Ritual Omoko Etae Tandai Pembangunan Home Stay di Kampung Keakwa

0
38
Cuaca mendung dan suasana penuh khidmat menyelimuti Kampung Keakwa, Distrik Mimika Tengah pada Sabtu (27/6) lalu.
FOTO: Maurits/TimeX PERSEMBAHAN-Maximus Tipagau bersama Hendirika Sondegau sang istri, mendampingi Emos Tipagau putra bungsunya memberikan persembahan ke liang peletakan pertama rencana pembangunan home stay di Kampung Keakwa, Sabtu lalu.

                                                 KEAKWA, TimeX

Cuaca mendung dan suasana penuh khidmat menyelimuti Kampung Keakwa, Distrik Mimika Tengah pada Sabtu (27/6) lalu.
FOTO: Maurits/TimeX
PERSEMBAHAN-Maximus Tipagau bersama Hendirika Sondegau sang istri, mendampingi Emos Tipagau putra bungsunya memberikan persembahan ke liang peletakan pertama rencana pembangunan home stay di Kampung Keakwa, Sabtu lalu.

Cuaca mendung dan suasana penuh khidmat menyelimuti Kampung Keakwa, Distrik Mimika Tengah pada Sabtu (27/6) lalu.

BACA JUGA : Maximus Gladiator Papua, Kini Diangkat Jadi Anak Adat Kampung Keakwa

Suasana bersahabat kala itu menjadi saksi sejarah, bahwa para luhur ikut mendukung ritual adat ‘Omoko Etae’ yang dirangkaikan dengan seserahan dari warga serta tamu undangan yang hadir.

Prosesi adat ini menandai dimulainya pembangunan home stay di Kampung Keakwa dalam rangka pengembangan pariwisata di wilayah pesisir Mimika.

BACA JUGA : Kodim dan P3AP2-KB Gaungkan Gerakan Sejuta Akseptor untuk PUS

Rencana besar ini digagas oleh Maximus Tipagau bersama para sesepuh, tokoh adat dan masyarakat Keakwa.

Ide cemerlang ini ditindalanjuti Maximus Tipagau setelah ia diangkat sebagai anak adat Kampung Keakwa dengan menyandang marga Waukateyau, lengkapnya Maximus Waukateyau.

Ritual adat Omoko Etae pada Sabtu lalu dilaksanakan sebelum matahari terbit dengan mengurbankan seekor ayam jantan putih yang disembelih oleh Yohakim Amareyau, tokoh adat yang dituakan di wilayah itu.

Menyusul seserahan persembahan uang dari Maximus Tipagau bersama Hendirika Sondegau sang istri dan Emos Tipagau putra bungsunya, kemudian diikuti warga serta tamu undangan lainnya yang menghadiri prosesi adat.

Selain uang, rokok dan sirih pinang, kebanyakan warga Keakwa mempersembahkan barang pecah belah berupa piring dan gelas.

Dimana semua persembahan dimasukan ke dalam liang (Te Kata-tanah adat) yang telah digali oleh pelaku prosesi adat Omoko Etae, merupakan persembahan kepada leluhur atau tuan tanah.

“Ini supaya selama pekerjaan home stay, para pekerjanya dijaga kesehatannya

Prosesi adat yang berlangsung aman dan lancar itu diikuti penuh antusias oleh ratusan warga dari 10 RT di Keakwa, baik dari Kampung Baru maupun Kampung Lama.

Tentu menjadi kebanggaan tersendiri, apalagi seluruh warga Kampung Keakwa mengaku sangat senang, karena kebesaran Tuhan menghadirkan Maximus, seorang anak gunung yang telah menyatakan tekadnya untuk mengabdi dan membangun wilayah pesisir Mimika.

“Saya sangat senang, setidaknya sekarang sudah ada kepastian dan bukti nyata kebesaran Tuhan untuk kami mulai bersama anak Maximus bangun pariwisata dari potensi alam yang Tuhan kasih,” Kata Oktopianus Etapoka kepada Timika eXpress usai gelar prosesi adat Sabtu (27/6) lalu.

Oktopianus Etapoka selaku pemandu acara pada ritual adat Omoko Etae, menjelaskan Omoko Etae dalam bahasa adat Suku Kamoro, Omoko adalah pondok, dan Etae artinya daun, sehingga disebut pondok daun.

Dalam tradisi lokal masyarakat setempat, ritual Omoko Etae tidak dapat diikuti oleh semua orang.

Ritual Omoko Etae bernuansa religiusitas dari kearifan lokal warga setempat hanya melibatkan tiga sub marga, yaitu Imiri, Taurako dan Kanare Kimra.

Semua mereka ikut berperan dalam ritual adat tersebut mengenakan pakaian adat.

Di Omoko Etae, tempat dilangsungknnya ritus peletakan dasar awal pembangunan home stay, sesekali terdengar bunyi tifa diikut  nyanyian khas dalam bahasa Kamoro.

“Kalau bunyi tifa itu tanda mereka sedang bekerja memanggil arwah leluhur atau nenek moyang untuk ikut mendukung suksesnya acara dan rencana mulia bangun home stay yang diprakarsai masyarakat setempat bersama anak Maximus,” ungkap Oktopianus.

Dimana, tokoh adat maupun pemuda yang terlibat dalam ritual tersebut, sejak keberangkatannya dari rumah menuju Omoko Etae tidak diketahui oleh istri maupun anak-anak mereka.

“Jadi mereka yang ikut dalam ritual adat di Omoko Etae baru diketahui keberadaannya setelah Omoko Etae dibuka,” terang Oktopianus.

Omoko Etae yang didirikan dari tiang kayu kemudian ditutup dengan pelepah kelapa baru dapat dibuka setelah ‘Kamania’ atau tuan rumah  keluar dari Omoko Etae.

Kamania yang mempersenjatai diri dengan Apoko (tombak yang terbuat dari batang pohon pinang), selanjutnya mengitari Omoko Etae untuk memastikan ada tidaknya warga yang mencari keluarga mereka yang meninggalkan rumah sebelum terbit matahari.

Setelahnya, Omoko Etae dibuka, warga pun mulai mendekat, diikuti Tarian  O’ko (cakar ayam hutan) untuk membersihkan lahan dan buat sarang (bangun home stay).

Selanjutnya dilakukan ritual pemotongan ayam dalam liang ‘Te Kata’, yang diikuti dengan seserahan persembahan.

Prosesi lanjut setelah persembahan yaitu liang (Te Kata) ditutupi pelepah daun kelapa dan ditancapkan tiang bendera adat atau Bendera Merah Putih.

“Kita biarkan liang beserta persembahan selama semalam tidak ditutup untuk pastikan apakah barang persembahan ada yang rusak atau tidak. Termasuk tiang benderanya. Kalau ada yang rusak atau tiangnya jatuh, itu tandanya leluhur belum merestui,” jelas Oktopianus.

Setelah dipastikan keesokan harinya, semua barang persembahan utuh, begitu juga tiang bendera kokoh berdiri, menandakan seluruh rangkaian ritual adat Omoko Etae diterima, dan pembangunan home stay dapat dilanjutkan.

Bangun 10 Home Stay

Usai prosesi Omoko Etae, pembangunan home stay akan mulai dilakukan oleh warga dari setiap RT di Kampung Keakwa.

“Pembangunannya swadaya oleh masyarakat dengan support pengadaan material bahan baku oleh saya (Maximus Waukateyau). Kita rencana awal bangun 10 unit home stay. Karena di Keakwa ada 10 RT, jadi perunitnya dikerjakan satu RT,” jelas Maximus.

Adapun rencana finalisasi pembangunan 10 home stay diatas lahan lebih satu hektare, dan tepat di bibir pantai Keakwa akan memakan waktu kurang lebih dua bulan, atau sampai Agustus 2020.

Lokasi pembangunannya pun sangat eksotik karena berada diantara rimbunnya pohon pinus.

Kecintaan Maximus pada pariwisata untuk memacu geliat ekonomi masyarakat pesisir menjadi terobosan awal untuk menarik minat wisawatan dalam negeri maupun mancanegara.

Pasalnya, tidak hanya mendapatkan suasana alam yang berbeda, para wisatawan pun dapat menikmati fasilitas wisata air seperti adu adrenalin dengan ski air maupun speed boat yang disiapkan.

Bahkan, wisawatan pun dapat menikmati kuliner khas dari pangan lokal masyarakat pesisir.

Tidak hanya itu, Keakwa yang merupakan kampung indah penuh sejarah ini pun, disana pun bersemayam mesin-mesin perang buatan Jepang dan Amerika Serikat (AS).

“ Ada meriam, tank, mortir, peluru, bahkan pesawat tempur yang pernah menjadi basis pertahanan Jepang saat diserang sekutu dalam Perang Dunia II. Semua situs sejarah ini menjadi daya tarik tersendiri, makanya langkah awal saya tertarik bangun dan kembangkan pariwisatanya,” ungkap Maximus.
Nasib benda-benda yang dulunya garang buat perang itu kini tidak lagi using karena oleh Maximus, semuanya akan ditata sehingga menjadi daya tarik wisatawan.

Ia menambahkan, perhatian terhadap pariwisata wilayah pesisir, khusus di Kampung Keakwa lantaran hingga kini Pemkab Mimika melalui instansi terkait belum mendata dan memberi perhatian khusus untuk perawatan benda-benda tersebut.

Adapun dua buah meriam anti pesawat tempur kini tidak bisa lagi dilihat dari dekat karena sudah terkubur dalam laut. Warga baru bisa mendekati dua meriam itu saat air laut sedang surut.
Sementara, tank baja dengan roda rantai masih utuh. Lokasi tank itu berada dekat kampung baru Keakwa, di tengah-tengah perkebunan warga.

“Wao Ainauku Tank Mame Airamu,” demikian tulisan dalam bahasa Kamoro pada papan tugu peringatan PD II Keakwa.

Tulisan itu berarti “Mari Datang ke Sini Melihat Tank Peninggalan Jepang”.
Sesungguhnya masih banyak bukti peninggalan tentara Jepang di Keakwa, seperti bom, peluru, dan mortir, tapi kini sudah terkubur di dalam pasir.

“Dulu sewaktu kami masih SD, dua meriam itu ada di daratan dengan jarak sekitar 100 meter dari bibir pantai,” timpal  Yohakim Amareyau yang mendampingi Maximus Waukateyau usai prosesi Omoko Etau.

Maximus diakhir perbincangannya berharap dukungan penuh masyarakat agar mimpi besar mengembangkan pariwisata wilayah pesisir yang mulai dikerjakan bisa membuahkan hasil gemilang.

“Karena masyarakat lokal yang akan saya berdayakan kelola pariwisata yang kita bangun,” tandasnya.  (maurits sadipun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.