Kisah Almarhum Bripka Anumerta Firman Sebelum Gugur Ditembak KKB (Bagian-1)

Menjadi prajurit sejati adalah pilihan mulia. Namun, lantaran kemuliaannya itu, tentu tak mudah. Ia harus meletakkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Demi bangsa, ia harus korbankan segalanya, istri, anak, keluarga, harta, bahkan nyawa,

Almarhum Bripka Anumerta Firman usai di Sholatkan di Masjid Al Furqon.

Mama…,Vitamin Obat yang Mana, Obat Sakit Kepala yang Mana?

Menjadi prajurit sejati adalah pilihan mulia. Namun, lantaran kemuliaannya itu, tentu tak mudah. Ia harus meletakkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Demi bangsa, ia harus korbankan segalanya, istri, anak, keluarga, harta, bahkan nyawa, atau perasaan cinta yang ada dalam hatinya.

Berikut penuturan istri almarhum Bripka Anumerta Firman, dr. Lusia Zusana Manangsang, juga  mertuanya, dr. John Manangsang Wally, termasuk perwira dan bintara Polri di Timika.

Laporan: Gren Telaubun dan Frina Lestari / Timika eXpress

AJAL tidak dapat diduga kapan waktunya. Begitupula dengan peristiwa tragis kematian Bripka Anumerta Firman gugur seketika setelah diterjang peluru Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) saat melakukan patroli Kamtibmas di Tembagapura, 15 Nopember 2017.

Kematian almarhun Bripka Anumerta Firman, pria kelahiran Ambon 28 September 1989, putra dari pasangan Agus Salim dan almarhumah Kardia ini tinggal ceritera.

Ibarat pepatahgajah mati meninggalkan gading, hariamu mati meninggalkan belang, dan manusia meninggalkan ceritera dan nama.

Dari ceritera istri almarhun Firman, dr. Santa Lusia Manangsang, bahwa tanggal 14 Nopember malam sebelum kematian   suaminya, ada firasat terbawa dalam mimpinya.

Setelah tanggal 18 Oktober 2017, akhir dari pertemuan Firman dan Lusia istrinya, komunikasi terakhir ayah dan ibu dari putri sulung Safira Farhani atau akrab disapa Lala (9), juga terjadi empat hari sebelum ajal menjemput Firman, yaitu tanggal 11 Nopember 2017.

Sebelum melakkan patroli  Kamtibmas menghadapi aksi teror KKB  kawasan tambang Freeport dan perkampungan di Tembagapura, dr. Lusia bersama Firman  masih menjalin komunikasi.

Melalui sms ponsel, setelah menjelaskan tentang tugas pengamanan dan minta doa serta restu, almarhun sempat menanyakan obat yang saya berikan.

“Komunikasi terakhir dengan suami saya lewat sms itu tanggal 11 November sebelum almarhum bersama timnya masuk hutan mengejar KKB. Waktu itu dia (suami-Red)  tanya obat yang saya kasih, mama, vitamin yang mana dan obat sakit kepala itu yang mana. Itu saja,” jawab istri Firman sedih dihadapan Kapolda Boy Rafli Amar saat menyantuni rumah mertua almarhum Firman, Kamis kemarin.

Sedih dan isak tangis masih menyelimuti istri dan putri sulungnya.

Apalagi buah hati yang dikandung Lusia hanya jadi penantiannya bersama putrinya, sementara ayah dari bayi dalam kandungannya telah tiada.

Itulah takdir, semua sudah diatur oleh Allah Sang Kuasa.

Akhir kisah hidup almarhum Firman pun masih jadi misteri.

“Seperti biasa kalau Firman mau naik tugas ke Tembagapura, selain pamitan sama keluarga, via telepon atau sms dia juga selalu minta doa restu. Hanya saja kali ini sedikit berbeda, di sms nya dia tambah permohonan maaf kalau punya salah. Saya tidak pikir kalau memang ini pertanda ajalnya sudah dekat,” ujar Lusia sembari mengusap dadanya.

Ternyata benar, sebelum mendapat informasi dari teman yang se-tim dengan almarhum bahwa telah terjadi kontak tembak dengan KKB, setengah jam sebelumnya ada firasat dalam mimpi.

Sebelum menerima kabar  bahwa suaminya tertembak dan meninggal pukul 04.30 WIT, Rabu dinihari lalu, dalam mimpinya sekira pukul 03.00 WIT, dr. Lusia mengaku diterpa angin kencang, namun tetap berusaha kuat.

Dalam mimpinya waktu itu, Lusia pun terbuai tidur bersama suaminya.

“Saya baru kaget jam 06.00 WIT pagi saat bangun tidur dan terima telepon dari keluarga sampaikan suami saya sudah meninggal. Saya shock  tidak bisa buat apa-apa,” katanya lirih.

Lusia yang mendengar kabar pilu saat itu berada di Jayapura berusaha kuat hingga berangkat ke Timika melihat jazad suaminya yang sudah  terbujur kaku sejak dievakuasi dari Tembagapura, dishalatkan di Masjid Al-Furqan dan dimakamkan di TPU Islam di samping Mako Lanud, Rabu lalu.

Dalam meniti karier, Lusia dan Firman bleh dikata sangat profesional.

Dari pengakuannya, Firman katanya adalah suami yang tangguh, sebab dalam kariernya sebagai anggota Brimob Polda Papua, ia tidak pernah menolak kalau bertugas.

Hal ini disampaikannya dihadapan Kapolda Irjen Pol Boy Rafli Amar saat menyantuni rumahnya, Kamis kemarin sekira pukul 09.45 WIT.

Lanjutnya, kami sebagai keluarga tetap bangga, dan saya percaya Firman adalah prajurit sejati,” ujar Lusia.

Kisah pilu sebelum ajal menjemput almarhum Firman juga dikisahkan ayah mertuanya, dr. John Manangsang Wally.

Sudah menjadi tradisi keluarga, bahwa dalam rumpun keluarga, istri, anak, ponakan, menantunya selalu diberi motivasi dan pandangan.

Seperti halnya kepada almarhum  Firman, bahwa sehari sebelum ajal menjemputnya, ia merasakan ada yang berbeda.

Meski Bripka Anumerta Firman telah berpamitan dan minta doa serta restu, mertua almarhum merasakan bahwa perjalaan tugas anak mantunya kali ini tidak aman, karena memang situasinya sudah rumit,” ujar dr. John kerap ia disapa.

Adanya perasaan berbeda, dr. John pun berusaha tegar.

Meski demikian, dr. John tetap terbawa pikir, sehingga perasaannya terhadap   almarhum Firman dituangkan dalam tulisan bernuansa religi melalui akun facebooknya.

Pesannya kepada Bripka Firman, bertuliskan “Tetap bijaksana, tetap jadi sniper andalan yang pelurunya pakai peluru “Cinta Kasih”, sebab ajaranku padamu anakku. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Siapa sesamamu manusia itu? Semua manusia ciptaan Tuhan adalah sesamamu, termasuk yang disebut OPM”. (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *