Anggota Polres Mimika Aniaya Warga, Kapolres Minta Maaf

0
1500
Foto: Rina/TimeX KETERANGAN - Albert Bolang kuasa hukum korban saat memberikan keterangan kepada wartawan di Kantor Pelayanan Polres Mimika usai melaporkan kasus ini, Jumat (22/5).

TIMIKA,TimeX

AKBP I Gusti Gde Era Adhinata, Kapolres Mimika meminta maaf atas tindakan sejumlah oknum anggotanya (Anggota Polres) yang melakukan penganiayaan terhadap Ayub Jr Hutagaol.


Foto: Rina/TimeX
KETERANGAN – Albert Bolang kuasa hukum korban saat memberikan keterangan kepada wartawan di Kantor Pelayanan Polres Mimika usai melaporkan kasus ini, Jumat (22/5).

BACA JUGA : Nama Asisten II Mimika Dicatut Minta Uang ke Kontraktor

BACA JUGA : Seorang Non Karyawan Ditemukan dengan Luka Tembak di Mile 61

BACA JUGA : Ada Pedagang Pasar Sentral Positif Rapid Test, Empat Security Isolasi Mandiri

Penganiayaan tersebut diketahui saat video berdurasi 4 menit 45 detik ini viral di media sosial, sejak Kamis (20/5).

“Itu memang dilakukan oleh oknum anggota Polres Mimika,” kata Era kepada wartawan di Kantor Pelayanan Polres Mimika, Jumat (22/5).

Dirinya melakukan klarifikasi mengenai video tersebut. Pasalnya itu terjadi 14 Mei 2020 di Nawaripi.
Kata dia, sebenarnya, orangtua dari salah satu anggota Polres Mimika, sempat dipukuli orang mabuk sampai pingsan sehingga oknum ini memanggil teman-teman anggota Polres untuk membantu penanganan permasalahan hal tersebut.

Dan kebetulan pelaku pemukulan sudah lari, namun informasi dari masyarakat bahwa ada warung kopi dimana tempat sering menjadi tempat mabuk dan minumannya dibeli dari salah satu toko, yang dimana korban berada.

Lanjut Era, dari informasi anggotanya, korban mengatakan bahwa minuman ini tidak bisa diproses karena tidak ada alkohol. Selain itu, anggota juga emosi karena, korban sempat mengelak dan mengatakan bahwa tidak ada BB lainnya. Namun, anggota berhasil menemukan BB di warung kopi berada di kawasan Nawaripi.

“Apapun yang dilakukan oleh anggota, saya tegaskan dalam penegakan hukum harus tegas dan terukur. Namun, di lapangan anggota kami melakukan kesalahan karena tidak terukur, sehingga terjadi penganiayaan dan emosi,” katanya.

Ia memastikan akan menindak anggota tersebut sesuai dengam hukum yang ada. Baik secara kedinasan maupun atauran yang lain.
Korban juga secara kooperatif melapor.

Lanjut dia, masyarakat melihat video ini pasti hanya sekilas, tetapi petugas ke wilayah tersebut untuk melakukan pengecekan terhadap penjualan miras karena situasi seperti saat ini, miras tersebut akan menimbulkan dampak yang lebih luas.

“Dalam kesehatan minuman-minuman lokal ini sangat berbahaya bagi masyarakat. Hal ini yang menimbulkan anggota emosi terutama anggota yang rumahnya berada tepat di lokasi tersebut. Dan secara institusi tentunya ini perbuatan oknum tidak semua anggota Polres seperti itu,” ujarnya.

Ditambahkannya, sebagai Kapolres Mimika, pihaknya masih memiliki tugas untuk membenahi perilaku anggota agar lebih profesional, modern dan terpercaya.

“Anggota yang berjumlah lima orang tersebut diamankan dan akan diproses. Dan, saya juga akan mengumpulkan bukti rekaman tersebut secara keseluruhan sehingga jelas bagaimana kronologis awalnya,” katanya.

Tim Advokat Korban Laporkan Penganiaya ke Propam

Sementara itu, Albert Bolang selaku penasehat hukum mengatakan pihaknya ditunjuk oleh korban untuk menangani kasus ini.

“Dia mengalami penganiayaan sehingga secara hukum menerima kuasa kami melaporkan kepada pihak yang berwajib dalam hal ini Polres Mimika. Memang ada video yang sudah beredar tetapi secara resmi kami sampaikan bahwa kami serahkan sepenuhnya kepada penyelidikan karena video ini juga kadangkala ada editan dan lainnya. Tetapi dengan kondisi barang bukti yang ada video yang ada terkait dengan penganiayaan ini terindikasi juga dilakukan oleh oknum termasuk adalah salah satu anggota kepolisian,” jelasnya.

Kata Albert, dengan melaporkannya persoalan ini tidak akan lari kemana-mana. Dan tentunya, terus mengedepankan asas praduga tak bersalah buat pelaku, tetapi juga apa yang sudah serahkan sebagai barang bukti ini menjadi bukti yang kuat untuk pihak penyelidikan karena ini mengarahkan ke kasus kode etik, dalam disiplin dan tindak pidana pengeroyokan 170 KUHP.

Kata dia, soal melakukan razia, itu tugas aparat tetapi prosedur untuk melakukannya sesuai SOP. Ini penjual tuak, dan dia karyawannya bukan pemilik. Kalaupun warung ini dilarang mestinya ada perintah larangan dan kemudian ada tindakan melalui proses perdagangan, tidak ada izin itu kan ada proses perdata biasa yang kemudian dilanggar silahkan di sidik.
Tetapi jika melakukan pemukulan kemudian pengeroyokan dan viral itu yang menjadi sorotan dalam proses.

“Bagaimana institusi oknum ini menjadi pengayom rakyat betul-betul menjalankan kewenangan dia secara profesional. Jadi setelah kita mendalami sedikit, kelihatannya memang ada tindak pidana di lokasi itu yang kemudian mungkin oknum ini diduga tapi ternyata bukan dia. Jadi sedikit ada mis komunikasi dan salah tindakan, salah orang. Kami belum bisa pastikan berapa oknum tetapi ada 5 orang,” katanya.

Dijelaskannya, kejadiannya itu pada tanggal 14 Mei lalu di daerah Nawaripi. Dan pihaknya baru mendapatkan laporan dua hari lalu.

“Kemarin kami melakukan investigasi tentang kebenaran ini, hari ini baru kami laporkan secara resmi. Karena ini, juga kami lakukan dengan dasar bagian dari penegakan terhadap hukum di Timika, tidak melihat oknum polisi atau bukan. Kami lihat tindak pidana itu melanggar hukum. Jadi kita tidak melihat siapapun karena siapapun itu harus taat hukum,” katanya.

Ditegaskannya, negara ini adalah negara hukum, negara yang berdasarkan atas hukum, semua proses yang dilakukan atas dasar hukum.

“Kami serahkan kepada aparat penegak hukum untuk memprosesnya secara hukum. Dan kami berharap juga, jika benar dilakukan oleh oknum, maka Kapolres bisa menjatuhkan hukuman disiplin atau etika sesuai dengan SOP yang berlaku,” pungkasnya.

Penulis : Rinda

Editor : Linda B Langi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.