Warga Atuka Minta LPMAK Tingkatkan Jumlah Beasiswa untuk Kamoro

TIMIKA,TimeX

Masyarakat di Atuka, Distrik Mimika Tengah mengharapkan agar Lembaga Pegembangan Masyarakat Amugme dan Kamoro (LPMAK) bisa berlaku adil dalam hal jatah beasiswa untuk Amungme dan Kamoro. Pasalnya selama ini pelajar asal Kamoro masih sangat minim terakomodir, padahal banyak anak-anak Kamoro yang sangat membutuhkan perhatian.

Seperti yang disampaikan oleh Silvester Atahena, S.Pd, Kepala Sekolah SMP Negeri Atuka saat ditemui Timika eXpress di kampung Atuka, Jumat(17/8) lalu.

Ia berharap agar jumlah anak-anak Kamoro dan Amungme jumlahnya sama.

“Harus adil. Paling tidak masing-masing 50 persen untuk Kamoro dan 50 untuk Amugme,” cetusnya.

Ia menjelaskan, beberapa waktu lalu pihak LPMAK turun ke pesisir dan menyeleksi di sekolah asal, namun beberap tahun terakhir tidak ada lagi.

Sedangkan untuk tahun ini seleksi dilakukan di Timika. Menurutnya, untuk seleksi siswa yang akan diberikan beasiswa bisa dikoordinasikan dengan pihak sekolah, karena pihak sekolah lebih mengetahui siapa yang memiliki potensi untuk mendapat beasiswa.

“Karena guru di sekolah itu lebih tau mereka (siswa) secara pribadi,” katanya.

Misalnya saja dalam hal kemampuan pengetahuan maupun mental. Persoalan mental ini menurutnya juga sangat penting, karena beberapa anak-anak sangat terpengaruh dengan kejutan kemajuan kota. Sehingga saat berada di kota akan sangat mudah terpengaruh dengan berbagai perubahan. Karena itu, dengan anak-anak yang direkomendasi oleh sekolah setidaknya bia memenuhi harapan.

“jangan sampai ada yang dikirim untuk sekolah tetapi harus kembali di tengah jalan, karena tidak mampu memenuhi tuntutan, baik dalam sistem asrama, maupun pendidikan,” tambahnya.

Oleh karena itu, ia mengharapkan LPMAK atau pemerintah yang mau menyekolahkan putra daerah terutama ke luar daerah hedaknya ada koordinasi dengan sekolah supaya sekolah merekomendasikan sapa saja yang pantas.

Misalnya di Atuka jika jatahnya berapa orang  maka pihak sekolah akan rekomendasikan setelah diseleksi.

Ini juga agar jangan sampai masyarakat memiliki kesan bahwa LPMAK memprioritaskan suku tertentu, yang akhirnya menimbulkan kecemburuan sosial.

“Jangan bilang mereka tidak punya kemampuan. Itu hanya alasan saja, saya pikir itu tidak bisa menjadi ukuran. Yang bisa mengukur anak itu bisa atau tidak adalah guru-guru SMP,” katanya.

Lanjutnya, kalau dilihat tahun ini, dari sejumlah siswa asal Kamoro yang mengikuti tes, hanya dua orang yang lolos. Oleh karena itu ua berharap agar LPMAK kembali memberikan wewenang untuk masing-masing sekolah memeberikan rekomendasi siswa yang akan ikut tes beasiswa, sehingga memberikan peluang yang lebih besar bagi anak-anak Kamoro. Karena jika hanya mengharapkan orang tua untuk kelanjutkan sekolah anak-anak Kamoro maka akan banyak anaka-anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bahlan jika memang tidak bisa ke luar Timika, paling tidak bisa disekolahkan di Timika.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Siswo, seorang guru SMP Negeri Atuka.

“Kasihan mereka sudah biaya jauh-jauh terus ada yang pulang banyak itu yang terjadi  banyak sekalih anak-anak dari

Atuka  bisa tembus tapi kesana mental tidak siap jadi pulang. Saya sebagai guru sangat sedih, karena sudah sekian tahun mengabdi di Atuka betul-betul merasa kasihan anak-anak,” katanya.

Karena dari sekian banyak yang siswa lulus mereka tapi banyak yang gagal tidak melanjutkan hanya faktor biaya.

Dan ketika mereka mengikuti tes di LPMAK, banyak yang tidak lulus. Karena faktor gerogi  saat menghadapi setuaisi yang baru. Oleh karena itu, ia berharapa paling tidak harus ada siswa asal Kamoro yang diakomodir oleh LPMAK kedepannya. (a31)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.