Benny  Desak Penegak Hukum Tangkap Grace Sangaji

TIMIKA,TimeX Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) wilayah Indonesia Timur Benny Bernard Arnoldo mendesak supaya aparat penegak hukum

Foto: Evan Soenarie/TimeX
FOTO BERSAMA – Staf Khusus Menteri PPPA wilayah Indonesia Timur Benny Bernard Arnoldo Naraha foto bersama Sekretaris P2TP2A Mimika Syane Mandessy saat mengunjungi Lapas Kelas II B Timika pada Jumat (24/11).

TIMIKA,TimeX

Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) wilayah Indonesia Timur Benny Bernard Arnoldo mendesak supaya aparat penegak hukum menangkap terpidana human trafficking anak atas nama Grace Sangaji yang kabur dari lapas sejak 2016 lalu.

Benny menegaskan dalam kasus tersebut harus diusut tuntas karena kuat dugaan salah seorang pelaku merupakan oknum anggota Polres Mimika yang masih aktif bertugas.

“Ini yang harus diusut tuntas. Saya sudah ke lapas untuk pastikan kenapa Grace bisa lolos. Tapi karena pimpinan lapas adalah orang baru, maka kami meminta untuk menyurati pihak kepolisian untuk segera lakukan pencarian terhadap Grace,” kata Benny kepada Timika eXpress di Hotel Serayu pada Jumat (24/11).

Ia menduga berhasil kaburnya Grace Sangaji dari lapas pada masa kepempimpinan kalapas lama disinyalir adanya permainan kotor oleh petugas lapas, mengingat terpidana sudah lama berkecimpung menjadi seorang mucikari yang tidak menutup kemungkinan menyogok petugas lapas.

“Kan tidak masuk akal kalau Grace bisa lolos dengan cara panjat pagar. Apalagi posturnya pendek. Tapi saya harap kepada pimpinan lapas yang baru untuk tidak memberi kelonggaran bagi tahanan yang berkasus dengan anak dan perempuan,” katanya.

Benny merasa lebih miris lagi dalam kasus tersebut diketahui korban saat itu masih dibawah umur sempat digilir oleh oknum polisi yang seharusnya memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat (korban-red).

“Saya dengar sampai sekarang kalau oknum polisi itu masih aktif bertugas. Nanti saya akan berkoordinasi dengan Kapolres Mimika mengenai proses hukum seperti apa yang harus dijalani oleh anak buahnya. Karena dia adalah pelaku dan harus diadili sesuai dengan peraturan yang berlaku di negara kita,” katanya.

Benny menegaskan ini adalah perintah langsung dari Menteri Yohana Yembise untuk segera mengungkap kasus-kasus berkaitan dengan kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Perlu diketahui mengenai kasus ini pada 13 Februari lalu, Tim Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Mimika sudah mendatangi Lapas Klas IIB Timika guna mempertanyakan keberadaan tiga pelaku pencabulan yang kabur dari Lapas Klas IIB Timika.

Kedatangan Tim P2TP2A itu dipimpin Kabid Perlindugan Anak pada Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan KB (BP3AKB) Kabupaten Mimika yang juga Sekretaris P2TP2A Mimika Syane Mandesy.

Di hadapan Usman, Syane Mandesy menyampaikan kedatangannya guna mempertanyakan tiga orang terpidana, yakni Grace Sangaji, Derita, dan Alex Waita yang bebas dan kabur dari lapas.

Syane menjelaskan, Grace Sangaji terlibat dalam kasus human trafficking namun  telah melarikan diri, dan sampai sekarang belum diketahui keberadaannya. Sementara Derita terlibat dalam kasus perlindungan ibu dan anak dan Alex Waita pelaku pencabulan yang terjadi di pagar kuning, mile 21.

Sementara ibu korban human trafficking yang tidak mau disebutkan namanya meminta kepada polisi dan lapas mencari dan menangkap Grace yang sudah buron sejak 2016 lalu.

Menanggapi perihal tersebut, Kalapas Kelas IIB Timika Usman kala itu  membenar ketiga orang tersebut tidak berada di lapas. Grace Sangaji telah melarikan diri, Derita yang dibebaskan karena tidak ada dasar penahanan, dan Alex Waita, pihaknya tidak mengetahui keberadaannya.

Dijelaskan, untuk Derita terkena kasus pencabulan, Pengadilan Negeri (PN) Mimika memvonis 12 tahun dan subsidier enam bulan penjara. Kemudian terdakwa mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Jayapura dan vonis yang didapat delapan tahun, enam bulan penjara.

Namun dari putusan tersebut pihaknya belum pernah mendapatkan surat yang dijadikan dasar hukum untuk melakukan penahanan. Malah ia beralibi pihaknya masih menunggu eksekusi dari PN Mimika.

Sementara untuk kaburnya Grace, pihaknya masih selidiki apakah ada oknum yang ikut membantu dibalik kaburnya tersangka. Atau yang bersangkutan sendiri yang melarikan diri. Pasalnya sangat aneh seorang wanita nekad melarikan diri dengan kondisi lapas yang dipagari oleh kawat duri. Alasan lain katanya saat itu pihak lapas tidak menemukan jejak dari Grace.

“Bagaimana cara ibu Grace melarikan diri, mungkin ada oknum yang membantu pelariannya karena malam itu saya cek tidak ada satupun bekasnya. Dan ini yang masih kami selidiki,” terangnya. (zuk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *