Polisi Ancam Proses Hukum Warga Pembawa Sajam

TIMIKA,TimeX Kapolsek Mimika Baru AKP Fritz J Erari mengancam proses hukum bagi warga Kwamki Narama yang kedapatan membawa senjata tajam (sajam)

Foto: Dok./TimeX
SEPATA KATA – Ketua DPRD Mimika Elminus B Mom mengajak warga hentikan pertikaian dan serahkan masalah kepada kepolisian pada Rabu (15/11).

TIMIKA,TimeX

Kapolsek Mimika Baru AKP Fritz J Erari mengancam proses hukum bagi warga Kwamki Narama yang kedapatan membawa senjata tajam (sajam) baik perorangan maupun kelompok di yang sementara menumpang dalam mobil pick up. Langkah tegas ini diambil untuk menekan aksi lanjutan di wilayah itu yang kembali memanas pasca-meninggalnya Dedi Kiwak (27) di kawasan Bandara Mosez Kilangin pada Minggu (12/11).

“Adanya kejadian beberapa waktu lalu di Kwamki Narama kami akan mengambil tindakan tegas kepada semua warga masyarakat di sana,” ujar Erari kepada Timika eXpress disela-sela demo guru di Kantor Sentra Pelayanan Polres Mimika pada Senin (20/11).

Mantan Kapolsek KP3 Laut Pomako itu mengatakan pihaknya juga telah menghimbau berdasarkan Undang-Undang (UU) darurat Nomor 12 Tahun 1951 dimana secara tegas dilarang membawa, mempergunakan senjata tajam dalam bentuk apapun berupa senjata api, panah, busur, kampak, badik, samurai dan panah-panah wayer.

Dengan demikian lanjut Erari atas dasar UU Darurat sudah jelas dan sudah waktunya untuk ditegakan. Sehingga diharapkan tidak akan ada lagi orang yang menggunakan mobil pick up dan menumpang sepeda motor sambil membawa panah dan segala macam barang tajam.

Ia menegaskan apabila ada masyarakat yang ditemukan masih membawa lalu ditangkap polisi tidak ada kata maaf lagi  langsung diproses secara hukum yang berlaku. Karena alat tersebut digunakan untuk menghilangkan nyawa orang. Hidup di zaman sekarang sudah beda dengan zaman dulu.

Ia mengingatkan jika masyarakat ada yang terkena masalah segera laporkan kepada pihak berwajib dan jangan main hakim sendiri. Apa yang terjadi di Kwamki Narama beberapa waktu lalu itu merupkan yang terakhir kali jangan lagi ada masyarakat yang mencoba berjalan sambil membawa alat tajam.

Budaya yang jahat menurutnya harus mulai dihilangkan dan tidak ada yang namanya budaya jahat untuk dilestarikan.

Sebaiknya kata Erari, orang Papua membawa cangkul pergi berkebun dan hasilnya bisa dijual untuk mendatangkan uang daripada bawah alat tajam hilangkan nyawa orang lain. Sudah waktunya tidak boleh perang terus karena memang tidak ada gunanya. Orang lain datang ke Timika untuk panen hasil sementara orang Papua urus perang terus.

Seperti diketahui, Dedi Kiwak ditemukan tewas dengan puluhan anak panah tertancap di sekujur tubuhnya di dalam  selokan pintu masuk Kwamki Narama dekat Check Point Mile 28 pada Minggu (12/11) sekira pukul 01.30 WIT.

Awalnya sekira pukul 01.00 WIT aparat yang berjaga di Check Point MP 28 mendengar ada teriakan minta tolong dan mendapat respon oleh tiga aparat yang tengah berjaga. Ketiganya menggunakan sepeda motor menuju bunyi suara kemudian menemukan sebuah helm dan topi. Karena situasi masih gelap petugas kembali mengambil mobil untuk penerangan. Ketiganya kemudian melihat ada sesuatu di got tidak jauh dari penemuan helm dan topi.

Setelah dicek, ternyata ada manusia tergeletak dengan tubuh dipenuhi tancapan anak panah. Kejadian ini sudah ditangani Polres Mimika.  (a28)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.