Suami Bunuh Istri Lalu Gantung Diri

Almarhum Hanok Emanratu saat masih aktif bekerja di PTFI

Almarhum Hanok Emanratu saat masih aktif bekerja di PTFI

TIMIKA, TimeX

Kejadian tragis di 2018 menggegerkan warga masyarakat Mimika.

Sang suami tega menghabisi nyawa istrinya, lalu gantung diri di sebuah kamar kos di Jalan Mente, Kelurahan Sempan, Distrik Mimika Baru, Sabtu (27/1) sekitar pukul 23.30 WIT.

Suami istri diidentifikasi bernama Hanok A.Emanratu (43) dan Maria Fransina Sianlolin (28) akhirnya ditemukan tewas secara mengenaskan.

Berdasarkan Laporan Polisi  Nomor: LP / 60 / I / PAPUA / RES MMK, tanggal 27 Januari 2018, Kapolres Mimika AKBP Indra Hermawan mengatakan, Hanok Emanratu korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) PT Freeport Indonesia (PTFI) ditemukan tewas tergantung (gantung diri).

Sementara itu, istrinya Maria Fransina Sianlolin ditemukan tewas dengan luka tusuk dibagian leher.

Kaporles Indra menyebutkan, ini termasuk perkara penganiayaan yang  dilanjutkan dengan aksi bunuh diri.

Kejadian ini menurut Indra, dari keterangan seorang saksi bernama Mubarok (25), awalnya saksi mendengar adanya pertengkaran dari dalam kamar kos korban.

Dari balik jendela yang hanya bersebelahan kamar dengan korban, saksi melihat korban Maria Fransina sudah dalam keadaan terluka dan sekujur tubuhnya bersimbah darah.

“Saat pun bergegas hendak mengecek ke dalam kamar kos korban, namun terkunci.

Lanjut Kapolres Indra, Mubarok lalu meminta kunci cadangan kepada pemilik kamar kos kemudian membuka pintu,” jelas Indra saat dikonfirmasi Minggu kemarin.

Saksi mengaku kaget setelah membuka pintu karena mendapati Hanok Emanratu telah tewas tergantung dengan seutas tali nilon di lehernya.

Sementara Maria Fransina ditemukan dalam keadaan tergeletak di lantai kamar kos dalam kondisi kritis bersimbah darah akibat sabetan benda tajam di bagian leher.

Kapolres Indra dari kejadian ini belum memastikan motif kasusnya.

“Kami belum pastikan motifnya mengapa Hanok tega menggorok leher istrinya kemudian menghakhiri hidupnya dengan cara gantung diri,” jelasnya.

Dari hasil identifikasi dan olah TKP, kata Indra, HE (Hanok) meninggal di TKP akibat gantung diri.

Sedangkan saudari Maria Fransina yang ditemukan kritis sempat dievakuasi ke RSUD untuk dilakukan pertolongan.

Namun sayang setelah beberapa menit di Ruang Unit Darurat RSUD, Maria dinyatakan meninggal oleh petugas medis setempat yang menanganinya.

Sementara Humas RSUD Mimika, Luki Mahakena membenarkan kedua korban dievakuasi ke kamar jenazah dan setelah divisum dan dipulasara dikembalikan ke pihak keluarga dan kerukunan.

“Maria Fransina dievakuasi dari TKP masuk kamar jenazah RSUD sekitar pukul 01.20 WIT. Kalau suaminya Hanok masuk kamar jenazah sekitar pukul 04.00 WIT dini hari (Minggu kemarin-Red).

Kini jenazah Hanok bersama istrinya Maria disemayamkan di rumah duka sesepuh Kerukunan Tanimbar, Max Samaran di Jalan Maleo (belakang Kanto Pos Timika).

Jenazah tiba di rumah duka sekitar pukul 19.30 WIT tadi malam dengan iring-iringan puluhan karyawan mogok kerja bersama pihak keluarga dan kerukunan.

Sesepuh kerukunan, Max Samaran didampingi Karel selaku Ketua Kerukunan Tanimbar menambahkan, prosesi pemakaman akan digelar terpisah.

“Karena pertimbangan kondisi jenazah, yang dimakamkan lebh dulu hari ini adalah almarhumah Maria. Rencana kita mulai dengan ibadah pelepasan oikumene, selanjutnya pemakaman di TPU Kamoro Jaya SP1,” ungkap Karel.

Sedangkan prosesi pemakaman almarhum Hanok belum dipastikan karena masih menunggu kedatangan keluarganya dari Tanimbar, termasuk seorang anak buah dari perkawinannya bersama Maria Fransina.

Selain itu, Nus, salah satu rekan korban kepada Timika eXpress di rumah duka menyebutkan, Hanok saat aktif menjadi karyawan bekerja di departemen Fire Maintenance Grasberg PT Freeport Indonesia. “Saya kenal baik dia, orangnya cukup pendiam di kalangan rekan kerja maupun keluarga. Dia tidak terlalu banyak bicara, orangnya juga tidak peminum dan perokok,” jelas Nus.

Namun informasi dari rekan-rekannya, tak dipungkiri Hanok ditengarai mengalami tekanan hidup luar biasa semenjak dianggap mengundurkan diri secara sukarela atau di-PHK “sepihak” oleh manajemen PT Freeport.

Tidak hanya itu, pada laman facebook Hanok Emanratu, berbagai ucapan duka ditulis, baik oleh keluarga, maupun sahabat kenalanannya.

Kasus tragis ini bukan baru pertama kali terjadi, tetapia sudah menimpa beberapa dari ribuan karyawan yang

terlibat aksi mogok kerja (Moker) sejak Mei 2017 lalu.

Sebelumnya, kasus serupa juga menimpa Artur Hendrik Marpaung.

Korban yang masuk kategori karyawan mogok ini nekad menghabisi nyawanya dengan cara gantung diri.

Peristiwa naas pada Rabu, 28 Juni 2017 silam sekitar pukul 00.00 WIT di Gang Veteran Jalan Samratulangi berawal dari adu mulut dengan istrinya.

Arthur yang melakoni profesi sebagai tukang ojek lantaran mogok kerja diduga mengalami tekanan hidup tidak berpikir panjang hingga menghabisi hidupnya dengan gantung diri di tiang penyangga tandon air di belakang rumah kosnya.

Kasu serupa yang juga pernah diberikan sebelumnya menemipa almarhum Marcel Sualang, juga ditemukan gantung diri dalam rumahnya di kompleks Perumahan Meyta 1, Blok G No 8, Kecamatan Matuari, Bitung, Sulawesi Utara pada 3 November 2017.

Saat itu, Marcel Sualang dilaporkan harus meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak lantaran tekanan hidup yang menimpa keluarganya pasca di-PHK tanpa jaminan layak dari perusahaan. (aro)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *