Mengenal Rauf Fuad Prajurit TNI AD, Putra Papua dari Keluarga Veteran 45

“Saya orang pertama masuk di Kodim ini. Tertua saat itu Letnan Suroto, sudah pensiun. Sekarang HRD PT Petrosea.  Dulu daerah ini masih kosong, hutan, belum ada jalan. Tapi saya syukuri apa yang didapat ini semua. Inilah berkat dari Tuhan”

SOSOK Peltu Inf Rauf Fuad (50) putra Papua kelahiran Kabupaten Fakfak, 6 Mei 1968 ini mungkin sebagian besar masyarakat Mimika apalagi Papua umumnya tidak mengenalnya. Pria berusia setengah abad ini merupakan anggota TNI AD bertugas di Kodim 1710 Mimika.

Saat pertama kali bertemu Timika eXpress ia sement


Foto: Antonius Djuma/TimeX
Fauf Fuad

ara berada dalam pos di Jalan Poros SP 5. Pos ini dibangun persis di pintu masuk lokasi pembangunan Gelanggang Olahraga Futsal. Saat itu Rauf tanpa mengenakan seragam TNI lengkap seperti biasanya. Hanya celana loreng, bersepatu bot jeep karet hitam. Baju kaos hitam oblong sudah tua. Di kepalanya mengenakan topi proyek putih dan kacamata safety putih dipakaikan di atas kepala. Sepintas melihatnya ketika itu dikira buruh bangunan GOR Futsal.

Siapa sangka, pria perawakan berbadan ramping itu ternyata lahir dari keluarga veteran. Sang ayah bernama Ablatif Fuad seorang pejuang kemerdekaan 1945, dan ibunya Safiat Fuat.

Membuatnya bangga ayahnya bukan sekedar veteran biasa. Melainkan mantan pengawal Bung Karno Presiden RI saat diasingkan oleh Belanda di Boven Digoel.

Pakaian ayahnya yang dipakai selama bersama Bung Karno masih tersimpan rapi di rumah mereka di Fakfak. Selain peninggalan sejarah berupa seragam pengawal juga tugu Papera dibangun di tanah kelahirannya.

“Jadi saat ini ada sebagian orang perjuangkan Papua Merdeka sebenarnya ada pengaruh dari luar. NKRI ini sudah harga mati,” katanya.

Masyarakat Fakfak menurutnya sudah matang dan tanpa neko-neko bicara NKRI karena merasa ada utang budi terhadap negara ini.

“Kami sudah matang dengan wejangan-wejangan dari orangtua. Orangtua pesan, kami sudah berjuang sekarang tinggal kalian panen hasilnya,” tuturnya.

 Jabat Danpos 02

 Pria beranak empat ini kini dipercayakan dari pimpinan menjabat sebagai Danpos 02 Koramil Kuala Kencana dengan 20 anggota. Wilayah kerjanya mulai dari SP 5, SP 9 hingga Wagete. Sehari-hari ia menempati pos di pertigaan Jalan Poros SP 5  lokasi pembangunan Gelanggang Olahraga Futsal.

Rauf demikian biasa ia disapa masuk SD dan SMP YPPK Fakfak. Setamat SMP ia kemudian masuk SMEA Fakfak tetapi drop aut kelas II.

Berhenti dari SMEA ada pembukaan penerimaan TNI AD tahun 1985 ia pun mendaftar mencoba mengadu nasib di dunia militer. Rauf memang bernasib baik. Setelah mengikuti tes dan sejumlah persyaratan lainnya akhirnya lolos diterima menjadi anggota prajurit. Setahun kemudian pada 1986 ia mengikuti Sekolah Calon Bintara (Secaba) Ridam Kodam XVIII/Cenderawasih.

Rauf sudah 32 tahun mengabdi sebagai prajurit. Di usia mudanya memiliki skill bermain bola cukup diperhitungkan. Berbekal ketrampilan mengoceh bola

sejak lolos TNI ia dipilih menjadi tim inti dalam Pesatuan Sepakbola Angkatan Darat (Pesad). Bahkan atas prestasi gemilangnya Rauf bersama rekan-rekannya dikirim bermain di Bali dalam laga persahabatan dalam keluarga besar TNI.

Melihat potensi bermain mengoceh si kulit bundar cukup baik, tahun 1989 sang pelatih kembali mempercayainya mengikuti seleksi Persatuan Sepakbola Abri Angkatan Darat Pusat bersama Piter Karajo rekannya.

Tetapi niatnya pupus lantas kakinya mengalami cedera. Sehingga tinggal Piter Karajo lolos sampai bermain di Malaysia.

