Dinkes Belum Bisa Bantu Obat-obatan untuk Asmat

 

Alfred Douw
Foto: Dok/TimeX

TIMIKA, TimeX

Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kesehatan belum bisa memberikan bantuan obat-obatan kepada Kabupaten  Asmat yang mengalami kejadian luar biasa (KLB) campak dan gizi buruk, karena APBD tahun anggaran 2018 belum ditetapkan.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika, Alfred Douw saat ditemui Timika eXpress di ruang kerjanya belum lama ini.

Dia mengatakan, untuk saat ini Dikens Mimika hanya bisa mengirimkan tenaga medis untuk menolong warga Asmat.

“Kita sudah kirimkan tenaga Medis di Pulau Tiga, perbatasasan antara Mimika dan Asmat,” katanya tanpa menyebutkan jumlah tenaga medis yang dikirim.

Mantan Kepala Dinas Sosial ini menambahkan, saat ini ia bersama para pegawai Dinkes Mimika sedang membahas upaya yang perlu dilakukan agar tidak terjadi KLB di Mimika seperti yang sedang terjadi di Asmat.

“Kami sudah bahas di internal Dinkes upaya yang perlu kami lakukan supaya Mimika tidak mengalami KLB seperti di Asmat,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Sosial Kabupaten Mimika, Petrus Yumte mengatakan pihaknya sudah mengumpulkan sejumlah bantuan dalam bentuk uang dan barang untuk didistribusikan ke Asmat.

Bantuan itu merupakan sumbangan dari sejumlah OPD di lingkup Pemkab Mimika. “Kalau bantuannya sudah cukup segera kami distribusikan. Tapi untuk jumlah seluruh bantuan yang terkumpul  saat ini saya belum tahu pasti” ungkap Yumte.

Untuk itu ia berharap kepada semua OPD yang belum mengumpulkan bantuan agar segera mengumpulkannya. “OPD yang belum kumpulkan bantuan kami harap segera dikumpulkan, supaya bisa didistribusikan ke Asmat,” harapnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Timika eXpress, warga menjadi korban wabah campak dan gisi buruk di Asmat sejak September 2017 hingga saat ini tersebar pada 117 kampung , yang mencakup 23 distrik (kecamatan) yaitu Suator, Kolf Braza, Sirets, Fayit, Aswy, Pulau Tiga, Akat, Agats, Jetsy, Pantai Kasuari, Der Koumur, Auyu, Suru-suru, Unirsirauw, Sawaerma, Joerat, Ayip, Atsy, Betcbamu, Kopay, Safan, Joutu, dan Koroway.

Dari jumlah anak yang mendapat pelayanan kesehatan itu, sebanyak 646 orang diantaranya dinyatakan positif terserang campak, 144 orang mengalami gizi buruk, empat orang mengalami campak dan gizi buruk serta 25 orang suspek campak.

Kasus wabah campak dan gizi buruk  ini telah menelan korban jiwa sebanyak 67 orang.

Korban meninggal terbanyak berada di Distrik (Kecamatan) Pulau Tiga sebanyak 37 orang yaitu di Kampung As sebanyak delapan orang, Atat sebanyak 23 orang, Kapi sebanyak dua orang dan Nakai sebanyak empat orang.

Selanjutnya korban meninggal di Distrik Fayit berjumlah 14 orang yaitu di Kampung Isar satu orang, Nanai satu orang dan Pirien sebanyak 12 orang.

Jumlah korban meninggal di Distrik Asui sebanyak delapan orang yaitu di Kampung Bawas lima orang dan di Kampung Tauro tiga orang.

Sementara di Distrik Akat, jumlah korban meninggal sebanyak empat orang dan korban yang meninggal usai dirawat di RSUD Asmat sebanyak empat orang terdiri atas dua pasien campak dan dua pasien gizi buruk.

Keterbatasan bahan makanan serta kondisi lingkungan yang buruk dinilai sebagai pemicu utama semakin meluasnya wabah campak dan gizi buruk di Asmat.

Disamping itu, jumlah tenaga dan fasilitas kesehatan yang kurang memadai juga turut memicu lambatnya upaya penanganan masalah wabah campak dan gizi buruk di Asmat.  (nur/ant)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.