68 Siswa Korban Teror dan Konflik Direlokasi

Relokasi Pengunsi Tunggu Keputusan Bupati

Jeni O Usmany
Foto: Indri/TimeX

TIMIKA, TimeX

Sebanyak 68 siswa kelas VI Sekolah Dasar (SD) di Kampung Banti dan Kwamki Narama direlokasi pihak Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Mimika guna menjalani proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dalam rangka persiapan Ujian Sekolah (US) dan Ujian Nasional (UN) 2018.

Kebijakan yang diambil Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Mimika, Jeni O Usmany agar masa depan anak-anak tidak dikorbankan hanya karena kasus teror penembakan dan isolasi warga di tiga kampung di Tembagapura, maupun konflik horisontal antar warga di Distrik Kwamki Narama yang masih berlangsung.

“Kami tidak mau hanya karena kasus teror dan penyanderaan serta konflik antarwarga di Kwamki Narama, pendidikan anak jadi terlantar. Ini juga karena guru-guru tidak berani laksanakan KBM karena tidak adanya jaminan keamanan,” jelas  Jeni.

Dari 68 siswa SD tersebut, 38 adalah siswa SD Banti, yakni korban kasus teror dan isolasi dari ulah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) sejak Oktober-Nopember 2017 lalu.

Sedangkan 30 lainnya adalah siswa SD Kwamki Narama.

“68 siswa SD ini kita relokasi untuk mengikuti proses pembelajaran di civitas pendidikan di Timika karena mereka adalah siswa kelas VI dalam persiapan ujian akhir tahun ini,” kata Jeni kepada wartawan di ruang VIP Bandar Mozes Kilangin, Rabu (22/2).

Terkait relokasi 38 siswa SD Banti, ini dilakukan setelah berkoordinasi dengan para orang tua dan managemen PT Freeport Indonesia (PTFI) terkait akomodasi.

“Untuk 38 siswa SD Banti kita relokasi ke SD Taruna Papua milik Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme Kamoro (LPMAK) yang dibangun dari dana kemitraan PT Freeport Indonesia. Sedangkan 30 siswa SD Kwamki Narama dialihkan mengikuti pendidikan di SD Negeri III.

Lebih lanjut katanya, meski yang direlokasi hanya siswa kelas VI, namun aktivitas mengajar di SD Banti untuk siswa kelas 1-5 tetap berjalan.

Relokasi siswa kelas VI hanya untuk mengintensifkan persiapan mengdahadapi ujian dari gangguan situasi keamanan di Banti.

“Nanti siswa kelas VI Banti di SD Taruna Papua dikasih ruangan khusus untuk proses KBM sampai dengan pelaksanaan ujian,”ujar Jeni.

Sementara 30 siswa SD Kwamki Narama yang dialihkan ke SD Negeri III, juga diberikan ruangan khusus, hanya kegiatan belajarnya pada siang hingga sore hari.

Untuk itu, ia meminta perhatian dan dukungan lebih dari orang siswa, karena pendidikan adalah investasi masa depan bagi anak-anaknya.

Selain siswa kelas VI SD Kwamki Narama, siswa kelas 1-5 di SD tersebut pun tidak terlantarkan.

Mereka pun dipindahkan ke sekolah terdekat di Timika agar proses KBM tetap berjalan.

“Intinya kami tidak terlantarakan, dan pihak sekolah maupun orang tua diminta tetap bangun komunikasi sehingga anak-anak bisa ditangani dan mengikuti pendidikan secara normal. Siswa kelas 1-5 juga nanti dialihkan ke SD Negeri III dan jam sekolahnya mulai siang hingga sore,” tambah Jeni.

ia berharap guru-guru dari sekolah yang dialihkan untuk serius dan sikapi obyektif kondisi yang terjadi dengan memberikan pembelajaran yang optimal.

Termasuk orang tua harus semangat mendukung, mengantar anaknya sehingga bisa belajar baik.

Sementara itu, menjawab pertanyaan wartawan soal status sekolah yang ditinggalkan, kata Jeni sementara ditutup.

“Siapa yang mau sekolah kalau situasinya tidak aman,” tukasnya.

Relokasi Pengunsi Tunggu Keputusan Bupati

Sementara itu, terkait relokasi warga pengungsi Tembagapura yang kini masih ditempatkan di camp pengungsian Gereja GKII Jemaat Anugerah Kwamki Narama, ini telah dilaporkan ke Bupati Mimika, Eltinis Omaleng dan Wakil Bupati Yohanis Bassang, dan tinggal menunggu keputusan pimpinan daerah.

Sekretaris Daerah (Sekda) Mimika, Ausilius You, mengatakan bahwa penanganan pengungsi tetap jadi perhatian pemerintah, hanya saja butuh proses, sebab  proses relokasi warga Tembagapura dari Kampung Kimbeli, Banti dan  Utikini, korban teror dan isolasi KKB 2017 silam, ini harus perlu kajian dan penanganan yang matang.

“Tidak mungkin bicara relokasi,  begitu lahan sudah siap langsung direlokasi. Kita perlu siapkan sarana-prasarana, infrastruktur pendukung. Ini semua jelas butuh perencanaan yang matang dan biaya. Hal-hal ini pun harus dipahami dan diketahui,” tegas You kerap ia disapa ketika diwawancarai Timika eXpress di SD YPPK Seminari ST. Yohanes Pembaptis Timika, SP III, Distrik Kuala Kencana, Kamis  kemarin.

Mantan Karetaker Bupati Mimika 2013 ini pun mengapresiasi upaya Dinas Pendidikan Mimika yang telah mengambil langkah menyelamatkan anak-anak pengungsian dalam proses pendidikan. (a30/tan)

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *