Pemkab, Freeport dan Polres Bahas Masalah Pendulang

TIMIKA,TimeX

Foto: Tanto/TimeX
DISKUSI – Berbagai pihak diskusi masalah pendulang dan pengepul emas di Resto dan Hotel Cenderawasih 66 pada Jumat (23/11).

Pemerintah Kabupaten Mimika diwakilkan oleh Ausilius You Sekda Mimika, perwakilan manajeme PT Freeport Indonesia Achmad Didi Ardianto EVP HR-IR PTFI, AKBP Angung Marlianto Kapolres Mimika dan perwakilan pendulang serta pengepul emas mengadakan Focus Group Discussion Dinamika Masyarakat Pendulang di Kabupaten Mimika. Pertemuan ini berlangsung di Resto dan Hotel Cenderawasih 66 pada Jumat ( 23/11).

Agung Marlianto setelah pertemuan kepada Timika eXpress mengungkapkan menyikapi masalah legalitas bagi para pendulang maupun pengepul emas di Kabupaten Mimika yang belakangan menjadi polemik hingga saat ini masih terus mencari solusi sehingga perlu adanya kajian ulang.

“Memang tidak bisa secara serta merta untuk lahir satu formula yang tepat. Namun ini masih perlu pengkajian lagi,” ungkapnya.

Dikatakan dari pertemuan itu sudah ada kesepakatan bahwa nantinya dibentuk langkah-langkah jangka pendek maupun jangka panjang.

“Jadi harus ada langkah untuk bisa mengabulkan atau mengakomodir aspirasi dari masyarakat pendulang maupun masyarakat pengepul emas, supaya tidak berbenturan dengan ketentuan hukum lebih tinggi. Ini yang harus kita cermati,” katanya.

Sebagai aparat ia mendukung kebijakan yang diambil oleh Pemkab Mimika namun dirinya menekankan jangan sampai ada aturan atau ketentuan lain yang dilanggar. Sehingga ini butuh pembicaraan lebih lanjut. Oleh karena itu dalam waktu dekat akan diadakan kembali rapat lanjutan dengan mengundang pihak-pihak berkompeten.

“Jadi menuju ke sana kita akan membentuk WhatsApp grup untuk bisa lebih intens lagi brainstorming (pendapat-red) dari masing-masing kepentingan ini,” kartanya.

Kepentingan ini lanjutnya adalah kepentingan masyarakat pendulang, kepentingan masyarakat pengepul emas, kepentingan Pemkab untuk bisa mengelola masyarakat lebih baik supaya bisa sejahtera lagi dan kepentingan dari Freeport itu sendiri.

Perwira melati dua ini mengungkapkan ini merupakan pertemuan kali kedua terkait masalah mencari solusi terhadap para pendulang maupun pengepul emas.

“Karena kita tidak bisa pungkiri ada masyarakat pendulang yang jumlahnya juga cukup signifikan angkanya bervariasi. Ada yang menyampaikan 6000, ada yang menyampaikan 16000. Itu angka yang tidak sedikit dan itu harus ada solusi,” ujarnya.

Sementara Achmad Didi Ardianto menyampaikan bahwa di tengah semangat untuk bisa menyelesaikan persoalan ini janganlah langsung lompat pada kesimpulan, karena itu berbahaya sehingga perlu ada kajian memang benar-benar mendalam.

“Kita harus lakukan kajian untuk membuat masyarakat pendulang ini mendapatkan solusi. Secara umum, saya melihat ada dua kemungkinan. Pertama dikatakan ilegal atau legal, tapi untuk jawab dua ini perlu kita kaji sama-sama serta ada landasan hukumnya. Kalau ilegal apa solusinya dan kalau ini menjadi legal apa persyaratannya,” ungkapnya.

Didi menggaris bawahi untuk penyelesaian persoalan ini harus pihak yang lebih tinggi dan lebih luas. Sebab kalau tidak diselesaikan akan timbul masalah besar dan pada ujungnya Pemkab akan kena getahnya sehingga ini tidak bisa dibiarkan.

Bahkan ia menjelaskan persoalan pertambangan rakyat yang sifatnya tidak korporasi itu memang terjadi di mana-mana, bukan cuman di Freeport. Dengan demikian dirinya mengusulkan memang harus ada kajian lagi sehingga ada solusinya.

Sedangkan Ausilius You dalam diskusi itu mengatakan kehadiran semua pihak dalam FGD adalah mencari solusi bukan mencari hal lain. Dan ia menekankan harus menyatukan pikiran bersama-sama.

“Barang ini sudah terlanjur ada di sini. Marilah kita jaga dan kita temukan solusi terbaik bersama,” ajaknya.

You sangat mendukung adanya rencana kajian kembali supaya bisa menemukan solusi yang tepat.

“Saya juga mendukung adanya suatu wadah yang mewadahi para pendulang dan pengepul. Tetapi semuanya harus disepakati bersama dan harus ada landasan hukum,” katanya. (tan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.