Bebas dari Tekanan KKB, Veronika Akhirnya Melahirkan Normal

Peringatan HUT ke-72 Korps Brimob Polri, Selasa 14  November 2017 merupakan momentum sejarah bagi Veronika Wandagau.

CERIA-Ny.Veronika Wandagau nampak ceria menggendong anak yang baru dilahirkannya, Selasa lalu.

Peringatan HUT ke-72 Korps Brimob Polri, Selasa 14  November 2017 merupakan momentum sejarah bagi Veronika Wandagau. Wanita paruh baya yang menunggu waktu kelahiran tidak menyangka dihadapkan pada situasi heroik. Meski tertekan secara psikis setelah ruang geraknya bersama 1.300 warga lainnya di perkampungan Tembagapura dibatasi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB),  diakhir masa kehamilanya Veronika berjuang hingga terbebas dari tekanan KKB, dan akhirnya menjalani persalinan secara normal.

Veronika Wandagau, warga Kimbeli yang terisolir akibat teror KKB di kampungnya, Distrik Tembagapura boleh merasakan kelegaan  karena bayi laki-laki dalam kandungannya berhasil dilahirkan ke muka bumi secara normal dan sehat di Rumah Sakit Tembagapura, Selasa (14/11) lalu sekitar 16.26 WIT.

Tidak terlepas dari upaya maksimal Satgas Terpadu gabungan TNI-Polri, setelah tiga minggu hidup dalam ketakutan  dan keterbatasan, Veronika akhirnya berhasil dievakuasi dari Kampung Kimbeli demi suksesnya proses persalinan.

“Secara bertahap kita evakuasi, dari Kampung Kimbeli ke Polsek Tembagapura kemudian ke RS PT Freeport Indonesia. Syukur dia sudah melahirkan anaknya, dianya pun dalam keadaan sehat,”kata Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol AM. Kamal SH kepada wartawan di Rimba Papua Hotel, Rabu (15/11).

Kombes Kamal pun mengakui kalau perjuangan Veronika sangat luar biasa.

“Dalam keadaan hamil tua dan diliputi situasi heroik penuh ketakutan, ia dengan susah payah harus menempuh prosesi penyelamatan panjang dengan bantuan anggota Satgas Terpadu.

Alhasil, Veronika mendapat pertolongan medis secara cepat dan tepat hingga melahirkan normal.

Meski masih dirawat di RS. Tembagapura, Veronika saat ditanyai soal situasi di Kampung Kimbeli, ia menjelaskan bahwa warga masyarakat pendatang yang tertekan oleh aksi KKB, kini tinggal dikediaman Kamaniel Waker, warga kampung setempat.

“Kasihan warga disana, bahan makanan mereka sudah sedikit sehingga mereka pun makan seadanya. Kadang hanya makan nasi putih saja atau sayur seadanya, itu pun maish harus berbagi agar semuanya bisa menikmati. Pokoknya kondisnya sangat menyedihkan,”terang Kombes Kamal mengutip bicaranya Veronika.

Hingga kini, lantaran tiga kampung di Tembagapura masih dikuasai KKB, maka warga masyarakat yang tinggal di Kimbeli masih diliput phobia (rasa takut berlebihan), sebab tidak hanya teriakan-terikan dan juga bunyi letusan senjata, tetapi di area longsoran beberapa waktu lalu, warga pendatang sebanyak 20 orang lebih yang hendak melarikan diri keluar dari kampung tersebut berhasil dihadang KKB.

Lantas apa yang terjadi?, tanpa banyak basa-basi, handphone dan uang  sebanyak Rp30  juta lebih dirampas KKB yang melakukan aksi teror di Utikini.

Tidak hanya itu, untuk mencegah akses di perkampungan tersebut, alat berat, yakni excavator sebanyak dua unit yang digunakan untuk menormalisasi Kali Wanagon dimanfaatkan untuk memutus jalan dari kawasan Utikini-Kimbeli atau sebaliknya.

Tidak hanya itu, dua unit alat berat itu pun dibunakan untuk merusak serta meratakan bekas Pos Brimob di Utikini, termasuk merusak rumah warga di Utikini dan juga di Kimbeli.

Situasi ini tentu tidak bisa dibiarkan berlarut. Kendari sudah menempuh langkah-langkah persuasif dan belum ada perubahan, maka aparat keamanan setempat harus mengambil langkah strategis.

Hanya saja untuk menghindari efek dan juga korban, pihaknya masih tetap dengan langkah persuasif tanpa ada batas waktunya.

Dikatakan pula, jembatan yang menghubungkan Kampung Kimbeli dan Banti masih utuh, tetapi akses warga masyarakat di dua kampung tersebut sudah susah karena dibatasi oleh KKB.

“Warga dari kedua kampung tidak diijinkan keluar masuk kedua kampung. Jadinya sekarang mereka kekurangan makanan, tidak ada pelayanan kesehatan, bahkan pendidikan atau sekolah pun tidak aktif.

Bahkan, suami Veronika yakni Aser Tipagau yang adalah karyawan pada perusahaan subkontraktor PT Freeport Indonesia juga tidak bisa bekerja karena tidak diperbolehkan melintas di Kampung Utikini.

Dari kondisi yang dihadapi warga di perkampungan Tembagapura, Veronika berharap pemerintah daerah maupun aparat keamanan segera menyikapi kesusahan masyarakat yang tinggal di tiga kampung tersebut, sebab tindakan KKB sudah tidak manusiawi,”terangnya. (rina hutapea)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *