Kak Seto: Perlu Ada Sanitasi Air Bersih di Asmat

Foto: Indri/TimeX
Seto Mulyadi

TIMIKA, TimeX

Mematikan kondisi kesehatan anak-anak di Kabupaten Asmat, Agats pascamusibah Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan gizi buruk, Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonsia (LPAI), Seto Mulyadi menyatakan bahwa di Asmat perlunya sanitasi air bersih.

“Setelah dari sana (Asmat) dan lihat kehidupan dan kondisi lingkungan, sanitasi air bersih sangat dibutuhkan dan hal utama untuk memperbaiki kondisi kesehatan terhadap tumbuhkembang anak. Sanitasi air bersih karena anak–anak mandi atau minum dari air kali yang banyak mengandung bakteri yang memicu penyakit,” kata Seto Mulyadi yang akrab disapa kak Seto ketika ditemui Timika eXpress di Hotel Horison Ultima Timika, Selasa petang kemarin.

Menurutnya, sarana-prasarana, fasilitas infrastrktur di wilayah tersebut perlu dibenahi  dan harus dikembangkan, termasuk akses layanan komunkasi untuk memudahkan penanganan permasalahan terkait sendi-sendi kehidupan masyarakat setempat, khusus masalah kesehatan.

Selain sanitasi air bersih, perilaku hidup masyarakat setempat yang harus dibenahi adalah tidak membuang sampah sembarangan.

“Dari pengamatan saya memang udara kurang sehat, dan ini perlu penataan lingkungan. Padahal di Asmat kota diatas air dan bebas dari polusi udara, harusnya tidak sampai alami KLB,”ujar Seto.

Ia pun menyesalkan, maish sering terjadi tindakan kekerasan terhadap anak.

Yang lebih disayangkan adalah adanya laporan terkait perkawinan anak dengan ayah kandung.

“Saya dapat laporan dari warga dan petugas keamanan ada perkawinan resmi antara ayah dengan putrinya sendiri,” jelasnya.

Yang lebih memprihatinkan, ketika kak Seto bebincang dengan seorang warga yang saat itu bersama seorang anak,  katanya, ini anak siapa, oknum warga tersebut menjawab ini cucu saya.

Leibh lanjut kak Seto katakan terus mana bapaknya, oknum warga kembali menjawab, saya bapaknya.

Hal ini membuat Ketua LPAI miris lantaran kasus seperti ini masih marak.

Adapun kasus kekerasan terhadap anak tidak hanya kasus seksual, tetapi tanpa disadari mengenai cara mendidik anak dengan membentak serta mengeluarkan kata makian atau mensugesti anak dengan kalimat ‘bodok’, ini masuk kategori kekerasan terhadap anak.

Bahkan dari kunjungan dan sempat bertemu dengan para orang tua, baik ibu-ibu maupun bapak-bakap, kak Seto dengan suara lantas menyerukan gerakan stop kekerasan terhadap anak.

“Semuanya ini harus kita mulai dari diri pribadi,  keluarga dan lingkungan, sehingga menciptakan anak yang ceria, semangat dan koperatif ,” puji Seto.

Bahkan kepada tokoh-tokoh agama yang sempat ditemuinya, diminta ikut membantu mengkapanyekan stop kekerasan terhadap anak melalui khotbah di gereja. (a30)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *