Keluarga Fondasi Utama Pembentukan Masa Depan Anak

PP3AKB Papua Adakan Sosialisasi dan Advokasi Pembentukan KRA di Mimika

TIMIKA,TimeX

Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (PP3A-KB) Provinsi Papua menggelar sosialisasi dan advokasi pembentukan Kabupaten/Kota Ramah Anak (KRA), di Kabupaten Mimika berlangsung di Hotel Grand Tembaga pada Rabu (16/5).

Terselenggaranya kegiatan ini berkat bekerjasama Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Pendudukan dan Keluarga Berencana Kabupaten Mimika.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Yohanis Bassang Plt Bupati Mimika ditandai pemukulan tifa. Peserta dalam sosialisasi ini perwakilan dari semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemkab Mimika.

Yohanis Bassang dalam sambutan menggaris bawahi bahwa berbicara masalah anak maka keluarga menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter, pola hidup disiplin menuju masa depan anak guna menghasilkan generasi penerus yang cerdas serta berkualitas.

Untuk itu ia mengingatkan bila ingin menjadi kabupaten atau kota ramah anak maka ibu-ibu dalam keluarga tanpa terkecuali mestinya banyaklah membaca mencari tahu tips-tips bagaimana mengolah pangan lokal menjadi makanan bernilai gizi tinggi yang berfungsi pembentukan otak anak mulai masih dalam kandungan hingga dilahirkan. Bukan ibu-ibu di rumah sibuk menghabiskan waktu menonton film atau sinetron.

“Jangan nonton film atau sinetron di TV ketika pemerannya menangis ibu-ibu juga turut menangis. Tetapi bagaimana menangkap apa pesan daripada film itu. Apa endingnya bukan ikut menangis,” kritik Bassang disambut tepuk tangan meriah dari peserta.

Menurutnya ibu-ibu menjadi hebat dalam keluarga bila bisa mengolah sendiri makanan kemudian menyajikan bagi anggota keluarganya bukan mengajak anak membeli makanan siap saji atau menikmati makanan yang ada di Gelael.

Selain itu ia mengingatkan ibu-ibu untuk menyusui anak-anaknya dengan air susu ibu (ASI) supaya anak memilik IQ tinggi bukan dengan susu sapi atau dot yang dijual di toko.

“Ini risiko. Kalian diberi anugerah untuk melahirkan. Ibu-ibu mulai dari kehamilan perlu makan makanan yang sehat, bergizi supaya lahir anak dengan IQ yang tinggi. Dengan demikian pada saat sekolah cepat menangkap apa yang diajarkan,” pesannya.

Ia juga berpesan dalam keluarga perlu membiasakan berkomunikasi menggunakan bahasa yang sopan dan mengajari hidup disiplin misalnya bangun pagi lebih awal sebab sifat anak mudah mengkopi atau merekam apa yang didengar dan dilihatnya. Menurutnya hanya orang yang hidupnya disiplin boleh meraih keberhasilan dan kesuksesan bukan orang malas.

Dikatakan 99 persen lingkungan keluarga sangat berpengaruh penuh pola laku anak selama tumbuh kembang, karena anak adalah harta yang paling berharga. Dalam keluarga boleh banyak anak namun perlu diatur jarak kelahirannya sebab program Keluarga Berencana (KB) bukan melarang orang banyak anak.

Mantan Kepala Badan Kepegawaian Diklat Daerah (BKKD) Mimika ini berharap ilmu yang didapat peserta mampu memviruskan kepada keluarga-keluarga di tengah masyarakat umum lainnya baik melalui rumah-rumah ibadah seperti gereja, masjid supaya melahirkan generasi  penerus bangsa yang hebat.

Anike Rawar Kepala Dinas PP3AKB Papua mengajak seluruh stakeholder baik pemerintah maupun swasta (BUMD/BUMN) mengambil bagian dalam mendukung pembentukan kabupaten/kota ramah anak di Kabupaten Mimika.

Dalam program kota ramah anak ini katanya terdapat 24 indikator, salah satunya akta kelahiran. Hal ini menjadi suatu yang prioritas sebab banyak anak dari daerah pedalaman, pesisir dan pinggiran Mimika masih banyak belum miliki akta kelahiran. Indikator lainnya misalnya di Mall pengelola harus menyediakan tempat bermain anak  atau di Rumah Sakit pada saat orangtuanya berobat anak-anaknya boleh bermain di taman ramah anak yang disediakan dengan maksud supaya anak tidak terkontaminasi dengan penyakit  dari pasien.

Sementara Irene Alice Wamafma Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Pendudukan dan Keluarga Berencana Kabupaten Mimika mengungkapkan, dengan adanya kegiatan ini ingin supaya sama dengan daerah-daerah lain dalam hal menjadi kabupaten/kota ramah anak.

“Kami lihat dari data-data yang ada masalah anak aibon dan anak karton sudah cukup banyak. Sesuai data kita kurang lebih 500-an orang,” katanya.

Alice mengungkapkan rata-rata anak-anak itu usia sekolah korban broken home tapi bukan berada di sekolah melainkan jalan-jalan membuat kegiatan diluar tanggung jawab mereka yang sesungguhnya tidak boleh mereka lakukan.

Kaitan dengan ini Alice mengakui tahun lalu sudah membentuk forum layak anak di Kabupaten Mimika. Keberadaan anak-anak ini sangat penting sebagai generasi untuk meneruskan keberlanjutan kemajuan pembangunan daerah ini, makanya perlu diselamatkan masa depan mereka. (antonius djuma)

Foto: Antonius Djuma/TimeX
MENYANYI – Peserta sosialisasi dan advokasi pembentukan kabupaten/kota ramah anak menyanyi lagu Indonesia Raya di Hotel Grand Tembaga pada Rabu (16/5).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.