Jenny Tidak Tepati Janji, Kantor Dinas Pendidikan Dirusak

TIMIKA,T imeX                    

Puluhan oknum guru honorer terpaksa merusak Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Jumat (22/6) siang kemarin. Para guru ini melakukan tindakan anarkis dengan merusak berbagai fasilitas kantor karena Kepala Dinas Pendidikan (Dispen) Kabupaten Mimika, Jenny O Usmanny tidak memenuhi janjinya untuk menemui mereka. Aksi brutal para guru honorer ini lantaran insentif mereka selama 18 bulan belum dibayar.

Data yang diperoleh Timika eXpress di lokasi kejadian menyebutkan, sejumlah fasilitas yang dirusak antara lain komputer, meja, kursi, lemari, kaca candela, pintu, AC, serta berbagai dokumen atau arsip kantor dihambur begitu saja di atas lantai.

Sebelum melakukan tindakan anarkis, kedatangan para guru ini dikawal aparat kepolisian. Namun aksi mereka tak bisa dibendung oleh anggota polisi yang saat itu berada di Kantor Dispen Mimika.

Meski massa sempat berdialong dengan Wakapolres Mimika Kompol Arnolis Korowa. Namun dialog tersebut tak membuahkan hasil, malah sebaliknya membuat para guru naik pitam. Luapan emosi para guru ini gara-gara dalam pembicaraan antara Wakapolres dengan mereka terlalu berteleh- teleh.

Tak menunggu lama, para guru honorer ini kemudian masuk kedalam ruangan dan merusak hampir semua fasilitas kantor. Bahkan kursi-kursi yang ada di dalam ruangan, digunakan mereka untuk memecahkan kaca pintu dan jendela kantor.

Ternyata aksi anakis ini berawal dari janji yang diterima para guru saat melakukan demo pada 11 Juni 2018 di Depan Kantor DPRD Mimika. Saat itu para pendemo  ditemui langsung  Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto.

Ditengah kerumunan massa, Agung lalu menghubungi                                                                                                                                                                                        Kepala Badan Pengelolah Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Mimika, Marthen Mallisa untuk menanyakan terkait pembayaran dana insentif guru honorer.

Dalam pembicaraan via telepon tersebut, Marthen menyebut, jika dana insentif guru honorer telah dianggarkan dan  diakomodir melalui dana Bantuan Operasional Daerah (Bopda) sebesar Rp 17 miliar.

Hanya saja, dana tersebut tidak bisa dicairkan,  jika belum ada rekomendasi atau permintaan dari Dinas Pendidikan  Kabupaten Mimika.

Setelah itu, Kapolres Agung  lalu menghubungi  Jenny Usmani selaku Kepala Dispen Mimika melalui sambungan telepon. Dibalik telepon, Jenny berjanji akan bertemu para guru honorer dan Kapolres Mimika di Kantor Dispen Gedung D Pusat Pemerintahan (Puspem) untuk mencari solusi dan kepastian terkait pencairan dana insentif tersebut.

Pernyataan Jenny ini  membuat sekitar 810 guru honorer menagih janji tersebut hari Jumat (22/6) kemarin. Sekitar pukul 08.00 Wit, para guru sudah menduduki Kantor Dispen Mimika.  Awal kedatangan para guru ini, suasana aman dan terkendali, bahkan terlihat Wakapolres Mimika Arnolis Korowa sempat bersendagurau dengan para guru.

Namun ketika waktu menunjukkan pukul 12.00 Wit,   Jenny Usmani tak kunjung datang. Mengetahui Jenny belum datang menemui mereka, para guru lalu berteriak histeris sambil menyebut nama  Jenny. Bahkan beberapa guru meminta Wakapolres untuk segera menghadirkan Jenny Usmani, namun Wakapolres ini mengaku, Jenny sedang tidak berada di tempat.

Saat itu salah satu guru dari Kokonao,  langsung menyampaikan aspirasi para guru kepada Wakapolres dan sejumlah aparat keamaan yang berada di lokasi.

“Para guru  ini datang kesini karena janji Kadispen Jenny Usmani. Kenapa pihak kepolisian tidak bisa menghadirkan dia, mereka hanya minta kejelasan, kapan bisa dibayar, karena uang itu sudah ada,” ujarnya.

Menanggapi hal yang disampaikan perwakilan guru ini, Wakapolres Mimika ini malah menyebut, jika guru yang bersangkutan bertindak sebagai provokator. Ucapan Wakapolres  ini memicu amarah para guru.

Pada saat pembicaraan sedang berlangsung, satu mobil bara kuda serta beberapa anggota Brimob dengan persenjataan lengkap mendatangi massa dan kemudian                              menarik paksa kurang lebih 8 orang guru, termasuk seorang guru wanita.

Meski sejumlah gunu lainnya menghalangi petugas, namun  aparat kepolisian ini menarik paksa masuk kedalam mobil wattercanon.

Bahkan ada seorang guru yang berlutuh didepan para petugas memohon agar rekan-rekan mereka tidak dibawa.

“Tolong jangan tarik rekan-rekan kami seperti itu. Kami bukan penjahat sehingga kalian perlakukan kami seperti itu,”teriak para guru-guru sambil menangis.

Adrianus, seorang guru honorer dari Kononao, mengeluarkan air mata saat melihat Patter ditarik-tarik oleh petugas.

“Dia bukan provokator massa, tetapi dia adalah saksi hidup. Dia yang ada bersama –sama dengan kami dipedalaman. Dia tahu bagaimana penderitaan kami. Kami begitu hancur sekali melihat perlakukan aparat ini,” ucap Adrianus, seorang guru honorer dari Kononao.

Sementara itu Wakapolres Arnolis Korowa saat dimintai keterangan mengatakan, beberapa orang yang diamankan tersebut untuk dimintai keterangan oleh polisi.

“Kami menahan untuk dimintai keterangan, karena para pelaku pengrusakan tetap akan diproses hukum,”ujarnya.

Lebih lanjut kata Arnolis, ia sudah memerintahkan anggotanya  untuk menjemput Jenny Usmani di Kuala Kencana. Namun malah Jenny  menyuruh Wakapolres  untuk menemui Kepala BPKAD Mimika.

“Kami sudah bertemu dengan Sekretaris BPKAD dan Sekda Mimika, tetapi sekretaris BPKAD dan Sekda meminta supaya para guru berbesar hati. Nanti hari Senin kan bupati sudah aktif kembali sehingga   para guru bisa berhadapan langsung dengan beliau,”pungkasnya.(a30)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.