Satu Karyawan Freeport, Korban Pesawat JT 610

EVAKUASI-Tim SAR gabungan saat mengevakuasi temuan jatuhnya pesawat dalam kantong mayat, Senin petang kemarin

SURABAYA, TimeX

Berita jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 jadi trending topik sejak Senin (29/10/2018) pagi.

Kabar duka transportasi udara ini pun memantik perhatian banyak pihak, termasuk masyarakat Mimika, sebab dalam manifes daftar penumpang, ada nama Paul Ayorbaba, karyawan PT Freeport Indonesia, merupakan warga Timika yang ikut dalam penerbangan pesawat naas tersebut.

Dalam list manifes daftar penumpang bernama lengkap Ferdinand Paul Ayorbaba sesuai abjad adalah penumpang nomor urut 17 yang menempati seat (kursi) 24 B dalam penerbangan Pesawat Lion Air JT-610  rute Jakarta-Pangkalpinang.

Ferdinand termasuk salah satu dari 181 penumpang pesawat yang jatuh di sekitar perairan dekat Karawang, Jawa Barat, Senin pagi kemarin.

Informasi yang diperoleh redaksi Timika eXpress dari grup whatsapp (WA) PKB Kabupaten Mimika, menyebutkan Paul Ayorbaba adalah sepupu sekali dari Doni Ayorbaba yang adalah kader PKB berdomisili di Jayapura.

Ferdinand Paul Ayorbaba adalah putra dari Ny. Tiece Makalew dan Luther Ayorbaba (almarhum) tinggal di Papua. Namun saat ini, Tiece ibunya sedang berada di Manado.

Sisi, salah satu keluarga dekat mengaku kaget mendengar berita dan melihat list dari media massa dan melalui layar kaca ada nama korban Ferdinand.

Selain itu, Agus Injama, teman dekat korban kepada Timika eXpress menyatakan Ferdinand adalah karyawan Freeport.

“Beliau oranganya sangat baik, suka sapa siapa saja dan murah senyum,” tutur Agus singkat via pesan WA.

Sementara, Kepala Humas Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Sindu Rahayu, menuturkan, pesawat tersebut membawa 181 penumpang, terdiri dari 178 penumpang  dewasa laki-laki 124 orang, perempuan dewas 54 orang, ditambah satu penumpang anak-anak, dua bayi, serta 7 awak kabin.

“Pesawat membawa 178 penumpang dewasa, satu penumpang anak-anak dan dua bayi dengan dua pilot dan lima FA (flight attendant).

Sampai saat ini telah hilang kontak selama kurang lebih tiga jam,” ujar Sindu melalui keterangan tertulisnya, Senin (29/10/2018).

 

Tim Pencari Temukan Potongan Tubuh

Pencarian terhadap jatuhnya pesawat Lion Air di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, mulai membuahkan hasil.

Tim pencarian yang dipimpin Kapolres Karawang AKBP Slamet Waloya, siang ini menemukan serpihan pesawat dan potongan tubuh manusia sekitar 17 mil dari bibir pantai Tanjung Pakis.

Penemuan serpihan pesawat dan potongan tubuh manusia ini sementara dibawa ke Tanjung Priok.

Menurut Slamet, pencarian mash terus dilakukan bukan hanya dari unsur Polri tapi juga dari TNI, Basarnas, Tagana, dan lainnya. Evakuasi korban ataupun serpihan pesawat akan dibawa di dua tempat yaitu Pantai Tanjung Pakis atau Tanjung Priok.

Selain itu, tim pencari 24 jam atas instruksi Presiden juga sudah sudah mengevakuasi sembilan kantung jenazah korban ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin sore (29/10).

Kepala Instalasi Forensik RS Polri Edy Purnomo menyatakan kantung jenazah tidak akan langsung diperiksa.

“Kantung jenazah langsung dimasukkan ke freezer, baru diperiksa besok,” jelas Edy di RS Polri, Jakarta Timur, Senin (29/10).

Edy belum mau memberitahu isi kantung jenazah serta kantung yang dimungkinkan berisi benda benda milik korban. Dia menegaskan pihaknya baru akan memeriksa esok hari.

“Karena harus nunggu pemeriksaan dan harus lebih teliti. Nggak boleh tergesa-gesa,” katanya.

Edy mengatakan keluarga korban akan dimintai keterangan lebih lanjut. Nantinya, identitas korban akan dicocokkan dengan ciri-ciri korban di ruang Disaster Victim Identification (DVI).

Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 dipastikan jatuh di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat. Pesawat tersebut terbang dari Bandara Soekarno Hatta pada Senin (29/10) pukul 06.20 WIB menuju Bandara Depati Amir, Pangkalpinang.

Pilot sempat meminta kembali ke landasan sesaat setelah lepas landas. Pilot juga sempat melapor ke ATC Bandara Soetta adanya masalah pada flight control di ketinggian 1.700 kaki dan meminta naik ke ketinggian 5.000 kaki.

Namun pada pukul 06.32 WIB, pesawat jenis Boeing 737-300 MAX 8 itu hilang dari radar dan tak bisa dikontak kembali.

Pesawat dengan nomor register PK-LQP itu membawa total 189 orang yang terdiri atas 178 penumpang dewasa, satu anak, dan dua bayi, serta delapan awak kabin. Basarnas memprediksi tak ada yang selama dari musibah ini.  (vis/thm)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.