Usaha Hotel-Restoran Lesu Selama Covid-19, Pemkab Jangan Pilih Kasih Pakai Hotel untuk Kegiatan

0
27
Foto: Dok./TimeX MEMBAGI MASKER - Bram Raweyai, Wakil Ketua Himpunan Peduli Kasih Tionghoa Timika saat membagikan masker kepada warga dan tukang ojek di pangkalan ojek dalam Kota Timika, Selasa (21/4) lalu.

TIMIKA,TimeX

Bram Raweyai, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Mimika sungguh merasakan sektor usaha perhotelan sangat lesu selama masa pandemi Covid-19 yang telah berlangsung sekitar tiga bulan.

Foto: Dok./TimeX
MEMBAGI MASKER – Bram Raweyai, Wakil Ketua Himpunan Peduli Kasih Tionghoa Timika saat membagikan masker kepada warga dan tukang ojek di pangkalan ojek dalam Kota Timika, Selasa (21/4) lalu.

BACA JUGA : Pelni Belum Buka Rute Pelayaran

Jika kondisi seperti itu masih terus terjadi hingga Juli mendatang, Bram memprediksi hampir semua hotel, restoran akan melakukan PHK karyawannya.

“Selama tiga bulan berjalan ini hotel-hotel di Timika pada sepi semua. Tidak ada tamu yang menginap. Kalau kondisi seperti ini sampai bulan Juli, pasti akan terjadi PHK,” kata Bram kepada Timika eXpress, Kamis (25/6).

BACA JUGA : Pengusaha Hotel dan Restoran Gencarkan Promosi

Bram meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika agar tidak pilih kasih dalam memberi perlakuan kepada hotel kalau ada kegiatan pemerintah.

“Kami harapkan kepada Pemkab Mimika kalau ada kegiatan-kegiatan pemerintah, jangan hanya fokus di satu hotel saja, tapi sebaiknya berkat yang ada itu dibagi-bagi ke hotel yang lain supaya kami semua sama-sama hidup dan bisa bertahan disituasi seperti ini,” harapnya.

BACA JUGA : Ketua MKKS SMK Tolak Pernyataan Dewan Sekolah Digratiskan

Bram menuturkan meskipun penurunan okupansi hotel maupun tamu yang makan di restoran hingga 90 persen, namun hingga kini belum ada satupun karyawannya yang di-PHK.

“Kami bisa saja PHK karyawan karena usaha kami merugi, tapi kasihan karyawan itu mau makan apa kalau kita PHK, bagaimana nasib mereka. Sampai sekarang kami tetap berikan gaji penuh untuk karyawan sembari berharap situasi ke depan semakin lebih baik,” ujarnya.

Saat ini Hotel dan Restoran Cenderawasih 66 yang beralamat di Jalan Cenderawasih 66 SP2 Timika itu mempekerjakan 130 orang karyawan.

Menurutnya, keluhan para pengusaha hotel, restoran itu telah dibahas bersama seluruh anggota PHRI.

Sejauh ini, katanya, PHRI Mimika hanya bisa mengharapkan adanya kebijakan Pemkab Mimika yang pro terhadap keberlangsungan dunia usaha.

PHRI menyambut positif kebijakan pengurangan pajak hingga 50 persen yang diberlakukan oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Mimika sejak Maret hingga Juni.

“Hanya satu yang kami minta, tolong Pemkab Mimika perhatikan seluruh hotel-hotel yang ada. Jangan hanya fokus di satu hotel saja. Kami punya hak yang sama untuk survive di daerah ini, toh kami semua juga membayar pajak yang sama ke Pemkab Mimika,” ujar Bram.

Adapun tamu yang masih menginap di Hotel Cenderawasih 66 Timika yaitu sekitar 10 persen merupakan peserta dari Jakarta dan daerah lain di Indonesia yang datang ke Timika sejak Maret untuk meninjau kesiapan PON XX Papua.

Mereka tertahan selama lebih dari tiga bulan di Timika lantaran tidak ada penerbangan sejak 26 Maret.

Bram menambahkan, penutupan akses penerbangan dari dan menuju Bandara Mozes Kilangin Timika sejak 26 Maret dan baru dibuka kembali pada pertengahan Juni ikut memukul sektor perhotelan.

Kebanyakan tamu yang menginap di hotel-hotel Timika, katanya, merupakan tamu transit baik yang datang dari beberapa kabupaten pedalaman maupun tamu dari luar daerah yang melawat ke Timika untuk melakukan perjalanan mengurus bisnisnya.

Sebagai pengusaha, Bram berharap pemerintah secara perlahan mulai membuka kembali akses perekonomian setelah beberapa bulan sebelumnya melakukan berbagai pembatasan waktu beroperasi tempat-tempat usaha di Kota Timika.

“Menurut kami sebaiknya sektor ekonomi ini tetap dibuka dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat sebab virus corona ini tidak akan hilang dalam waktu dekat. Jangan sampai sektor ekonomi dimatikan, nanti justru menimbulkan banyak masalah ikutannya. Kalau orang tidak kerja, tidak bisa makan, maka bisa dibayangkan dampak yang akan terjadi selanjutnya,” jelas Bram.

Penulis : Allo Lebuan

Editor : Antonius Djuma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.