Perintah untuk Dilakukan

Renungan Mingguan

PADA saat orang Yahudi siap untuk memasuki tanah Kanaan, Musa mengumpulkan mereka. Ia mengajak merekauntuk mendengarkan apa yang akan ia sampaikan kepada mereka. “Dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup” (Ul. 4, 1). Mereka boleh bangga atas peraturan-peraturan itu. “Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa. Pada waktu mendengar segala ketetapan ini mereka akan berkata: ‘Bangsa besar manakah yang mempunyai Allah yang demikian dekat kepadanya seperti Tuhan , Allah kita, setiap kali kita memanggil kepadaNya?” (Ul. 4, 6-7). Ketetapan dan peraturan itu bersifat sakral dan tidak boleh dirubah. “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya! Dengan demikian kamu berpegang pada perintah Tuhan, Allahmu” (Ul. 4, 2).

Yesus sebagai anak bangsa Yahudi sangat menghormati dan menjaga keutuhan Hukum Taurat itu. “Siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga”, kataNya (Mt. 5, 19).

Yesus merasa amat tersinggung melihat bahwa orang Farisi memakai Hukum Taurat, kebanggaan bangsaNya, demi kepentingan mereka sendiri, untuk mencari hal dan menjatuhkan orang. “Mengapa murid-muridMu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapimakan dengan tangan najis?” , kata mereka kepada Yesus (Mk. 7, 5). Orang-orang Farisi, seperti orang-orang Yahudi lainnya, tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dahulu (Mk. 7, 3). Yesus membalas dengan menyebut mereka ‘munafik’, ‘pemain sandiwara’ (Mk. 7, 6). Dan secara lebih terperinci, tetapi pasti dengan lebih menyinggung perasaan mereka, Yesus mengutip Nabi Yesaya: “Mereka beribadah kepadaKu, tetapi ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia” (Yes. 29, 13). “Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia”, tambah Yesus (Mk. 7, 8).

Hukum Taurat, perintah Tuhan, diberikan untuk dilakukan, sebagai pegangan dalam kehidupan kita. “Sekarang, hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup” (Ul. 4, 1). Tujuan dan maksud perintah Tuhan tidak boleh dimainkan. Rasul Yakobus menegaskan hal yang sama: “Kamu harus menjadi pelaku  Firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri” (Yak. 1, 22). “Barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya” (Yak. 1, 25).

Ambil bagian dalam ibadah dan kebaktian sambil merenungkan Firman Tuhan, tidak ada artinya, kalau tidak berdampak pada kelakuan dan perbuatan kita dalam kehidupan yang nyata. “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia” (Yak. 1, 27). Apakah saya dapat memberikan dampak yang baik bagi diri saya dan lingkungan, jika saya ikut beribadah di Gereja? (Pastor Bert Hagendoorn OFM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.