Orang Tua Harus Perhatikan Potensi Anak

Foto: Tanto/TimeX
ATRAKSI-Ketua LPAI, Dr. Seto Mulyadi saat melakukan atraksi sulap dihadapan anak-anak TK di Kantor Pelayanan Polres Mimika, Rabu (21/2).

TIMIKA,TimeX

Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonsia (LPAI), Dr.Seto Mulyandi menyerukan kepada seluruh orang tua masyarakat Mimika untuk memperhatikan potensi anak.

Mengikuti tumbuhkembang anak sejak usia dini dengan memperhatikan potensi kemampuan yang dimiliki jadi modal dasar kesuksesan dimasa mendatang.

Seruan ini disampaikan pemerhati anak yang akrab disapa Kak Seto kala berkunjung ke beberapa TK dan SD, diantaranya TK Nur Hidayah, SD Yappis dan SD Integral Hidayatulhah.

Kak Seto pun menyempatkan diri berkunjung ke Polres Mimika dan bertemu dengan anak-anak dari TK Muslimat NU yang sedang mengikuti sosialisasi di Kantor Pelayanan Polres Mimika, Rabu (21/2).

Dari serangkaian kunjunganya,  Kak seto didampinggi Ketua LPAI Papua dan Papua Barat, serta perwakilan pengurus Dompet Duafa Jakarta, disambut hangat para guru , anak-anak maupun serta orang tua.

Yang membuat suasana meriah adalah aura kehadiran Kak Seto dengan trik-trik menghibur, mulai dari beryanyi bersama anak-anak, trik sulap yang dimainkan Kak Seto pun membuat ratusan anak-anak yang ditemui kagum dan tertawa lepas.

Usai menghibur anak-anak maupun guru dan orang tua dengan nyanyian dan atraksi sulap, Kak Seto memberikan arahan, bahwa hiburan singkat yang dilakukan hanyalah cara melecut potensi atau kegemaran positif dari karakter anak.

“Bahwa potensi yang ada dalam diri anak-anak harus diketahui, dan orang tua harus mendukung potensi anak. Karena dinamika perkembangan zaman dengan teknologi modern dan terbarukan, ini sangat berdampak pada karakter anak. Dengan melihat potensi anak akan membuat mereka cerdas dan kreatif .

Kalau pun akan itu tidak bersemangat atau loyo, ini harus disikapi, karena kalau dibiarkan akan berbahaya,”  pesannya.

Pesannya pula, dalam mendidik anak, hindari kekerasan, karena akan mempengaruhi psikologis dan tumbuhkembang anak.

“Generasi anak ibarat tambang emas yang unggul, sehingga orang tua jangan sampai kurang memperhatikan anak, termasuk tidak mengeluarkan kata-kata kasar yang juga mempengaruhi metalalitas anak. Jangan sekali-kali katakan ‘anak bodok’, ini membuat anak tidak percaya diri,” tegasnya.

Kembali ke Timika Mei

Meski Timika bukan tujuan utama kunjungan, namun Kak Seto memastikan sekembalinya ke Jakarta akan bertemu langsung dengan Presiden Joko Widodo untuk menceritakan soal kondisi di Timika dan Asmat.

“Nanti rencana kami datang lagi Bulan Mei ke Timika untuk seminar anti kekerasan kepada anak. Seminar nanti menyasar orang tua, para guru sehngga tidak salah kaprah dalam mendidik anak.

Kak Seto pun mengimbau kepada orang tua dan guru mengajarkan anak-anak memainkan permainan tradisional, sehingga tumbuh kembang anak tidak dipengaruhi tekonogi dari efek banyaknya media sosial (Medsos).

Dari kunjungan tersebut, Kepala Sekolah TK Muslimat NU, Ny. Susi mengaku bangga dan berterima kasih kepada Kak Seto.

“Ini benar-benar memotivasi kami guru-guru untuk lebih dekat dengan anak-anak sehingga pola didik yang kami lakukan mampu mengembangkan potensi anak,” tandasnya.

Konflik Sosial Pengaruhi Psikologi Anak

Secara khusus Ketua Umum (LPAI) Seto Mulyadi meminta Pemerintah Kabupaten Mimika memperhatikan dampak masalah perkembangan anak dari adanya konflik sosial, secara khusus konflik yang sering kali terjadi di Distrik Kwamki Narama.

Pasalnya, konflik sosial yang terjadi sangat mempengaruhi psikologi anak.

“Dengan melihat konflik, bisa saja anak-anak ini menjadi takut, bisa juga meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Makanya konflik jangan sampai berkepanjangan agar tidak membekas dalam memori anak,” tuturnya.

Seperti halnya kasus gizi buruk dan campak yang terjadi di Asmat, ini harus ditanggapi serius pemerintah mulai dari pusat sampai daerah.

Kepada wartawan di Kantor Pelayanan Polres, Rabu kemarin, Kak Seto mengatakan bahwa kecerdasan anak-anak Papua  pada umumnya tidak kalah dengan daerah lain.

“Buktinya kemarin saya ke Asmat, anak-anak disana begitu antusias menjawab pertanyaan yang saya lontarkan. Penting bagi  kita adalah perhatikan anak-anak,” kata Kak Seto usai menghibur anak-anak dengan nyanyian dan trik sulap.

Menyangkut banyaknya anak-anak yang masih sering menggunakan lem aibon, Kak Seto mengatakan, kebiasaan ini pun masih terjadi di daerah lain.

Kenyataan ini lagi-lagi jadi tanggung jawab pemerintah daerah.

“Pemerintah harus bangun komitmen atasi masalah ini. Kami dari pusat akan pantau, baik Presiden termasuk menteri-menteri akan mendongeng dan bermain bersama anak melalui Gerakan Saya Sahabat Anak (Sasana). Ini juga harus diterapkan di Papua,” imbuhnya. (30/aro)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.