SDN 10 Pomako Terancam Ditutup

FOTO:INDRI/TIMEX
PANTAU-Kadisdik Mimika, Jenny Usmani saat memantau dan berdialog dengan anak-anak yang tidak sekolah di Pelabuhan Pomako, Kamis kemarin.
>>PARIWARA

>>Kadisdik Hanya Dapati 15 Murid yang Belajar
>>Anggota DPRD Sikapi Transportasi Guru

TIMIKA, TimeX
Potret buram pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 10 Pomako yang terancam ditutup tentunya jadi tantangan dunia pendidikan di Mimika.
Ancaman penutupan civitas pendidikan yang dibangun sejak 2013 silam lantaran partisipasi kehadiran siswa memenuhi rombongan belajar (rombel) yang disediakan sangatlah minim.
Ini terbukti dari kunjungan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Mimika, Jenny Ohenstina Usmani ke sekolah tersebut di Pomako, Distrik Mimika Timur, Kamis (8/11).
Ancaman penutupan civitas pendidikan tersebut lantaran saat kunjungannya, hanya didapati 15 anak mengikuti Proses Belajar Mengajar (PBM), itu pun gabungan murid kelas 1-3.
Padahal total jumlah siswa dari kelas 1-5 di sekolah itu sebanyak 145 murid.
“Saya lihat ini muridnya sedikit sekali. Kalau kondisi sekolah ini selalu kosong, bisa saja kami tutup. Kalau tutup yang rugikan anak-anak dan orang tua. Kalau guru-gurunya saya bisa pindahkan ke sekolah lain,” serunya.
Jenny pun menyayangkan dibangunnya SDN 10 Pomako di kawasan yang warga tidak menetap di wilayah setempat.
Ditengah bangunan sekolah semi permanen dominan kayu dan papan, Jenny sempat berdialog dengan Anna Rettob selaku Kepala Sekolah (Kepsek) SDN 10 Pomako.
Jenny pun mendapat penjelasan kalau sekolah dengan tiga Rombel tersebut ditangani oleh enam orang guru, tiga guru status ASN, lainnya honorer.
Kata Anna, sebenarnya keberadaan sekolah ini sesuai rekomendasi dinas adalah SD kecil yang hanya sampai kelas tiga SD.
“Saya ikut dari awal sekolah ini dibangun terima siswa dari kelas 1-5, sedangkan kelas 6 nya nanti gabung di SD Negeri Satu Atap Pomako,” jelasnya sekaligus mengatakan bahwa sekolahnya tetap aktif, tidak seperti diberitakan.
Menyikapi tantangan pendidikan di SDN Pomako 10, kepada Kepsek dan guru-gurunya diminta tetap menjalankan operasional pendidikan dengan prioritas utama anak-anak didik di wilayah setempat bisa aktif belajar setiap harinya.
“Upaya-upaya yang sudah dilakukan selama ini untuk sadarkan orang tua maupun anak tetap bersekolah harus tetap dioptimalkan. Tidak boleh ada alasan apapun dari para guru, termasuk keluhan sial sulitnya tranportasi. Masalah transportasi kita akan komunikasikan dengan Dinas Perhubungan terkait ketersediaan bus dengan rutenya untuk jawab keluhan guru-guru yang mengajar di Mapurujaya sampai Pomako,” ujarnya.

Pantau Anak-anak di Pelabuhan Pomako
Untuk memastikan minimnya partisipasi anak-anak Pomako mengenyam pendidikan dasar, Jenny pun meninjau langsung ke kawasan Pelabuhan Pomako.
Mendapati banyaknya anak-anak yang bermain dan tidak sekolah, ia pun langsung menghampiri mereka.
“Kalian kenapa main disini? tidak pergi sekolah kah, sekolah kalian dimana,” tanya Jenny kebeberapa anak yang sedang bermain waktu itu.
Salah satu anak mengaku sekolah di Keakwa, bukan di SDN 10 Pomako.
Adapula yang katakan tidak masuk sekolah karena ikut orang tua mereka melaut.
Kepada anak-anak tersebut, Jenny berpesan agar mereka tidak bolos pada jam sekolah, sebaiknya sekolah.
“Kalian harus sekolah, nanti sudah pulang sekolah baru bermain, jangan main terus,” tegasnya.
Lebih lanjut, kata Anna, upaya-upaya yang sudah dilakukan untuk menjawab tantangan kurangnya kesadaran orang tua, dan minimnya partisipasi anak mengikuti pendidikan.
Bahkan guru-guru yang selalu aktif mengajar harus dibebani lagi dengan mencari bahkan mendatangi rumah-rumah untuk menyerukan agar anak-anak masuk sekolah.
“Kadang kami mau mengajar kelas kosong, terpaksa kami datangi satu persatu rumah untuk panggil anak-anak ke sekolah,” jelas Anna.
Demikian pula, pihaknya sampai menggandeng pihak RT, kepolisian kawasan Pelabuhan Pomako dan tokoh-tokoh masyarakat untuk beri pengertian kepada orang tua agar anaknya disekolahkan, tetapi usaha ini terkadang tidak dihiraukan para orang tua.
Dari sinyal penegasan Kadisdik mengancam akan menutup sekolah, akan disampaikan lagi kepada orang tua murid agar masa depan anak tidak terancam.
“Ini harus kita sama-sama sikapi. Orang tua dengan kesadaranya sekolahkan anak supaya sekolah ini tidak ditutup,” harapnya.
Dari situasi sebelumnya, Anna sangat mengharapkan peran serta dukungan orang tua.
“Jangan lagi marah-marah kalau kami panggil anaknya ke sekolah. Jangan lagi ada kalimat kam mo kasi anak-anak apa jadi kam panggil mereka sekolah,” tutur Anna dengan dialeg khas mengutip pernyataan orang tua murid.
Sedangkan Fermina Siteubun, guru honorer yang sudah mengabdi sejak 2013 lalu membenarkan fenomena masalah pendidikan di SDN 10 Pomako.
Ia menyebutkan, dari data tahun ajaran baru biasanya jumlah siswa 100 lebih, tetapi kehadiran normal di sekolah hanya 20 anak paling maksimal.
“Tapi kalau ada kapal putih (Pelni) masuk, anak-anak lebih memilih tidak sekolah melainkan memililih bermain di Pelabuhan Pomako,” katanya.
Fermina pun terbuka mengatakan soal keluhan masalah transportasi dari Timika menuju tempat mengajar di Pomako.
“Kami setiap pagi syukur kalau dapat tumpangan di mobil ekspesi atau mobil-mobil pribadi masyarakat yang tujuan Pomako diberi tumpangan.
“Kalaupun naik angkot, ini harus siapkan uang Rp75 ribu, karena sekali naik ongkosnya Rp35 ribu. Kita mau pembelajaran maksimal makanya harus cepat, sebab jam sekolah paling lambat dimulai pukul 08:00 atau 08:30 WIT, dan berakhir pukul 12:00 WIT,” tukasnya.
Dari permasalahan pendidikan ini pun mendapat tanggapan dari Ketua Komisi C DPRD Mimika, Yohanis Kibak.
“Saya sayangkan kondisi di SDN 10 Pomako berbeda dengan wilayah lain yang murid-muridnya punya kemauan tinggi untuk belajar tapi terkendala tenaga pengajar, sedangkan di SDN 10 malah kemauan anak-anak ke sekolah sangat rendah,” ujarnya.
Senasa dengan Yohanis, anggota dewan lainnya, Muh. Asri Anjang, SE menyerukan para guru di civitas pendidikan setempat lebih aktif menuntun anak-anak untuk sekolah sehingga masa depa mereka cerah.
“Ini jadi tugas berat dan tanggung jawab bersama, lebiih khusus orang tua murid di wilayah setempat,” tegasnya.

Transportasi Guru
Anggota Komisi C DPRD Mimika yang juga melakukan kunjungan terpisah ke SDN Pomako 10, Kamis kemarin juga menanggapi langsung keluhan dari guru-guru yang mengajar di Mapurujaya dan Pomako, Distrik Mimika Timur.
Ludi Vika Taniyu kepada anggota dewas disela-sela kunjungan Kamis kemarin mengeluhkan susahnya transportasi dari Timika-Mapurjaya dan Pomako.
“Kami selama ini kesulitan transportasi sehingga selalu menumpang truk-truk ekspedisi untuk sampai ke sekolah setiap hari,” kata Ludi yang adalah guru honor di sekolah tersebut.
Kesulitan transportasi tidak hanya dialami oleh guru-guru SDNegeri 10 Paomako, tapi guru-guru di sekolah satu atap maupun SMK Kelautan di Jalan Logpon.
Menjawab keluhan tersebut,Wakil Ketua Komisi C DPRD Mimika, Hadi Wiyono pihaknya akan menyikapi keluhan guru dalam mendukung aktivitas PBM untuk kepentingan masyarakat, khususnya anak-anak sebagai generasi penerus.
“Kami akan koordinasikan dengan Dinas Perhubungan untuk sediakan transportasi darat berupa bus, khusus layani guru-guru pergi dan pulang ke tempat tugas di Mapurujaya dan Pomako,” katanya.
Menurut Hadi, soal anggaran akses transportasi guru ke tempat tugas oleh pihaknya dianggarkan pada draft APBD 2018, hanya saja kita belum tahu apalah diakomodir atau tidak.
“Kalau pun tidak kami akan koordinasikan dengan Dishub,” tukasnya. (a30/a32)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.