2025, Distanbun Target 3000 Hektar Kebun Kelapa Dalam

0
33
Foto: Indri/TimeX TANAM - Ir.Yohana Paliling, Msi (kiri) Kepala Distanbun, saat menanam kelapa dalam, di lahan kelompok tani di Distrik Mimika Timur Jauh, Jumat (25/6).

TIMIKA,TimeX

Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Mimika, menargetkan 3000 hektar lahan kebun kelapa dalam di tahun 2025. Saat ini sekitar 200 hektar lahan sudah dibuka oleh masyarakat di Distrik Mimika Timur Jauh, khususnya di Kampung Otakwa dan Ohotya.

Foto: Indri/TimeX
TANAM – Ir.Yohana Paliling, Msi (kiri) Kepala Distanbun, saat menanam kelapa dalam, di lahan kelompok tani di Distrik Mimika Timur Jauh, Jumat (25/6).

BACA JUGA : OKIA Ancam Tutup Sentra Pemerintahan

BACA JUGA : Karyawan Freeport Mulai Rotasi, Waktu Cuti Lebih Panjang

Hal itu diungkapkan Ir. Yohana Paliling, Msi, dalam kunjungannya bersama tim dari Distanbun, Jumat ( 26/7) di Distrik Mimika Timur Jauh.

Ia targetkan empat tahun kedepan kelapa dalam yang sudah ditanam saat ini sudah bisa produksi, termasuk kopi dan kakao yang dibudidayakan masyarakat di distrik pegunungan.

“Itu target artinya setiap tahun kita harus tanam secara bertahap, agar di 2025 sudah tercapai target, karena untuk perkebunan itu tidak bisa sedikit-sedikit harus ribuan hektar,” ungkapnya.

Karena itu, setelah ditanam kelapa dalam ini harus terus dipelihara empat tahun kedepan hingga berproduksi.

Lahan perkebunan kepala yang saat ini mulai dilakukan penanaman di Mimika Timur Jauh, merupakan program pembukaan lahan pertanian dari Kementerian Pertanian Tahun 2019 seluas 800 hektar untuk kelapa, kopi dan kakao (cokelat) dengan total anggaran mencapai Rp 22 miliar lebih. Anggaran tersebut sudah termasuk pembukaan lahan dan penyediaan saprodi.

Dalam kegiatan kunjungan ke dua kampung tersebut Distanbun juga memberikan bantuan kepada kelompok tani berupa sarana produksi (Saprodi) seperti pupuk dan obat-obatan, dan bahan makan (Bama).

Sesuai pantauan Timika eXpres, untuk meninjau lahan pertanian kelapa dalam, rombongan Distanbun dan masyarakat harus melewati kurang lebih setengah jam perjalan dari Kampung Ohotya menuju perkebunan menggunakan perahu selanjutnya rombongan harus berjalan sejauh 15 kilo meter guna memantau semua lahan yang ada.

Hasil pantauan sebagian besar lahan dibuka warga secara manual dan semua lahan telah ditanami bibit kelapa dalam.

“Anggaran ini diluar biaya perawatan lahan/optimalisasi sehingga itu harus didukung dari APBDP,” ucapnya.

Kata Yohana, kegiatan ini merupakan kegiatan pengembangan sumber daya lahan, yang telah dikerjakan dari tahun lalu, dan Distanbun melakukan monitoring untuk melihat apakah bibit kelapa yang diberikan sudah tertanam semua.

“Kegiatan ini bersumber dari APBNP 2019 melalui Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian, yang mana beberapa kabupaten di Provinsi Papua mendapatkan program tersebut termasuk Mimika,” terang Yohana.

Untuk Mimika mendapatkan kegiatan membuka perluasan sumber daya lahan seluas 800 hektar terdiri perluasan sumber daya lahan kelapa 200 hektar di Distrik Mimika Timur Jauh, yang dikelola 9 kelompok tani.

Jika dilihat sebagian besar lahan di Distrik Mimika Timur Jauh Kampung Otakwa dan Ohotya sudah terbuka. Kemudian pembukaan lahan untuk komoditi kopi robusta seluas 250 hektar, di Distrik Iwaka Kuala Kencana dan Wania yang dikelola oleh enam kelompok tani.

“Untuk kopi ini lahannya semua sudah ditanami,” ujarnya.

Begitu pula dengan pembukaan lahan komoditi kakao seluas 250 hektar di Iwaka yang dikelola oleh 3 kelompok tani.

Selain kelapa, kopi dan kakao, Distanbun juga membuka lahan untuk komoditi pinang di Wania, seluas 100 hektar, yang dikelola 22 kelompok tani.

“Kegiatan ini memang ditujukan untuk pemanfaatan lahan tidur, atau lahan kering yang selama ini kita sudah rencanakan dan untuk membuka lahan itu membutuhkan lahan yang besar. Tidak bisa manual harus dengan alat berat, tetapi khusus untuk lahan kelapa, karena tidak bisa terjangkau dengan alat berat sehingga masyarakat lakukan dengan manual saja, dan begitu. Sangat luar biasa masyarakat bergotong royong membuka lahan kelapa secara manual,” ucap Yohana.

Ia mengaku merasa terharu melihat masyarakat sangat antusias melihat program ini, dan mereka mau bekerja sama.

“Kelompok ini kan hanya beberapa KK saja tetapi kami melihat ini saat membuka lahan semua dusun terlibat,” tutur Yohana lagi

“Kalau kelapa kita istilah P0-P4, artinya selama 0-4 tahun kita terus lakukan penanam, itu namanya optimalisasi kebun,” tambahnya.
Lanjutnya, karena tanam perkebunan baik itu kopi, kakao, dan kelapa jika tidak dipelihara, kemungkinan tidak dapat dipanen, melihat hamparannnya yang sangat luas, masyarakat kemungkinan akan kesulitan memelihara secara manual, sehingga dari Dirjen sudah sarankan untuk optimalisasi lahan, sampai masa panen baru bisa sepenuhnya dipelihara oleh masyarakat karena sudah bisa mandiri.

Lanjut Yohana, kedepan akan ada program perluasan area lagi, karena untuk komoditi perkebunan lahannya harus luas.

“Inikan muaranya untuk industri bukan untuk konsumsi, beda dengan tanaman pangan dan hortikultura, karena kalau sedikit percuma,” terang Yohana.

Dikatakan, perluasan lahan pertanian sudah dilakukan sejak 2008, dan sebagian besar kelapa dalam ini ditanam oleh masyarakat dan instansi pemerintah.

“Ada juga dibantu oleh PTFI melalui SLD, dan untuk kakao ini komoditi ekspor sama juga dengan pinang, namanya pinang pitara, makanya bibitnya itu didatangkan dari Jambi, sedangkan kakao kita datangkan dari Soppeng, Sulawesi Selatan,” jelasnya.

Kelapa dalam ini bibitnya lokal, karena kelapa di Mimika sudah disertifikasi langsung dari kementrrian pada 2015 khususnya di Kampung Atuka.

“PT Freeport Indonesia melalui SLD telah membantu 10 ribu bibit tanaman kelapa kepada Pemkab Mimika melalui Distanbun. Ini untuk memenuhi kebutuhan penanaman di lahan seluas 200 hektar oleh kelompok tani di bawah binaan pemerintah,” pungkas Yohana.

Penulis : Indri

Editor : Linda B Langi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.