Distanbun Mimika Buka 780 Hektar Lahan Pertanian

0
36
Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Distanbun) membuka 780 hektar lahan pertanian, yang merupakan program dari Kementrian Pertanian bagi Kabupaten Mimika dalam mengupayakan lahan-lahan yang tidak terpakai agar lebih produktif.
FOTO: Indri/TimeX FOTO BERSAMA-Komisi B DPRD Mimika foto bersama Yohana Paliling, Kadistanbun, saat melakukan kunjungan ke Kantor Distanbun, Rabu (24/6).

TIMIKA,TimeX

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Distanbun) membuka 780 hektar lahan pertanian, yang merupakan program dari Kementrian Pertanian bagi Kabupaten Mimika dalam mengupayakan lahan-lahan yang tidak terpakai agar lebih produktif.
FOTO: Indri/TimeX
FOTO BERSAMA-Komisi B DPRD Mimika foto bersama Yohana Paliling, Kadistanbun, saat melakukan kunjungan ke Kantor Distanbun, Rabu (24/6).

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Distanbun) membuka 780 hektar lahan pertanian, yang merupakan program dari Kementrian Pertanian bagi Kabupaten Mimika dalam mengupayakan lahan-lahan yang tidak terpakai agar lebih produktif.

Demikian diutarakan Ir. Yohana Paliling, Msi, KadisTanbun disela-sela kunjungan Kerja Komisi B, Rabu (24/6) di Kantor Distanbun, KM 7.

Menurut Yohana, tadinya target pembukahan lahan sebesar 800 hektar, namun program dari Kementrian tersebut tidak menjawab itu semua sehingga ada pengurangan menjadi 780 hektar.

“Lahan itu sudah terbuka semua, hanya bibit yang tersedia dari program itu tidak cukup untuk ditanam di lahan seluas ini,” terangnya.

Seperti bibit coklat dan kopi, beda halnya denga bibit kelapa dan saat ini Distanbun membutuhkan sedikitnya 20 ribu, dan itu sudah terjawab semua

Karena 10 ribu diakomodir dari program tersebut dan 10 ribunya lagi merupakan bantuan dari PTFI melalui SLD.

“Kopi dan kakao itu tidak cukup bibitnya, pinang juga masih kurang banyak,” ujarnya.

Untuk itu kata Yohana, pihaknya akan mengajukan penambahan bibit di APBD Perubahan, dengan harapan bisa terakomodir, sehingga lahan-lahan yang sudah dibuka ini bisa ditanami semua.

“Bibit sebenarnya ada, hanya untuk bibit kopi dan kakao ini kita harus datangkan dari luar yaitu dari Soppeng, bibit inipun kita tidak sembarang pengadaan, kita diarahkan oleh kementrian Pertanian, untuk kakao yang unggul hanya di Soppeng saja,” terangnya lagi.

Sedangkan untuk bibit pinang Distanbun mendatangkan dari Jambi, tetapi setelah proses penanaman banyak yang tidak tumbuh.

“Setelah kita pelajari setelah bibit pinang ini masukkan bulan Desember lalu, lambat bongkar muatnya di Pomako, yang tadinya hanya 2 minggu sekarang bisa sampai satu bulan lebih, akhirnya bibit banyak yang rusak,” terangnya.

Namun saat itu untuk pemenuhan bibit pada program semuanya terealisasi.

“Untungnya bibit kita bawa lebih jadi meski rusak banyak tetapi kalau untuk program tercukupi jumlahnya, sehingga tidak perlu beli lagi,” ucap Yohana.

Lanjut Yohana dari pengadaan bibit -bibit ini sebagian besar sudah tertanam

Sebanyak 21 kelompok tani yang turun andil dalam proses penanam bibit -bibit tersebut mulai dari kelapa, kopi, hingga kakao.

Dijelaskan, untuk kopi robusta sebanyak 250 hektar yang sudah tertanam sebanyak 120 ribu masih kurang lagi 84 ribu bibit. Sedangkan untuk kakao sebanyak 250 ribu hektar 135 ribu bibit sudah tertatan, dan masih kurang lagi 550 pohon.

Untuk membuka lahan ini butuh perjuangan yang cukup berat, karena medannya sehingga harus menggunakan alat berat.

“Ini sebenarnya investasi masyarakat kedepan, dari perkebunan rakyat, karena kalau sekali tanam dan pihak yang lain bisa membantu hingga siap panen, rata-rata 3-4 tahun kedepan sudah bisa panen,” terangnya.

Karena setelah masa panen, pemilik lahan harus bisa mandiri.

“Ini yang membuat kami merasa semangat, dengan semua keterbatasan kami, untuk tetap ada di lapangan mendampinggi petani, supaya semangat ini dipelihara bersama-sama, karena ini pekerjaan besar,” ungkapnya.

Dikatakan, Distanbun juga menargetkan di tahun 2025 nanti  bibit kelapa bisa tertanam 3 ribu hektar, jika ingin agar industri bisa berjalan baik. Karena dengan banyaknya hasil perkebunan maka akan memancing industri kopra masuk ke Mimika diikuti industri lain.

Sedangkan limba sabuk kelapa inipun kedepan bisa dimanfaatkan, pasalnya selama ini PTFi mendatangkan sabuk kelapa dari luar Papua.

“Tetapi kalau sampai 2025 kita tanam kelapa, kedepan bahan baku itu bisa ambil disini saja, dan ini merupakan pasar yang bagus selain hasil kelapanya dari sabut kelapanya juga,” katanya.

Sementara itu, Nurman Karopukaro, Anggota dewan dari Partai Gerindra mengaku mengkhawatirkan program pembukaan lahan. Pasalnya ia khawatir akan menghilangkan budaya masyarakat adat.

“Kami takut hutan habis budaya hilang, karena orang Papua supermarketnya itu ada di hutan, bukan perkebunan, untuk itu pembukaan lahan ini harus dilihat secara dari sisi kemanfatannya,” pungkasnya.

Penulis : Indri

Editor   : Linda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.