Menkes: Jangan Ada Lagi Gizi Buruk Papua

TIMIKA, TimeX Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengingatkan jajaran kesehatan di Tanah Papua agar bekerja keras melakukan imunisasi dan penanganan gizi kepada anak-anak dan balita agar tidak terjadi lagi kasus gizi buruk di wilayah Papua dan sekitarnya.

Menkes Indonesia, Nila Moeloek

TIMIKA, TimeX

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengingatkan jajaran kesehatan di Tanah Papua agar bekerja keras melakukan imunisasi dan penanganan gizi kepada anak-anak dan balita agar tidak terjadi lagi kasus gizi buruk di wilayah Papua dan sekitarnya.
“Saya titip imunsiasi dan jangan lagi ada gizi buruk, kita memang harus kerja keras,” pesan Menkes Nila Moeloek kepada jajaran Dinas Kesehatan se-Provinsi Papua di Timika, Jumat.
Sejak Kamis (25/1) malam hingga Jumat pagi, Menkes yang didampingi sejumlah pejabat teras Kemenkes menggelar rapat koordinasi dengan jajaran Dinkes se-Provinsi Papua bertempat di Hotel Horison Timika.
Menkes mengatakan jika persoalan gizi balita dan anak-anak tidak tertangani maka akan berimbas pada keberhasilan program imunisasi.
“Daya tahan tubuh rendah pada anak gizi buruk menyebabkannya rentan terserang penyakit meski mengikuti program imunisasi,” jelas Nila.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Aloysius Giyai mengatakan sebagian kabupaten di Papua cakupan imunisasinya masih berada di bawah 30 persen.
Sementara Standar Pelayanan Minimal/SPM bidang kesehatan memandatkan cakupan imunisasi 100 persen.
Di Kabupaten Asmat, pada 2014, cakupan imunisasinya berada pada angka 102 persen.
Namun cakupan imunisasi di Asmat terus menurun pada tahun-tahun berikutnya.
Kepala Dinas Kesehatan Asmat Pieter Pajalla menuding program pembentukan kampung-kampung (desa) baru yang tidak diimbangi dengan penambahan jumlah petugas kesehatan menjadi salah satu penyebab turunnya cakupan program imunisasi di Asmat.
Pada 2017, cakupan imunisasi di Asmat berada pada angka 60 persen.
Sementara itu cakupan imunisasi tertinggi di seluruh Papua diraih oleh Kabupaten Biak Numfor dengan angka 120 persen. Sedangkan di Kabupaten Mimika, cakupan imunisasinya baru berada pada kisaran 80 persen, namun belum tervalidasi.

 

Data 15.000 Warga Asmat Gizi Buruk Tidak Masuk Akal 

Sementara itu, Menkes Nila F. Moeloek pun menilai, pernyataan Kapolda Papua Irjen Pol. Boy Rafli Amar kepada wartawan beberapa waktu lalu yang menyebut warga di Kabupaten Asmat sebanyak 10.000-15.000, terkena gizi buruk, data tersebut tidak masuk akal.

Nila menilai data yang disampaikan Kapolda Papua salah. Dari laporan dan pantauannya secara langsung di Asmat, Kamis (25/1), hanya ada 600-an anak dirawat terkait kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk dan campak di wilayah tersebut.

Demikian ditegaskan Nila Moeloek kepada wartawan di Hotel Horison Ultima Timika, Jumat (26/1).

Ia pun menilai anak-anak yang diberikan perhatian medis, termasuk imunisasi kisaran 7.000-an anak.

“Kalau pun angka yang dilaporkan sampai 15.000, memangnya jumlah penduduknya berapa?” tanyanya pula.

Sementara Komandan Satgas Kesehatan TNI KLB Asmat Brigjen TNI Asep Setia Gunawan mengatakan, tim kesehatan terpadu hingga kini sudah memeriksa 12.398 anak.

“Dari 12.398 anak yang mendapat pelayanan kesehatan, ditemukan 646 anak terkena wabah campak dan 144 anak menderita gizi buruk. Selain itu, ditemukan pula 25 anak suspek campak serta 4 anak yang terkena campak dan gizi buruk,” kata Asep.

Menurut Komandan Korem 174/ATW Merauke ini, jumlah anak yang meninggal akibat wabah campak dan gizi buruk dari September 2017 hingga 24 Januari 2018 tercatat 70 orang. Dari 70 korban meninggal itu, 65 korban meninggal akibat gizi buruk, 4 anak lainnya karena campak, dan 1 orang karena tetanus.

“Data di Posko Induk Penanggulangan KLB Asmat di Agats disebutkan 37 anak meninggal di Distrik Pulau Tiga, 15 anak di Distrik Fayit, 8 anak di Distrik Aswi, 4 anak di Distrik Akat, dan 6 lainnya meninggal di RSUD Agats,” ujarnya. (ant/san)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.