Syukuran Sewindu Gereja Katedral Tiga Raja

TIMIKA, TimeX Ribuan umat Katolik Keuskupan Timika, merayakan sewindu (8 tahun) konsekrasi gereja Katedral Tiga Raja Timika, Minggu (7/10). Gelar perayaan diawali dengan Ekaristi Kudus dipimpin langsung Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Jhon Philipus Saklil, didampingi Pastor Paroki Katedral Tiga Raja, Amandus Rahadat dan Pastor Selsius Goo

POTONG KUE-Uskup Timika, Mgr. John Philip Saklil,Pr memotong kue ulang tahun konsekreasi Gereja Katedral Tiga Raja didampingi Ketua Panitia Hanny Kojongian, Minggu (7/10).(FOTO:SANTI/TIMEX)

Uskup: Gereja Sebenarnya Adalah Diri Kita

>>Ebamokai Raya Himpun Sumbangan Rp2 Miliar Lebih

TIMIKA, TimeX

Ribuan umat Katolik Keuskupan Timika, merayakan sewindu (8 tahun) konsekrasi gereja Katedral Tiga Raja Timika, Minggu (7/10).

Gelar perayaan diawali dengan Ekaristi Kudus dipimpin langsung Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Jhon Philipus Saklil, didampingi Pastor Paroki Katedral Tiga Raja, Amandus Rahadat dan Pastor Selsius Goo.

Begitu pentingnya perayaan sewindu konsekrasi mengingat katedral adalah takhta Uskup Timika, maka tem yang diusung adalah, ‘Salib Menyatukan Semua Umat yang Datang dari Berbagai Penjuru Dipandu Bintang Tiga Raja”.

Perayaan Ekaristi kudus diikuti ribuan umat termasuk dari 24 suku Katolik se-Keuskupan Timika hadir dengan tradisi pakaian adatnya masing-masing sebagai lambang persekutuan dari misa inkulturasi yang sudah berlangsung dua tahun hingga puncaknya pada Minggu kemarin.

Syukuran konsekrasi Gereja Katedral Tiga Raja pun ditandai dengan pemotongan kue ulang tahun miniatur Gereja Katedral Tiga Raja oleh Uskup Timika, Mgr. John Philip Saklil, Pr.

Porongan kue pertama diberikan kepada Pastor Amandus Rahadat, Pr, menyusul Pastor Selsius Go.

Uskup John Philip Saklil melalui khotbahnya pada perayaan Ekaristi Kudus, menyebutkan gedung gereja Katedral Tiga Raja delapan tahun lalu, 7 Oktober 2010 diresmikan oleh Leopold Girelli, Dubes Vatikan untuk Indonesia, dan dihadiri 17 uskup di Indonesia.

Melalui perayaan konsekreasi, sejalan dengan usia keuskupan yang sudah 14 tahun, dimana waktu itu katedral adalah gereja tua.
Dimana program utama saat dibentuknya Keuskupan Timika, adalah membangun gedung gereja katedral.

Semuanya melalui proses panjang, mulai peletakan baru pertama, termasuk partisipasi dan antusias umat memiliki gedung gereja yang layak maka berdirilah gedung gereja Katedral Tiga Raja yang indah dan megah, ditengah hidup umat yang sederhana.
Dalam, pesan moralnya, Uskup Jhon mengajak umat Katolik di Mimika merenungkan, bahwa gereja itu bukan gedung dengan fasilitas yang mahal, tapi gereja yang sebenarnya adalah diri kita atau keluarga kita.

“Apalah artinya suatu gereja yang indah, tapi hidup kita tidak seindah bangunan megah ini. Bacaan injil Markus sangat tajam, menegaskan bahwa gereja adalah tempat yang mempersatukan,” serunya.

Karena itu, pesan Uskup Saklil, setelah bangun gedung gereja dengan biaya mahal, kini saatnya bagaaimana kita membangun hidup selibat yang harmonis dalam keluarga. Ini tugas yang tidak gampang seumur hidup kita.

Pasalnya, Yesus sebelum meninggalkan murid-muridnya, Dia memanjatkan doa perpisahan, tujuannya agar mereka bersatu, yang semuanya itu adalah karya Yesus.

“Lewat doanya, Yesus mau muridnya bersatu, seperti Yesus bersatu dengan Bapa-Nya di surga, karena persatuan menjadi rahmat dan  berkat,” katanya.

Ia menambahkan, dalam hidup dan kehidupan, kebahagiaan itu bisa dialami kalau kita bersekutu, bersatu.

Pasalnya, kehancuran manusia di dunia karena tidak ada persatuan.

Untuk itu, bacaan injil menyerukan bagaimana kita harus bersatu sebagai suami istri, sebab dalam perkawinan katolik tidak ada perceraian, sampai maut memisahkan.

Karena persekutuan suami dan istri adalah sakramen, bahwa apa yang dipersatukan Tuhan tidak dapat diceraikan manusia dengan cara apapun.

“Ingat, jadi orang katolik tidak mudah. Kawin satu itu sudah sampai mati. Jadi mau istri sifatnya jelek, suami tukang cemburu, itulah persekutuan kita dengan Yesus. Jadi kalau kita berpisah atau cerai artinya kita lawan rencana Tuhan,” serunya.

Dari perkawinan umat katolik dengan latar belakang beda suku, semuanya telah dipersatukan dalam Gereja Katedral Tiga Raja, diperteguh dengan misa inkulturasi yang menampilkan gaya dan nuansa khas daerahnya masing-masing.

“Yang saya harapkan dari sewindu konsekrasi gereja katedral yang dibangun para leluhur dan orang beriman supaya kita umatnya bersekutu, hidup keluarga menjadi harmonis,” tandasnya.

Sementara itu, Hanny Kojongian selaku Ketua Panitia Konsekreasi Sewindu Gereja Katedral Tiga Raja menambahkan, sebagai umat gereja kita patut berbangga karena menjadi saksi-saksi perjalanan sejarah hingga memasuki usia ke-8.

Katanya, misa raya hari ini (kemarin-Red) merupakan puncak misa inkulturasi sejak 2 tahun lalu dengan melibatka 22 suku katolik di wilayah Gereja Katedral Tiga Raja.

“Misi Kami Dekatkan Umat ke Meja Altar dan Mendekatkan Meja Altar ke Umat. Dengan semangat itulah, maka panitia mengusung sub tema, ‘Salib Menyatukan Semua Umat yang Datang dari Berbagai Penjuru Dipandu Bintang Tiga Raja”

Kata Hanny, selama misa inkluturasi, tarian dan kearifan lokal budaya Papua yang ditampilkan berasal dari umat Katolik Suku Kamoro, Amungme, Fak-Fak, Sorong, Mingami, Mee, Ekari yang ada di Katedral Tiga Raja.

Sedangkan suku non Papua, ada Jawa, Batak, Toraja,Manado, Kei Besar, Kei Kecil, Tanimbar, Tionghoa, Maumere, Lembata, Lamaholot, Ende, Bajawa, Manggarai dan Tirosa.

Selain itu, dalam rangkaian perayaan konsekrasi, panitia juga melaksanakan serangkaian kegiatan dengan fokus pada perlombaan, melalui koordinator seksi liturgi dan seni budaya olahraga.

“Untuk lomba liturgi, meliputi baca kitab suci, dirigen umat, pendarasan mazmur,  dan lomba paduan suara yang diikuti empat wilayah, yaitu  Melkior, Kaspar, Keluarga Kudus dan OMK (Orang Muda Katolik),” urainya.

Sedangkan lomba seni dan budaya meliputi dua mata lomba, yaitu lomba masak nasi goreng special antar kombas oleh bapak-bapak, dan lomba tarian seka.

Sementara bidang olahraga dan kreatifitas terdiri dari 10 lomba, diantaranya gawang mini anak-anak, bakiak, voli,lomba membuat tempat lilin, merangkai bunga, tarik tambang, goyang aster, mode show, lomba mewarnai dan rangking satu khusus anak-anak Sekami.

“Termasuk gelar ebamokai raya dengan spirit,  kita hidup dari apa yang kita peroleh, dan kita menciptakan kehidupan dari apa yang kita beri,” tukasnya.

Usai perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan ebamokai raya “alas tikar” (sumbangan sukarela) yang dilaksanakan per suku oleh umat katolik dari masing-masing suku-suku yang ada di Mimika.
Sebanyak 24 suku dan satu Komunitas Basis (Kombas), umat Katolik di Mimika menyerahkan sumbangan sukarela rela kepada gereja diiringi dengan tarian adat masing-masing.

Adapun total sumbangan sukarela yang dihimpun sebesar Rp2.031.912.000.

Jumlah tersebut rinciannya, dana kas sebesar Rp775.857.000 dan janji iman 1.256.055.000, termasuk di dalamnya dari LPMAK untuk dua suku besar, Amungme dan Kamoro masing-masing Rp300 juta.

Sumbangan langsung juga diberikan oleh Uskup Timika, John Philip Saklil, Pr kepada Suku Amungme dan Kamoro masing-masing Rp50 juta dan kepada suku lainnya masing-masing Rp10 juta.

“Total yang kami himpun ini belum termasuk sumbangan spontan yang diberikan, karena masih dihitung panitia,” kata Amandus Rahadat, Pr, Pastor Paroki Gereja Katedral Tiga Raja saat ditemui Timika eXpress usai acara, Minggu kemarin.

Ia menambahkan, alas tikat ini tujuannya untuk menalangi utang Paroki Katedral Tiga Raja di Bank Mega sebesar Rp900 juta untuk melunasi pembelian tanah.

“Kami beli tanah sebesar Rp 3 miliar dan kami sudah bayar Rp 2,1 miliar sisa Rp900 juta. Hasil ebamokai ini di luar dugaan karena terkumpul hingga Rp2 miliar,” tutur Amandus.

Pastor Amandus pun berpesan kepada umat Gereka Katedral Tiga Raja terus bersatu membangun semangat iman untuk sebuah tujuan besar dan mulia. (san)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.