dapat Rahmat kalau disebarkan surat berantai itu kepada 10 orang teman lain atau dapat bencana atau malapetaka kalau tidak diteruskan kepada 10 orang lain.

“Sebagai pastor paroki, Saya sudah berkali-kali menghimbau umatku dari mimbar Katedral Tiga Raja, bahkan sampai level melarang kebiasaan like dan forward pesan berantai itu,” tulis Pastor Amandus. Namun, ternyata masih ada lagi yang terus menerima dan melanjutkan kepada teman.

“Mereka pikir pastor bohong atau power rohani dari Seruan Gembala dari pastormu kurang berbobot ?,” tulisnya lagi.

Lanjutnya, pada kesempatan pekan suci, menjelang tri hari suci, ia mengirimkan seruan dari Mgr. Ignasius Suharyo dan Mgr. Antonius Benjamin ,OSC selaku  Pimpinan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), mewakili Para Uskup dimana seruan tersebut sudah lama ada.

“Saya pakai kesempatan retret agung pekan suci ini dengan mengirim kembali seruan tersebut sebagai bahan refleksi untuk umat,” tutur Pastor Amandus.

Tidak hanya itu, Pastor Amandus juga menuliskan himbauan dari KWI untuk semua umat katolik diantaranya, bahwa Gereja tidak mempercayai atau mendorong setiap umat yang beriman untuk terlibat dengan surat berantai, SMS berantai, email berantai dan lain – lain. Hal semacam ini memberikan gambaran salah tentang Tuhan.

Kemudian jenis-jenis doa berantai ini berasal dari okultisme dan oleh karena itu berbahaya. Ini tidak berasal dari Tuhan. Pada subjek Doa. Doa tidak memiliki kuasa, tapi Tuhan yang memiliki kuasa, yang penting adalah iman manusia kepada Tuhan dan bukan kepada doa, “Tuhan mendengar doa bahkan ketika doa tidak dikatakan Iman umat kepada Tuhan harus seyakin harapan bahwa Dia mengasihi manusia umatNYA, tidak peduli apapun,” pesannya.

Tidak ada apapun (benar-benar tidak ada apapun) yang dapat kita lakukan untuk menerima kebaikan Tuhan. Mereka sudah menjadi milik kami pada waktu meminta, karena apa yang telah Yesus lakukan bagi kita di Kayu Salib. Yesus berkata “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu, (Mat 7: 7) tanpa syarat, tidak ada kondisi yang harus dipenuhi, Yesus telah melakukan segalanya bagi kita di Kayu Salib,  sudah selesai.

“Kami tidak bisa membeli  berkat Tuhan dengan doa novena dan doa berantai dan lain-lain Dia telah memberikan segalanya kepada kita di dalam Putera-Nya Yesus. Tidak ada yang lebih lagi yang dapat Allah berikan kepada kita. Ketika Dia memberikan Putera-Nya, Dia memberikan semua isi Surga kepada kita (Rm 8:32),” kutipnya.

Lanjutnya, tidak ada yang salah dalam berdoa novena, tapi ketika kita mengatakan kita harus menyebarkannya ke banyak orang dan tidak boleh putus, itu pasti salah, lebih buruk lagi ketika kita mengatakan pada hari ke-4 atau ke-5 ini akan terjadi, itu akan terjadi, mukjizat akan terjadi dan lain-lain, itu seperti perjudian.

“Tuhan tidak pernah berjudi. Dia memberi karena ia mencintai kita. Hal ini sangat sederhana, iman seperti anak kecil,” katanya lagi.

Lanjutnya, jenis-jenis doa semacam ini adalah takhayul dan berasal dari okultisme. Dan terlibat dengan okultisme adalah berbahaya. Walaupun begitu, sebagian besar umat Katolik sangat percaya takhayul. Karena itu ia mengajak umat membaca Alkitab dan memahami ajaran resmi Gereja, dalam katekismus Gereja Katolik, dokumen resmi, ensiklik, dan lain – lain, Ada banyak dokumen di website otentik dan di dalam buku-buku.

Poin lainnya adalah mengajak umat kembali ke sifat Allah, Allah adalah kasih (1Yoh 4:8), Dia hanya mengasihi kita. Dia mengasihi sehingga Dia memberikan Putera-Nya yang tunggal (Yoh 3:16).

“Kita tidak bisa memelintir tangan-Nya dengan doa berantai, dan yang lebih buruk lagi beberapa orang berpikir, jika mereka melanggarnya sesuatu yang buruk akan terjadi. Ini ketakutan, tidak ada rasa takut pada mereka yang berada dalam kasih Tuhan,  bahkan sebenarnya kasih yang sempurna (dari Allah) mengusir semua ketakutan (1Yoh 4:18),” katanya.

Pastor Amandus juga menuliskan imbauan, semua harus berkata kepada dirinya sendiri: “Kapanpun saya menerima email, sms, dan lain sebagainya, saya hanya menekan Delete,”.

Sebagian besar orang melakukannya karena ketidaktahuannya tetapi perlu mendidik dan membantu satu sama lain.

“Sebarkan pesan ini ke sebanyak mungkin orang,Terima kasih,” tutup Pastor Amandus dalam tulisannya.(a32).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.