Rontini: Perusahaan Baru Wajib Beli Noken Unggan Wule

TIMIKA,TimeX Kepala Kelurahan Kuala Kencana, Suto H. Rontini membuat sebuah kebijakan dalam rangka mengembangkan kelompok pengrajin noken Unggan Wule yang beranggotakan mama-mama Papua.

Seorang anggota kelompok pengrajin Unggan Wule memakaikan noken hasil rajutannya kepada Bupati Mimika, Eltinus Omaleng disaksikan Kepala Kelurahan Kuala Kencana, Suto Rontini

TIMIKA,TimeX

Kepala Kelurahan Kuala Kencana, Suto H. Rontini membuat sebuah kebijakan dalam rangka mengembangkan kelompok pengrajin noken Unggan Wule yang beranggotakan mama-mama Papua.

Kebijakan yang ditujukan kepada perusahaan baru, baik kontraktor maupun subkontraktor yang hendak membuat surat ijin domisili di wilayah Kuala Kencana, diwajibkan membeli 5 buah noken dari kelompok Unggan  Wule yang dibentuk dan dibinanya.

“Sebelum surat domisili perusahaan disetujui, wajib beli noken unggan Wule dengan bukti nota. Kalau benar adanya baru saya tandatangan ijinnya,” kata Suro kepada wartawan di Hotel Horison Ultima Timika, Rabu (8/11).

Dikatakanya, adanya kebijakan tersebut, tentu tidak memberatkan pihak perusahaan.

Tetapi harus direspon, sebab kebijakan yang ditelurkannya merupakan bagian dari program sosial kemasyarakatan (corporate social responsibility) terhadap eksisternsi sebuah perusahaan yang beroperasi di wilayah Kuala Kencana.

Sebab, selama ini tidak pernah dilaksanakan oleh  perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kuala Kencana.

Ini dikarenakan perusahaan lebih fokus untuk masyarakat di luar Kuala Kencana, ketimbang warga di sekitar linkungan perusahaan.

“Mana ada kontraktor atau subkontraktor yang bikin program CSR didalam Kuala Kencana sana? Mereka itu ibarat semut diseberang pulau mereka lihat, tapi gajah dipelupuk mata tidak lihat,” tuturnya.

dijelaskan pula, setelah terbentuk, kelompok pengrajin tidak langsung dilepas begitu saja, tetapi harus dibina dan juga dibantu untuk mengembangkan kelompok.

Salah satu pengembangan yang bisa dilakukan adalah dengan menyediakan pasar untuk penjualan hasil kerajinan yang telah dibuat oleh anggota kelompok.

“Masyarakat punya hasil, tapi kembali lagi kita lihat ketersediaan pasar. Mau bikin produk sehebat apapun kalau tidak ada pasar juga percuma,”ujarnya.

Pasalnya, saat ini hanya ada satu kelompok yang dibentuk. Kelompok ini sendiri tidak hanya dilatih membuat noken, tetapi ke depan jika ada pelatihan yang dibuat oleh SKPD teknis, kelompok ini akan diikutkan sehingga menambah pengetahuan serta keterampilan untuk menciptakan kerajinan yang bisa dijual guna meningkatkan pendapatan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat.

“Kami belum ada rencana untuk membuat kelompok baru, satu ini akan menjadi pilot project dulu untuk kedepannya akan dikembangkan. Percuma juga bikin banyak kelompok tetapi tidak dibina sampai berhasil,” tandasnya. (san)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *