Wabup Buton Diduga Pakai Ijazah Palsu dari SMPN Banti

TIMIKA, TimeX Warga masyarakat Kabupaten Buton Selatan, termasuk pihak peduli pendidikan di Papua kembali melaporkan wakil bupati terpilih, La Ode Arusani ke Polres Mimika, Senin (4/12).

Wakil Kepala Sekolah SMP Banti, Malania Renjaan

TIMIKA, TimeX

Warga masyarakat Kabupaten Buton Selatan, termasuk pihak peduli pendidikan di Papua kembali melaporkan wakil bupati terpilih, La Ode Arusani ke Polres Mimika, Senin (4/12).

Pasalnya, Arusani diduga kuat menggunakan ijazah palsu saat maju mendampingi Agus Feisal Hidayat sebagai pasangan calon nomor urut tiga pada Pilkada 15 Pebruari lalu.

Laporan resmi ini disampaikan langsung Kepala Sekolah SMP Negeri Banti, Distrik Tembagapura Markus Sombo, S.Pd melalui Wakil Kepala Sekolah, Malania Renjaan saat ditemui Timika eXpress di Kantor Pelayanan Polres Mimika, Senin  kemarin.

Menurut Malania, ijazah SMP Negeri Banti, Kabupaten Mimika, Papua yang digunakan Arusani memiliki kejanggalan dan diduga dipalsukan.

Dalam ijazah tersebut, Arusani dinyatakan lulus SMP pada 2005, padahal angkatan pertama SMPN Banti baru masuk tahun 2003 dan baru lulus 2006.

Pihaknya pun meragukan karena yang bersangkutan kelahiran Tahun 1975, ijazah lulus dari SMP Banti, Kabupaten Mimika, Papua tahun 2005. Kita tahu itu pertama kali ketika mendapatkan buku berisi biodata Arusani dari KPUD yang dilaporkan ke kami,” ungkap Malania.

Ia menambahkan, sebelumnya kami pernah didatangi oleh tim dan mereka bertemua langsung dengan Kepsek Markus Sombo dan juga Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Jeni O.Usmany untuk pastikan ijazah Arisani.

Dan berdasarkan surat keterangan bernomor 421.2/005/SMP-NB/II/2017 yang dikeluarkan Markus dan diketahui Jeni tersebut, nama La Ode Arusani tidak terdaftar dalam daftar siswa yang pernah mengikuti proses belajar di SMPN Banti. Bahkan siswa-siswi pada angkatan tersebut tidak pernah mengakui adanya teman mereka bernama Arisani.

“Ini merupakan kejahatan besar, dia menggunakan mencatut SMPN Banti untuk kepentingan pribadi,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, pihak peduli pendidikan di Papua, Yohanes Frits Aibekob mendampingi Malania Renjaan dan Zeth Sonny Awom, menambahkan bahwa kasus dugaan ijazah palsu Arisani ini dilaporkan ke penyidik Polres Mimika untuk ditindaklanjuti.

Bahkan, Mantan Staf Program Dispendasbud, Zeth Sonny Awom menegaskan bahwa aksi Arisani terbukti bahwa ijazah yang digunakannya adalah palsu.

“Bukti tahun tamatan dan kode ijazah yang tidak sesuai dengan kode ijazah SMPN Banti. Seharusnya saat pendaftaran di KPU, harus di kroscek ke jenjang sekolah dari ijazah yang diajukan untuk pembuktiannya.

Kejanggalan lainnya adalah perbedaan kurikulum muatan lokal tidak sesuai. Pada Mulok SMPN Banti adalah kesehatan sementara milik La ode adalah pertanian.

“Oleh karena hal ini kami melaporkan kasus ini dengan maksud dunia pendidikan tidak dilecehkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Selain itu, baik Reki Tafre dan La Ode tidak pernah memenuhi panggilan kepolisian dimana yang menghadiri adalah kuasa hukumnya. Ini penyidik harus tegas,” ujarnya berharap masalah ini tidak lagi terjadi.

Dari kasus Arisani, terkait hasil Pilkada Button Selatan, pasangan nomor urut dua dalam Pilkada Kabupaten Buton Selatan, Muhammad Faisal dan Wo Ode Hasnawati sudah menggugatnya ke Mahkamah Konstitusi. (aro)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *