Orang Papua Stop Jual Tanah di 2019

Foto : Dok/TimeX

Mgr John Philip Saklil,Pr

 

“Ada dua masalah besar akan dihadapi masyarakat Mimika di tahun depan”

TIMIKA,TimeX

Uskup Keuskupan Timika, Mgr John Philip Saklil,Pr  meminta kepada seluruh orang Papua khususnya masyarakat Papua di Kabupaten Mimika untuk tidak lagi menjual tanah atau stop jual beli tanah pada tahun 2019 mendatang. Sebaliknya, orang Papua harus bisa hidup dari hasil olah tanah, bukan dari hasil jual tanah.

“Tanah adalah modal utama dalam pengembangan ekonomi dalam rangka meningkatkan kesejateraan keluarga. Tinggalkan kebiasaan jual tanah. Semua orang Papua harus hidup dari hasil olah tanah, bukan dari hasil jual tanah,”tutur Uskup Jhon.

Uskup John mengatakan, bahwa semua masyarakat harus belajar dari pengalaman di tahun 2018 ini supaya jangan terulang di tahun 2019. Bagaimana supaya dapat menjadikan segala kekayaan dan kemudahan itu menjadi berkat dalam kehidupan manusia lebih khusus masyarakat Papua diatas negerinya sendiri.

“Jangan sampai menjadi bencana, karena  kita tidak bisa tolak arus globalisasi. Tapi semua itu bisa dilindungi kalau kita punya pagar itu kuat. Kalau pagar halaman kita tidak kuat maka kita ikut tergusur,”tutur Uskup John.

Menurut Uskup Jhon, memasuki tahun 2019, masyarakat akan dihadapkan pada dua hal yakni  pertama adalah akan menghadapi Pilpres dan Pileg dan itu akan menggangu kehidupan masyarakat. Sebagai masyarakat Indonesia tentu harus bisa mensukseskan pesta demokrasi tetapi demokrasi yang layak dan bermartabat karena setiap kali ada Pilkada dan Pemilu selalu ada gesekan-gesekan antar pihak tertentu, terjadi many politik dan ada permusuhan yang tidak pernah selesai.

“Karena itu, semua masyarakat diharapkan mempersiapkan diri untuk mensukseskan pesta demokrasi tersebut, tetapi dengan layak dan bermartabat. Jangan sampai terjadi politik uang. Mari kita memilih orang yang berkualitas sesuai pilihan kita tanpa ada paksaan dan intevensi,” jelasnya.

Yang kedua kata Uskup Jhon, dengan pengambilan saham Freeport oleh Indonesia sebesar 51 persen ini juga diperkirakan akan menjadi masalah. Bagaimana orang menggunakan kemudahan-kemudahan itu untuk membangun dirinya dan membangun daerahnya serta membangun hidupnya.

“Karena selama kemudahan-kemudahan itu ada, maka akan menjadi bencana. Jadi bagaimana kemudahan yang kita terima itu bisa menjadi berkat. Di Timika ini dengan kemudahan datang dari pemerintah yang mempunyai APBD terbesar, kemudahan dari Freeport dan LPMAK tetapi kita harus jujur katakan bahwa semua itu tidak membawa perubahan. Sekarang kalau tambah lagi dengan saham Freeport ini jangan sampai ada bencana besar,”tuturnya.

Jadi, kata Uskup John, itu dua hal yang akan mempengaruhi di tahun 2019 dan itu berdampak di semua aspek baik di bidang pendidikan, politik, kemasyarakatan sampai di masa kebudayaan itu akan turut menghancurkan kehidupan masyarakat.

Katanya, gereja dalam hal ini mengajak semua masyarajat untuk fokus membangun hak-hak hidup yang layak dan bermartabat antara lain bahwa gereja menghimbau untuk masyarakat harus menghargai tanah karena dusun sebagai sumber hak hidup.

Uskup John meminta kepada masyarakat agar dapat menghargai dan bentuk penghargaan itu sampai pada tingkat melindungi dan mengelola dusun mereka jangan sampai dusun itu habis dalam arus perubahan jaman ini.

Karena, lanjutnya, dengan adanya perusahaan itu akan menggusur dusun menjadi tsunami dalam hidup masyarakat, jadi itu yang harus diperhatikan.

“Sekarang harus bagaimana kita melindungi tungku api saya diantaranya keluarga, dusun dan semua nilai-nilai leluhur. Kita juga harap pemerintah mempunyai opsi yang sama dengan regulasi itu. Kalau tidak, uang banyak, orang akan semakin banyak, masyarakat lokal itu tergusur dan tanah akan habis,”ujarnya.

Uskup Jhon menambahkan, banyak kemudahan dengan segala macam, pembangunan infrastruktur yang begitu cepat, kemudahan dalam seluruh perhatian, biaya itu sampai hari ini hanya menghasilkan konflik dan pembunuhan yang terjadi mewarnai Papua ini.

“Marilah di tahun 2018 ini kita belajar dari apa yang sudah terjadi dan di tahun 2019 mendatang kita memulai hidup yang baru yang lebih baik lagi dan ada perubahan untuk masyarakat Papua khususnya masyarakat Papua di Kabupaten Mimika ini,”ungkapnya. (san)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.