“Saya Janji Tidak Mencuri Ayam Lagi”

Foto: Tanto/TimeX
DAMPINGI – AKP I Gusti Agung Ananta Pratama dan seorang polwan sementara mendampingi Leo memberikan keterangan kepada media pada Sabtu (3/11).

TIMIKA,TimeX

LPB (13) alias Leo, bocah nahas yang adalah pelaku pencurian sekaligus korban penganiayaan oleh pemilik ayam dengan jujur dan polos berjanji tidak mencuri ayam lagi.

“Saya janji tidak akan lakukan lagi dan saya ingin sekolah,” tutur Leo di hadapan penyidik Unit PPA Polres Mimika pada Sabtu (3/11).

Saat itu Leo didampingi Kasat Reskrim Polres Mimika AKP I Gusti Agung Ananta Pratama serta seorang polwan.

Bocah hitam manis berambut lurus ini dengan polos mengaku ayam hasil curiannya selama ini biasanya dijual kembali. Berapa harga ia tidak menyebutkan. Uang hasil jualan ayam itu ia pakai untuk membeli makan.

Leo bersama T temannya memang dari awal sudah punya niat ingin mencuri ayam. Namun belum juga sempat mengambil ayam rupayanya pergerakan mereka ketahuan hingga ditangkap basah oleh LOR pemilik ayam.

Anak keempat dari delapan bersaudara ini menceritakan bahwa dirinya sudah putus sekolah sejak duduk di bangku kelas VI SD di kampung halamannya Tanimbar.

Leo saat itu mengisahkan kisah pilunya di ruang kasat reskrim. Kepala bagian kiri tertempel perban putih menutupi luka akibat dipukul menggunakan kayu oleh sang pemilik ayam. Mulut dan hidungnya ditutupi masker biru. Kedua tangannya diletakan di tengah kedua celah pahanya. Sementara tangan kanannya mengenakan gelang karet warna merah, kuning, biru dan hitam. Ia mengenakan baju kaos merah dipadukan celana pendek hitam bintik putih.

Leo selain mengaku tobat tidak mengulangi  perbuatan mencuri juga mengucapkan terima kasih kepada pihak kepolisian sudah membantunya mangkap dan proses hukum terhadap tiga tersangka yang telah menganiaya dirinya karena diduga telah mencuri ayam.

“Saya ucapkan terima kasih banyak kepada bapak Kapolri, bapak Kapolda dan bapak Kapolres Mimika sudah bantu saya, tangkap mereka yang sudah pukul-pukul dan tendang saya,” kata Leo sambil menangis.

Di Timika ia sudah tiga tahun tinggal bersama kakaknya di Pasar Sentral. Sementara orangtuanya ada di Tanimbar.

Sementara I Gusti Agung Ananta Pratama saat itu mendampinginya menuturkan dalam kasus ini bukan hanya Leo sendiri, namun masih ada sebagian anak-anak putus sekolah seusianya terpaksa melakukan hal seperti ini karena faktor tekanan ekonomi.

“Jadi dengan pengakuan dari Leo ini menjadi salah satu contoh bagaimana kita lihat. Ini nanti bagaimana tindaklanjutnya dari Dinsos dan bahkan dari pusat sudah melihat kondisi anak-anak di Timika. Kami akan koordinasi lagi ke mereka,” jelas Gusti.

Gusti melihat peristiwa seperti ini sebenarnya pihak dari pusat sudah seharusnya hadir di sini. “Kita juga dari awal sudah lakukan koordinasi dengan P2TP2A dan Dinsos. Sekarang tinggal bagaimana peran pemerintah karena dia ingin sekolah. Intinya dia ingin seperti anak-anak lain, namun nasib berkata lain dan harus mencuri karena orangtua tidak ada di sini,” ungkapnya. (tan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.