Refleksi 22 Tahun Kabupaten Mimika, Pasar Harus Ditata Baik

22 tahun sudah Kabupaten Mimika berdiri. Harus diakui bahwa perubahan dan kemajuan yang ada di Kabupaten Mimika kian meningkat.

Memang sudah seharusnya begitu. Walaupun harapan dan cita cita masyarakat belum sepenuhnya terpenuhi.

Mengingat semangat tujuan Kabupaten Mimika yakni membebaskan diri dari segala penjajahan (kemiskinan, kebodohan serta ketertinggalan) dan mewujudkan masyarakat yang aman, damai dan sejahtera seutuhnya, masih menjadi ‘PR’.

Kembali terpilihnya petahana Bupati Mimika, Eltinus Omaleng bersama wakilnya Johanes Rettob, seluruh masyarakat Mimika berharap penuh terwujudnya Mimika yang aman, damai dan sejahtera.

Asti, salah satu pedagang di Pasar Sentral berharap di usia 22 tahun, masyarakat Kabupaten Mimika menjadi mitra kritis dan strategis guna pertumbuhan pembangunan yang efektif.

“Kami harapkan ada perubahan nyata,” tutur Asti, wanita asal Jawa Tengah kepada Timika eXpress, Senin kemarin di Pasar Sentral.

Harpanya pula, Pemkab Mimika bisa mensejahterakan masyarakat pedagang dan penjual serta dapat menata pasar secara baik sehingga masyarakat bisa berjualan dengan aman. (san)

 

Perhatikan Rakyat Kecil

Tugas dan tanggung jawab Pemkab Mimika terhadap seluruh aspek kehidupan masyarakat adalah hal utama dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Untuk itu, melalui momen HUT ke-22 Kabupaten Mimika pada 8 Oktober 2018, pemerintah  setempat harus lebih memperhatikan masyarakat kecil.

“Setidaknya pemerintah bisa menyediakan lapangan pekerjaan buat kami orang kecil,” kata Erik, salah satu tukang parkir kendaraan saat ditemui Timika eXpress di bilangan Budi Utomo, Senin (8/10).

Harapnya, dengan menyediakan lapangan pekerjaan, maka tatanan kehidupan masyarakat akan menjadi lebih baik.

“Kalau sekarang hanya juru parkir dengan penghasilan yang tidak menentu, dengan mendapat perhatian pemerintah pastinya ada perubahan hidup. (aro)

 

Tuntaskan Persoalan Daerah

 

Harapan besar adanya perubahan kearah yang lebih baik dari momentum HUT Kabupaten Mimika ke-22, juga diungkapkan Robertus Waropea, Ketua Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (Lemasko).

Ia menegaskan bahwa sejumlah persoalan daerah yang mendera masyarakat harus dituntaskan sehingga persoalan tersebut tidak  terus terbawa dan jadi beban pemerintah.

“Masalah guru honor, persoalan komplek pedulang emas tradisional, penataan eks Pasar Swadaya, masalah peredaran minuman keras (Miras), maraknya prostitusi terselubung, kasus penyakit masyarakat yang masih tinggi, termasuk agenda LKPJ, pembahasan APBD Perubahan, semuanya harus disikapi secara obyektif dan dituntaskan,” tegasnya.

Persoalan lain yang jadi tugas berat pemerintah dan semua stakeholder terkait lainnya, adalah masalahan angka pengangguran yang terus meningkat, akses pendidikan, pelayanan kesehatan, sampai pada persoalan penanganan sampah yang masih sulit diselesaikan.

“Soal pelayanan kesehatan jangan sampai seperti dua kasus kematian yang terjadi disana karena tidak ada petugas medis,” serunya.

Sehingga pada usia ke 22 tahun ini butuh keseriusan dalam menyelesaikan permasalahan permasalahan yang terjadi.

Pesatnya perkembangan teknologi menuntut Kabupaten Mimika menjadi daerah yang modern berdasarkan prinsip-prinsip good governance. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang lebih baik.

Dalam arti yang luas bukan sekedar pada pembangunan fisik semata, melainkan menyiapkan sumber daya manusia yang unggul, agar berhasil menjadikan Kabupaten Mimika yang cerdas, makmur, religis serta berwawasan lingkungan.

Ia menambahkan, bahwa ke depan pemerintah harus lebih bertanggung jawab terhadap pembangunan pendidikan dan kesehatan agar ada kepercayaan masyarakat.

Harapnya pula, pemerintah bisa menjalin sinergitas dengan PT Freeport, LPMAK dana menjalankan roda pembangunan di Mimika, serta melibatkan masyarakat, termasuk pada penyelenggaraan HUT Mimika ini harus dipersiapkan secara matang, karena merupakan pesta rakyat. (a31)

 

 

Saatnya Berbenah untuk Lebih Baik

Usia 22 tahun menunjukan sebuah kematangan layaknya manusia, untuk mempersiapkan diri melangkah pada fase kehidupan yang lebih mumpuni.

Begitu pula dengan Kabupaten Mimika pada hari jadinya yang ke-22, dengan beragam tantangan yang kian berat, mulai dari konflik sosial, konflik kepentingan di lingkup Pemkab Mimika, mogok kerja 8000 lebih karyawan PT. Freeport Indonesia maupun privatisasi dan kontraktor, serta masalah pembayaran insentif ratusan guru honorer, menjadi konsen pemerintah setempat.

Dari berbagai permasalahan yang dihadapi, Ketua DPRD Mimika, Elminus Mom menyerukan kepada Pemkab Mimika agar berbenah diri untuk lebih baik ke depannya.

“Apapun persoalan harus kita hadapi dan sikapi dengan solusi tepat. Dan persoalan yang terjadi harus dijadikan pelajaran untuk menjadi lebih baik ke depan,” tegasnya.

Termasuk Muhammad Anca (33), seorang tukang ojek juga mengungkapkan harapan serta keinginannya agar ojeker di Timika ditata baik sehingga tidak menimbulkan keresahan.

“Dengan banyaknya tukang ojek, perlu pendataan dan penertiban karena angkutan juga belum tertata baik,” katanya.

 

Belum Bebas dari Sampah

 

Bahkan, Christian Mambela (20), salah satu mahasiswa menambahkan, di usia 22 tahun ini, Kabupaten Mimika harusnya bisa sukses membangun disegala bidang.

“Timika adalah kota yang sedang berkembang. Besar harapan kami untuk melihat Timika sukses dan maju seperti daerah-daerah di Pulau Jawa. Paling tidak dalam penataan kota, karena sampai saat ini Timika belum bebas dari sampah,” imbuhnya. (zuk)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.