Selama menjadi prajurit ada pengalaman membuatnya belum lekang dari ingatan hingga saat ini. Ia menjalani penugasan pengamanan meninggalnya Thom Manggai, Rektor Universitas Cenderawasih (Uncen) pertama pada tahun 1994.

Ia mengisahkan Thom Manggai meninggal di Jakarta sesuai rencana jenazahnya diusung dari Bandara Sentani menuju kediamannya di Dok 9 Jayapura. Namun hal itu dibatalkan setelah melihat situasi tidak memungkinkan lantas berpotensi rusuh. Saat itu pula Kapolda  Papua berkoordinasi dengan Panglima sehingga mengambil keputusan perintahkan pasukan termasuk dirinya sekira pukul 19.00 WIT terjun pengamanan.

Setelah 11 tahun bertugas di Kodam tahun 1996 dirinya bersama 14 rekannya mendapat tugas dipindahkan menempati Kodim 1710 Mimika dengan pangkat Sersan Dua. Masa aktif menjadi prajurit tinggal tiga tahun lagi. 2021 mendatang sudah masuk masa pensiun.

“Saya orang pertama masuk di Kodim ini. Tertua saat itu Letnan Suroto, sudah pensiun. Sekarang HRD PT Petrosea.  Dulu daerah ini masih kosong, hutan, belum ada jalan. Tapi saya syukuri apa yang didapat ini semua. Inilah berkat dari Tuhan,” kenangnya saat ditemui Timika eXpress di Pos Penjagaan di Jalan Poros SP 5, Rabu (5/12).

Saat dirinya pindah di Kodim 1710 Mimika, daerah ini sudah pisah dari Kabupaten Fakfak, makanya dibentuklah Kodim maupun Polres Mimika di Mile 32. Termasuk waktu itu belum ada satuan lain cuman sebatas tugas pengaman saja.

 Menikah

Setelah berjalannya waktu sesuai aturan prajurit dengan pangkat Pratu senior ia melepaskan masa lajang. Ia mempersunting seorang gadis bernama Yasinta Kerom.

Wanita pujaan hatinya asal Merauke. Terjalin kisah cintanya itu bermula adanya pertandingan persahabatan. Yasinta Kerom pujaan hatinya mengikuti pertandingan voli utusan dari PNG.

“Saya pemain dari Pesad, istri saya pemain dari PNG. Kebetulan kak dari istri saya ini orang intel Kodam di Merauke,” tuturnya mengenang.

Setelah perkenalan dan merasa cocok keduanya putuskan menikah meskipun beda keyakinan. Istrinya seorang katolik sedangkan dirinya muslim. Perbedaan keyakinan ini baginya bukan menjadi suatu hambatan dalam membentuk bahtera rumah tangga. Dari perkawinan keduanya, Tuhan mengaruniakan empat anak. Satu putra dan tiga putri.

Atas kesepakatan anak laki-laki mengikuti keyakinannya dan tiga anak putri mengikuti ibunya. Dengan kehadiran empat buah hatinya itu ia merasa hidupnya lengkap sebagai seorang ayah.

Anak putri pertamanya kerja di Pemkab Asmat sudah meninggal, suaminya anggota polisi. Anak laki-laki tunggalnya kini anggota TNI AL tugas di Makassar, satu putrinya kerja di Freeport dan putri bungsunya kini masih sekolah di STM Kuala Kencana.

Bahkan ia merasa hidupnya begitu damai tanpa ada masalah walaupun menikah beda agama.

Membuatnya lebih bahagia di hari tuanya hadirnya kelima cucunya.

Rauf kini tinggal di Kampung Wangirja SP 9. Di tempat itu ia turut membantu membangun masjid dan bangun gereja.

Setiap hari raya natal meskipun seorang muslim terlibat membantu istrinya di gereja, dan menerima kunjungan tamu.

Sebaliknya pada hari raya lebaran tiba istrinya menyiapkan seluruh kebutuhan selama masa puasa hingga puncak perayaan.

“Ada orang bilang kenapa bisa begini. Tapi saya jelaskan, agama apapun tidak bisa selamatkan sesorang, hanya imannya yang bisa menyelamatkan manusia,” tuturnya.

Dengan penghayatan iman begitu dalam ini Rauf memandang menikah beda agama baginya bukan suatu masalah. Buktinya sejak ia menikah dilandasi cinta suci hingga sekarang bersama istri dan keempat anaknya hidup akor-akor saja. (antonius djuma)

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.