Salib Yesus Mengajarkan Cinta dan Kesetiaan

0
97

“Situasi saat ini termasuk salib yang paling berat yang harus kita pikul dengan cinta dan setia, yaitu bersama-sama melawan virus corona. Ini adalah salib global yang harus kita tantang, pegang bersama,  baik pemerintah, dunia kesehatan, organisasi-organiasi kemanusiaan dan keagamaan, mari kita saling bahu-membahu untuk memeranginya”

TIMIKA, TimeX

Perayaan misa Jumat Agung mengisahkan napak tilas atau kisah sengsara Yesus yang setia memikul salib sampai ke puncak Golgota, ini mau mengajarkan kepada kita umat manusia tentang cinta dan kesetiaan.
JUMAT AGUNG-Suasana perayaan misa Jumat Agung yang dipimpin RD Okto Taena.

Perayaan misa Jumat Agung mengisahkan napak tilas atau kisah sengsara Yesus yang setia memikul salib sampai ke puncak Golgota, ini mau mengajarkan kepada kita umat manusia tentang cinta dan kesetiaan.

“Yesus saja tidak pernah meningalkan salib ketika ia jatuh, Ia malah bangun dan melanjutkan perjalanannya hingga wafat di kayu salib”.

Demikian pesan religi melalui homili (khotbah) yang disampaikan RD Okto Taena pada perayaan misa Jumat Agung di Gereja Katedral Tiga Raja, Jumat (10/4).

Pasotor Okto pada perayaan misa secara live streaming dan dipancarluaskan melalui Radio Suara Tiga Raja dan Radio Publik Mimika (RPM), juga mengajak umat Katolik khususnya dan masyarakat Mimika untuk menyikapi situasi pandemi global virus corona baru (Covid-19) saat ini.

“Situasi saat ini termasuk salib yang paling berat yang harus kita pikul dengan cinta dan setia, yaitu bersama-sama melawan virus corona. Ini adalah salib global yang harus kita tantang, pegang bersama,  baik pemerintah, dunia kesehatan, organisasi-organiasi kemanusiaan dan keagamaan, mari kita saling bahu-membahu untuk memeranginya,” seru Pastor Okto.

Ia menyebutkan, salah satu cara praktis yang bisa kita lakukan adalah menjaga dan melindngi diri kita, keluarga kita masing-masing.

Pesannya pula, bagi masyarakat yang tinggal di balik gunung atau pesisir yang sempat menangkap siaran ini, untuk tidak melakukan perjalanan keluar dari kampung.

“Tinggallah dulu di rumahmu, tinggallah di kampungmu, daerahmu atau wilayahmu. Karena virus ini bisa hidup dan berkembang kalau kita saling berdekatan dan bersentuhan,”serunya lagi.

Ia menambahkan, situasi kini sungguh suatu pelajaran hidup bagi kita umat kristiani dimana pun kita berada.

“Hidup kita pun harus jalan terus, jangan pernah berhenti untuk hidup, karena ada pergumulan, penderitaan dan tantangan. Mari kita tetap bangkit dan melanjutkan perjalanan hidup kita, karena ketika ada pergumulan hidup, maka saya ajak kita semua pandanglah salib, lihatlah salib itu dan mohonlah kekuatan dari Tuhan agar kita terbebas dari virus corona,” katanya.

Pada bagian pertama misa mengisahkan tentang sengsara Yesus melalui bacaan yang kita dengar, salib merupakan pemandangan yang tidak enak, yaitu tidak enak untuk didengar atau disimak.

Tapi siapa sangka, dibalik peristiwa salib ada kehidupan, sukacita dan kebahagiaan.

“Peristiwa di puncak Golgota, bukan lagi pengalaman yang menyedihkan, melainkan gambaran sebuah pengalaman yang penuh cinta dan kesetiaan, dimana kita bisa merasakan saat Yesus disalibkan,” terang Pater Okto

Ia menegaskan bahwa Yesus tidak pernah ucapkan kata-kata kasar, amarah, dendam atau kebencian.

Melainkan sebaliknya, kata-kata Yesus penuh cinta dan pengampuan, sebagaimana injil menuliskan, “Janganlah engkau menangisi Aku, tapi tangisilah

dirimu dan anak-anakmu. Ya Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”.

Semua perkatan Yesus ini, sambung Okto Pastor  menggambarkan  betapa Ia mencintai manusia dan mengasihi Bapa-Nya.

“Cinta hanya akan tetap sebagai cinta, atau hanya sebatas katatanpa diserta oleh sebuah pengorbanan. Sebab perbuatan baik itu ada karena didorong cinta yang mendalam. Cinta akan mendapakan eksistensinya kalau dilaburi oleh tindakan dan perbutan nyata,” ujarnya.

Lebh lanjut katanya, ketika kita melakukan sebuah tindakan pengrobanan, menurut Pastor Okto, itu karena digerakan oleh sebuah cinta, maka kita mampu melakukan hal-hal yang tidak mungkin menurut kita, tapi itu menjadi mungkin bagi Allah sendiri.

Namun, dalam kehidupan kita, banyak cinta yang kita abaikan karena keegoisan kita mencari kenyamanan dan kenikamatan pribadi semata.

“Contohnya, banyak keluarga kristiani yang tidak bertahan lama karena cintanya rapuh. Banyak pula kelompok atau komunitas sosial dan keagamaan yang bahkan bubar karena tidak didorong oleh cinta dan kesetiaan. Banyak pekerjaan atau tugas yang terbengkelai karena kurang dilakukan dengan mencintai dan mencoba untuk tetap setia.

Karenanya, kata Pastor Okto, cinta tanpa pengorbaan itu bukanlah cinta yang sejati”.

Pasalnya, cinta harus diikuti oleh sebuah pengorbanan, karena disitu kita bisa tahu dan menguji ketangguhan tentang arti sebuah cinta.

“Bukti nyata cinta dan kesetiaan Yesus memikul salib sampai ke puncak Golgota, ini mengajarkan kepada kita tentang sebuah keteladaan, kesetiaan pada salib kita masing-masing yang harus kita pikul dan kita emban setiap hari,” pungkasnya.

Perayaan misa Jumat Agung digelar tanpa prosesi kucup salib, hanya penghormatan semata, sehingga Pastor Okto berpesan kepada umat Katolik megikutinya secara spiritualitas melalui live streaming.

Begitu pula halnya dengan komuni, umat diajak untuk menerima komuni secara rohani.

Pada misa Jumat Agung petang tadi, RD Okto Taena didampingi selebran RD Floribertus Josep yang akrab disapa Pastor Tanto. (ale/vis)

Penulis:Alloysius Lebuan

Editor: Maurits Sdp

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.